
“Pagi, Pak Zaki! Hampir dua minggu cuti keliatan makin cakep aja,” celetuk Bu Santi dengan senyum lebar. Ia menghampiri Zaki dan nyender di dinding dekat pintu ruangan itu. “Di sosial media kemarin saya lihat Bapak gendong anak. Kok, udah gede aja anak Pak Zaki sama Cyra? Itu anak beneran, kan?”
Yah, nih lambe nanyanya nyerocos mulu, ya jelas anak beneranlah masak anak boneka.
“Kami mengambil anak angkat,” jawab Zaki kemudian menekan handle pintu dan memasuki ruangan.
Tanpa diminta, Bu Santi mengikuti Zaki masuk ruangan. “Wajar sih mengambil anak angkat, udah lama kalian nikah ya kan?”
Zaki duduk di kursinya, meletakkan buku-bukunya. Kemudian mulai membuka laptop.
“Kata orang mengambil anak untuk diasuh itu bisa jadi pancingan supaya bisa mendapatkan anak. Apa sudah lama Bapak mengambil anak itu?” tanya Bu Santi sambil duduk di kursi depan Zaki.
“Belum.” Pandangan Zaki fokus ke layar laptopnya yang menyala.
__ADS_1
“Jika sudah bertahun-tahun Bapak mengambil anak tapi istri Bapak belum juga hamil, artinya Bapak harus mencari alternatif lain. Apa lagi saya dengar Bapak kan anak semata wayang. Tentu Bapak sangat menginginkan keturunan bukan? Jangan sampai garis keturunan Bapak putus di Bapak. Kedua orang tua Bapak pasti juga sangat ingin mendengar suara tangis bayi.”
Astaga, ini lambe semakin belepotan kemana-mana. Dengan entengnya membahas urusan rumah tangga orang lain.
“Alternatif lain yang saya maksud adalah memiliki istri lagi,” lanjut Bu Santi sambil tersenyum skeptis.
Zaki mengetik dengan gerakan jari-jari yang sangat cekatan tanpa memeprdulikan ucapan Bu Santi. Sesekali ia membuka-buka kertas ulangan anak didiknya.
“Kan banyak tuh laki-laki yang memiliki istri dua atau bahakn tiga,” lanjut Bu Santi berapi-api. “Bahkan bukan hanya dari kalangan pria biasa, yang dari kalangan para ustad pun pada punya istri lebih dari satu. Malahan kalau saya perhatikan, kebanyakan dari kalangan para ustad dan kiyai pemilik pondok pesantren pada punya istri lebih dari satu. Ini membuktikan bahwa laki-laki diperbolehkan untuk berpoligami. Apa lagi untuk tujuan yang bermanfaat, yaitu ingin memiliki keturunan. Sah-sah saja bukan?”
“Apa Bapak mau saya rekomendasikan seorang gadis untuk Bapak kenali lebih dekat? Siapa tahu Bapak cocok dan merasa nyaman dengannya, tentu Bapak bisa pertimbangkan nantinya.”
Zaki bangkit berdiri sembari membawa selembar kertas dan berjalan menuju kea rah pintu.
__ADS_1
“Pak Zaki!” panggil Bu Santi membuat langkah kaki Zaki berhenti dan ia menoleh.
“Ya, Bu Santi? Ada apa?”
“Kok, saya dicuekin? Jadi bagaimana dengan tawaran saya tadi?” Bu Santi mendekati Zaki dan berdiri di hadapan pria tampan itu.
“Ooh.. Ibu tadi lagi ngomong, ya? Ibu bicara soal apa?”
Nah, melongo ya melongo deh tuh mulut Bu Santi. Habisnya merepet muu dari tadi, udah kayak knalpot rusak aja. Ya ampun.
Bu Santi menelan saliva dengan sulit, sudah berbuih mulutnya bicara panjang lebar, dan Zaki seakan tidak mendengar apapun yang dia katakan. Astaga. Tubuh Bu Santi mendadak lemas.
“Pak Zaki, ini kalau saya pingsan boleh nggak? Aduduh kepala saya langsung pusing ini jadinya.” Bu Santi memutar kepalanya dengan gaya seakan-akan terhuyung kesana kemari. Sikap cuek Zaki benar-benar telah membuat kepalanya pusing. Hadooh… ada sepuluh orang saja kayak Zaki di kampus itu, bisa gempor bibirnya gara-gara harus ngoceh berkali-kali.
__ADS_1
“Boleh boleh, silahkan pingsan saja. Ruangan saya cukup luas untuk Ibu berbaring PW. Saya mau ke ruangan dekan dulu.” Zaki melenggang ke luar sembari melirik Bu Santi dengan senyum tipis.
TBC