PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
110. Trauma


__ADS_3

“Hanya manusia biadab yang berani melakukan hal serendah tadi pada gadis yang tidak sadarkan diri,” geram Zaki dengan suara yang lebih seperti erangan akibat menahan emosi. Bagaimana tidak? Melihat gadisnya hampir dilecehkan, hatinya ngilu, darahnya mendidih, dan api dalam tubuhnya seakan menyambar-nyambar.


Cengkeraman tangan Zaki di kerah baju Alfa semakin erat, tatapannya menajam, urat rahangnya menegang, dan nafasnya terdengar keras mengisi kesunyian.


“Apa hak Anda melakukan ini padaku? Apa Anda sudah merasa memiliki Cyra sepenuhnya?” balas Alfa dengan sorot mata tak kalah tajam.


“Kalaupun bukan Cyra yang kau lecehkan, aku akan tetap memukulmu. Ini sama sekali nggak pantas kau lakukan pada siapapun. Paham?” gertak Zaki dengan suara keras hingga membuat wajahnya memerah.


“Bapak telah melewati batas.”


“Kaulah yang melewati batasanmu!”


“Tapi saya melakukan ini karena saya mencintai Cyra.”

__ADS_1


“Apa Cyra mencintaimu?”


Pertanyaan itu membuat Alfa terdiam, hanya menatap Zaki dengan sorot membunuh.


Zaki menarik kerah baju Alfa dan menyeretnya keluar kamar, mendorong tubuh itu hingga tersungkur di lantai.


Alfa mengelap darah yang mengalir di sudut bibirnya dengan ujung lengan baju. Kemudian berdiri dan melangkah menuruni anak tangga dengan ekspresi merah padam.


Tanpa menatap Bik Mey, Alfa ngeloyor pergi, membuat Bik Mey terbengong menatap punggung alfa hingga hilang di balik pintu. Kemudian pandangan Bik Mey tertuju ke atas, menatap Zaki yang masih berdiri di balkon lantai dua dengan ekspresi marah.


Zaki balik badan lalu kembali masuk ke kamar Cyra untuk memastikan keadaan gadis itu. Ia terperangah menatap kedua tangan Cyra yang bergerak-gerak di dalam selimut. Gadis itu sedang kebingungan untuk keluar dari selimut yang menutup perut hingga kepalanya. Ia menjerit-jerit seperti ketakutan.


Astaga, jadi tadi Zaki salah lempar? Efek terburu-buru melempar selimut, jadinya salah sasaran. Niat Zaki hendak menutupi tubuh Cyra yang terekspos, eh selimut yang ia lempar malah menutup muka Cyra.

__ADS_1


“Tolooong! Tolooong!” pekik Cyra di dalam selimut. Gara-gara merasa ketakutan, sampai-sampai hanya untuk mendorong selimut dari wajahnya pun Cyra kebingungan.


Zaki langsung menarik selimut dan melemparnya ke sisi ranjang demi menyelamatkan rasa takut Cyra.


Saat dalam keadaan tak sadarkan diri tadi, Cyra merasa sesak nafas akibat selimut tebal yang menyumbat lubang hidungnya, hingga akhirnya ia terbangun. Efek bius tidak begitu parah buktinya ia bisa melek setelah hidungnya terasa disumbat dan kesulitan bernafas. Ia juga trauma saat membuka mata dan melihat pemandangannya gelap. Sebab begitu mata terbuka, ingatannya langsung tertuju pada kejadian terakhir yang menimpanya. Sesaat setelah Zaki menarik selimut dan membuat pandangannya menjadi terang, ia langsung memeluk Zaki erat-erat. Tangisnya pecah di dada bidang pria itu.


Zaki menghela nafas. Ia ingin melepas lingkaran tangan mungil Cyra yang mendekap tubuhnya karena ia sadar kini Cyra sedang dalam penampilan yang tidak pantas. Namun ia tak tega melihat Cyra yang menangis histeris akibat trauma. Cyra butuh tempat sandaran. Akhirnya Zaki mengangkat kedua lengnnya dan membalas pelukan Cyra.


Tangisan Cyra semakin menjadi-jadi saat merasakan pelukan hangat Zaki. Apa itu yang dinamakan baper? Atau Cyra memang sedang membutuhkan sandaran untuk menyingkirkan rasa takut yang bersarang dibenaknya?


TBC


KLIK LIKE YAP

__ADS_1


__ADS_2