PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
68. Memaafkan


__ADS_3

Cengekraman tangan Zaki di leher baju Faiz melonggar. Ekspresi bengisnya juga berangsur memudar. Baginya, penjelasan Faiz cukup membuatnya mengenal bahwa mantan mahasiswanya itu memiliki jiwa besar, berani mengakui kesalahannya dan minta maaf. Bahkan kata-kata yang Faiz ungkapkan membuat Zaki sadar kalau penilaiannya tadi salah. Cermin jiwa berpendidikan itu ada dalam diri Faiz. Ini menunjukkan bahwa penampilan bukanlah kenyataan. Meski kelihatan semerawutan dan temprtamental, tapi masih ada sisi lain dalam diri Faiz yang patut diakui, jiwa besar.


“Jujur saya sangat marah dan terpukul setelah saya dikeluarin dari kampus. Efeknya, saya lampiaskan ke Bapak. Saya minta maaf, Pak.” Faiz menatap Zaki dengan tatapan penuh penyesalan.


Zaki tertegun menatap mata pria muda di hadapannya itu. Wajah Faiz bahkan jauh berbeda dari Faiz yang terakhir kali ia lihat di kampus. Tak ada lagi kemarahan, tak ada lagi dendam, tak ada lagi sorot membunuh. Yang ada hanyalah penyesalan.


“Saya memang terlambat mengakui semua ini. Karena saya mengungkapkannya setelah melakukan aksi kekerasan kepada Bapak,” lanjut Faiz.


Zaki tak habis pikir, bagaimana mungkin Faiz bisa secepat itu berubah? Ia memahami darah muda dalam diri Faiz yang tentu mudah terbakar saat emosi, tapi kenapa emosinya yang dulu penuh dendam lenyap dalam seketika waktu? Apakah benar Faiz sadar dengan sendirinya? Benarkah begitu?


“Penyesalanmu nggak beralasan. Apakah kamu takut ancamanku yang ingin membuatmu masuk tahanan sehingga kamu mengakui kesalahanmu?” Zaki mulai menginterogasi meski hatinya mulai bersahabat.


“Saya punya pacar, pak. Dan saya menceritakan semua kejadian yang saya alami kepadanya. Bahkan soal pengeroyokan itu. Pacar sayalah yang menasihati saya dan member pengertian ke saya, kalau aksi kekerasan yang saya lakukan ke Bapak, sama sekali tidak membuahkan hasil apa-apa untuk saya. Hanya kepuasan yang saya dapatkan namun tidak menghasilkan perubahan apapun.” Faiz mengulang kalimatnya, yang tentu saja merupakan jiplakan dari sang pacar.

__ADS_1


Zaki masih menatap mata Faiz. Ia tidak lagi menemukan api kemarahan di mata itu. Well, Zaki yakin Faiz berkata jujur.


“Tunggu dulu, kamu bilang tadi bukan kamu yang melaporkan video itu kepada dekan, apa itu benar?” Zaki menelisik ucapan Faiz tadi.


“Benar, pak. Bukan saya yang ngelaporin. Saya bahkan nggak punya video itu. Saya hanya menggertak aja waktu itu.”


Zaki mengernyit bingung, antara percaya dan tidak. Jika benar bukan Faiz pelakunya, lantas siapa yang melakukannya? Zaki hanya memeiliki masalah dengan Faiz. Untuk masalah yang satu itu, Zaki masih mempertimbangkan kebenaran ucapan Faiz.


“Kau menyesal?”


“Sangat menyesal. Terlebih saya harus kehilangan pacar saya setelah insiden pengeroyokan itu. Pacar saya mutusin saya karena menganggap saya pria temperamental yang tidak layak untuknya.”


“Good! Aku salut padamu yang akhirnya menyadari kesalahan.” Zaki menepuk pundak Faiz.

__ADS_1


“Bapak maafin syaa, kan?”


Zaki mengangguk. Sekali lagi ia menepuk pundak Faiz dan menarik sedikit sudut bibirnya. “Segala perubahan yang baik, pasti akan membawa kebaikan pula.”


“Makasih, Pak.”


Lagi, Zaki mengangguk. Kemudian ia melenggang pergi. Pengakuan Faiz, permintaan maafnya, serta sikapnya yang menunjukkan perubahan, membuat Zaki merasa tidak perlu melakukan apapun. Ia cukup puas dengan pengakuan Faiz.


***


**TBC


masih nunggu kan**?

__ADS_1


__ADS_2