
Zaki melangkah menaiki anak tangga dengan langkah hati-hati. Sesampainya di lantai dua, pandangan mata Zaki bertumpu pada wajah Cyra yang terpejam menggemaskan. Ia tersenyum menatap mulut yang sedikit terbuka, polos sekali gadis itu saat dalam keadaan tertidur.
Naas, Zaki kurang tinggi mengangkat kaki hingga akhirnya malah ujung kakinya tersandung lantai. Tubuh Zaki seperti melayang di udara dan terhuyung ke depan. Sebisa mungkin Zaki memeluk erat tubuh dalam gendongannya supaya tidak terjatuh.
Duk!
Sial! Cyra memang tidak terjatuh ke lantai, namun pucuk kepalanya menjadi korban, kejeduk pintu kamar. kaki Zaki kini dalam posisi sedikit tertekuk demi menahan supaya tubuh Cyra tidak terbanting.
“Aw!” Cyra merintih dan kelopak matanya sontak terbuka lebar meski matanya memerah. Tangan kanannya mengusap kepala yang terantuk dengan hidung mengkerut. “Zaki, apaan sih? Kok palaku dijedotin ke pintu?” protesnya merengut.
Cup!
Bukannya menjawab, Zaki malah mencium pipi Cyra.
“Zaki! Sakit nih palaku.” Cyra menempelkan telapak tangannya ke bibir Zaki saat pria itu hendak mendaratkan kecupan untuk kedua kalinya.
“Turunin!” rengek Cyra.
“Nggak bilang makasih gitu? Aku loh yang udah angkat badan beratmu ke sini. Kamu tadi ketiduran di mobil. Untung nggak kubuang di jalanan,” ketus Zaki kemudian melepas tubuh Cyra begitu saja.
Untung saja Cyra bisa cepat mendaratkan kakinya ke lantai dan menyeimbangkan tubuhnya supaya tidak terjatuh. Zaki melepaskan tubuhnya sembarangan. Untung saja Cyra gesit.
“Ya udah aku pulang.” Zaki balik badan.
__ADS_1
“Makasih ya!”
“Ayo turun ke bawah,” ketus Zaki tanpa menoleh.
“Ngapain? Kamu udah capek-capek gendong aku ke sini, kok disuruh ke bawah?” Cyra menatap Zaki yang sudah berada di tengah-tengah anak tangga.
“Mau nggak?” ketus Zaki lagi.
“Mau ngapa?”
“Ijab qobul.”
Cyra membelalak. Zaki kalau lagi sewot ngejawab pun suka nyeleneh. Cyra akhirnya berlari menyusul Zaki. Dari pada kekesalan Zaki makin menjadi, mendingan Cyra menuruti kemauan cowok itu.
Sesampainya di luar, Zaki membuka pintu mobil yang bertengger di pekarangan rumah. Ia membungkukkan tubuh dan mengambil sesuatu di dalam mobil.
Zaki mengeluarkan sekantong plastik. “Bawa ini, makanlah!” Pria itu menyerahkan kantong plastik kepada Cyra.
“Buatku?”
“Buat nenekmu. Ya buatmulah, Cyra. Itu ada dua ikan bakar. Buat mamamu juga.”
“Ooh... Makasih.” Cyra tersenyum lebar.
__ADS_1
“Ya udah, aku pulang.” Zaki masuk ke mobil dengan muka datarnya.
Cyra membungkukkan badan supaya pandangannya sejajar dengan Zaki yang sudah duduk di bagian kemudi.
“Dadaaah... Jangan lupa mimpiin aku, ya!” Cyra nyengir.
Zaki menoleh sekilas. “Biasanya aku suka mimpi kuntilanak kalau pas lagi eneg gini.”
Cyra mengerucutkan bibir.
Sudut bibir Zaki sedikit tertarik menatap ekspresi Cyra yang menggemaskan. Kemudian ia mengegas mobil keluar pekarangan rumah Cyra.
Cyra mengamati mobil Zaki hingga hilang memasuki garasi mobil rumah pria itu. Kemudian ia membuka isi plastik, mencium aroma sedap yang menguar dari dalam plastik.
“Hmmm... Nyami. Kebetulan perut pas lagi laper-lapernya. Thank’s calon suami.” Cyra bergumam kemudian berlari masuk ke dalam rumah.
***
TBC
Nggak bosen kuingetin, dukung cerita ini dengan klik detil cerita PACARKU DOSEN. Lalu klik gambar warna kuning kemerahan bertuliskan Happy New Years, lalu berikan ucapan selamat tahun baru di kolom yang disediakan.
Ingat, ngucapin selamat tahun barunya bukan di kolom komentar cerita ini, yah. Tapi di gambar itu. Makasih yang udah pada ngucapin.
__ADS_1
Orang yang membaca PACARKU DOSEN tuh ratusan ribu tapi yang ngasih ucapan Cuma dua ratusan doang, sedih aku tuh.
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭