PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
76. Rasanya Nyep Nyep


__ADS_3

Yassalam… dari arah belakang, tubuh pria itu sangat mirip dengan tubuh Zaki, bahkan kemeja yang dia kenakan warnanya juga mirip. Lalu sekarang Cyra harus bagaimana? Lari gibrit meninggalkan meja itu? Atau… Tuhan, tolong beri Cyra pilihan. Muka Cyra sekarang pasti sudah bertambah memerah.


Cyra tertegun menatap kumis tebal di atas bibir pria yang menurut prediksinya berusia sekitar empat puluh lima tahun itu.


Pria itu mengelap sekeliling mulut dengan tisu, kumisnya juga kebagian kena lap. “Siapa kau? Kok, sok kenal sama saya? Urusan saya di kafe ini sudah selesai, kalau kau mau minta foto bareng atau minta tanda tangan, lain kali saja.” Pria itu berkemas hendak pergi.


Weh? Minta foto bareng? Dan apa tadi? Minta tanda tangan? Astaga, dikira Cyra penggemar pria tua itu? Memangnya pria itu siapa? Selebritiskah? Dari pada ditinggal dan seakan-akan Cyra memang benar dikira sebagai penggemar, Cyra buru-buru bangkit berdiri sebleum pria itu lebih dulu bangkit.


“Maaf, salah orang.” Cyra ngibrit meninggalkan meja dengan muka memanas, antara malu dan salah tingkah.


Ia melongo menatap Zaki yang ternyata duduk di meja tak jauh dari pria berkumis. Zaki mengangkat alis dengan tatapan seperti sedang mengejek.


Astaga, dari ekspresi wajah Zaki, Cyra yakin pria itu melihat kejadian barusan. Cyra tambah malu dipergoki pacar salah orang sampai main cubit pinggang segala. Iya, Cyra tadi mencubit pinggang pria tua yang Pe De-nya selangit itu. Disaat begini, Cyra beneran ingin menutup muka dengan apa saja. Kain lap juga boleh.


Cyra langsung duduk di sisi Zaki. Mukanya jelas masih memerah, rasanya panas seperti terbakar.

__ADS_1


“Tangan itu harus dijaga, jangan main towel-towel seenaknya.” Zaki melirik muka Cyra yang merona merah. “Sekarang kamu lebih suka Om-om ya dari pada yang muda kayak aku?”


“Zaki, udah dong jangan dibahas.” Cyra menunduk.


“Buktinya tadi pinggang Om-om itu ditowel-towel.” Zaki menatap Cyra dengan pandangan meledek.


Cyra menatap Zaki cemberut. Bisa-bisanya Zaki meledeknya habis-habisan. Nggak tau Cyra kebingungan menyembunyikan mukanya yang malu itu apa?


“Makanya, lain kali ngeliat orang tuh yang bener,” imbuh Zaki masih meledek.


“Aku kira om-om itu tadi itu kamu. Abisnya dari belakang body-nya mirip banget.”


“Zaki, aku pulang nih kalau terus-terusan diejekin kayak gini.”


Tawa Zaki sontak terhenti. “Mulai ngambek.” Zaki menyentil pipi putih Cyra. “aku suka ngeliat kamu pas lagi ngambek, imut banget kayak marmut.”

__ADS_1


“Nah tuh, mulai lagi. Masak aku dikatain kayak marmut?”


“Oke, kita bahas yang lain aja. Kamu mau makan apa?”


“Apa aja, terserah aja, deh.”


“Aku aja yang pesen ya?” tanya Zaki masih senyam-senyum.


Cyra mengangguk. Zaki memanggil pelayan dan memesan makanan lengkap dengan minumannya.


“Zaki!” panggil Cyra lirih, rasa malu yang tadi belum hilang.


“Ya, kenapa, sayang?” Zaki mendekatkan wajahnya ke wajah Cyra, menempelkan bahunya ke bahu gadis itu.


Ugh, Zaki! Ya ampun, Cyra meleleh bang. Bisa nggak sih kondisi tetap begini sampai sepuluh menit ke depan? Nyep nyep rasanya. Zaki b isa banget bikin cewek melambung. Mendengar Zaki memanggil sayang, hati Cyra rasanya terbang entah kemana. Jadi begini rasanya orang sedang kasmaran? Bawannya seneng mulu.

__ADS_1


**TBC


KLIK LIKE YA**


__ADS_2