
Zaki konsentrasi menyetir mobil. Cyra duduk tenang di sisinya. Alunan musik slow mengisi kesunyian mobil.
Sesekali bola mata Cyra melirik muka Zaki yang hanya kelihatan pipi kirinya saja. Setiap kali menatap wajah Zaki, jantung Cyra rasanya berdebar-debar. Dag dig dug tak menentu. Nggak salah kalau Zaki menjadi idola anak-anak kampus, walau pun para cewek sudah tahu kalau Zaki memiliki hubungan spesial dengan Cyra, tetap saja mereka berharap mendapat perhatian lebih dari sang dosen. Wajar, Zaki kelewat cakep, sih.
Aroma wangi tubuh Zaki menguar mengalahkan stela yang dipasang sebagai pewangi mobil. Ini nih salah satu hal yang membuat Cyra menyukai Zaki, selalu wangi dan tampil rapi.
“Zaki, kamu mau bawa aku kemana?” tanya Cyra, kali ini ia tidak menatap wajah Zaki. Pandangannya lurus ke depan, pada jalan poros yang diterangi lampu-lampu jalanan.
“Udah hampir berjam-jam kita tadi sibuk ngurusin skripsimu, sekarang saatnya kita have fun. Biar pikiran rada tenang.”
“Ke mana?”
“Ke bioskop.”
“Yaaah… Judulnya have fun, kirain mau kemana gitu. Rupanya Cuma mau nonton.”
“Ini rasanya akan lebih dari sekedar have fun, kita ke bioskop tempat di mana momen spesial pernah tercipta di sana.”
“Heh?” Cyra membelalak kaget. Ingatan tentang kejadian di bioskop saat pertama kali ia bertemu Zaki pun terkilas balik, persis seperti rekaman yang diputar ulang di kepalanya. Mendadak muka Cyra langsung memanas. Tangannya meremas ujung roknya.
“Jangan ke sana, dong!” Cyra membuang muka ke arah jendela.
__ADS_1
“Kenapa?”
“Ya nggak kenapa-napa.”
“Ya udah, kalu nggak pa-pa, kita ke sana aja.”
Cyra mendengus. Zaki nggak ngerti apa ya kalau saat ini ia merasa sangat malu. Tempat itu pasti mengingatkannya pada keberaniannya yang main sosor pada Zaki. Dan Zaki tentu saja merasakan hal yang sama. Haduuuh… Zaki sengaja mengenang momen itu.
“Emangnya ada film apa malam ini?” Cyra mengotak-atik tas selempangan yang menggantung di bahu kirinya.
“Fil yang dulu batal aku tonton, sekarang tayang lagi.”
Zaki tidak lagi membalas. Tak lama kemudian mereka sampai di bioskop. Cyra mengikuti Zaki memasuki gedung bioskop.
Setelah membeli tiket, Zaki melenggang memasuki ruangan diikuti oleh Cyra. Mereka duduk di bangku tengah, melewati penonton lainnya yang sudah duluan duduk di sana. Penontonnya lumayan banyak. Kursi hampir penuh. Setiap kali film kesayangan Zaki tayang, penonton di bioskop selalu membanjir.
“Sini!” Zaki menarik pergelangan tangan Cyra untuk duduk di sisinya. Tubuh gadis itu terhempas duduk di sisi Zaki.
Perlakuan Zaki membuat hati Cyra jadi berbunga-bunga, seperti ada lope lope beterbangan di dadanya.
“Makan, nih!” Zaki menyodorkan popcorn.
__ADS_1
“Kok, Cuma satu bungkus?” Cyra mengangkat alis.
“Segala sesuatu itu yang paling enak emang satu untuk berdua atau dua jadi satu.”
Satu untuk berdua mah Cyra paham, tapi kalau dua jadi satu? Apa maksudnya?
“Dua jadi satu?” Cyra tidak mengerti maksud ucapan Zaki.
“Dua hati jadi satu, dua insan jadi satu cinta, dua bibir jadi satu, dua itu jadi satu.”
Cyra membelalak. “Itu? Itu apa maksudnya? Zaki, kamu jangan ngeres, deh.” Muka Cyra sontak memanas. Zaki mulai error. Hadeeeh…
Zaki tergelak sembari menyenggol paha Cyra dengan pahanya. Cyra tidak mau menanggapi, ia mencomot popcorn banyak-banyak lalu menyumpalkannya ke mulut.
“Makanya cepetan selesein skripsimu, biar cepet halal dan kamu tahu apa maksud ucapanku.”
“Liat ke depan aja, filmnya udah mulai dari tadi.”
Zaki menyenderkan kepala di sandaran kursi. Dalam posisi setengah duduk, ia mengunyah popcorn sambil asik menonton.
TBC
__ADS_1