PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
6. Mahasiswi Afkir


__ADS_3

Zaki berdiri di depan sembari menatap setiap mahasiswa mahasiswi yang memperkenalkan diri.


Dag dig dug.


Jantung, masih aman kan di tempatnya? Cyra memegangi dadanya. Entah kenapa jantung Cyra serasa menggedor-gedor sangat kuat. Kok, mendadak gugup? Cyra berusaha menguasai diri dengan menarik nafas dalam-dalam. Mudah-mudahan Zaki tidak memperpanjang urusan dengan membuat runyam di bagian sesi perkenalan yang Cyra lakukan.


“Waduuh… nggak nyangka banget ternyata gue mesti punya dosen yang udah habis-habisan gue kerjain,” bisik Cyra pada Rere. Ia sengaja meletakkan buku ke depan wajahnya supaya sang dosen tidak melihatnya yang kini sedang mengadu nasib pada sahabatnya.


“Lo sih…” Hanya itu yang Rere katakan.


“Itu dosen sinting kali ya pake acara pekenalan segala. Aneh!”


Cyra terkejut saat buku di tangannya melayang dan dihentakkan ke meja depannya. Pelakunya Zaki.


Ups, mampus! Cyra makin deg-degan. Saking asik berbisik pada Rere, sampai tidak sadar Zaki sudah ada di hadapannya. Entah kapan pria itu melangkah dan mendekat ke arahnya.


Zaki sungguh memiliki power. Model, gaya, dan sikapnya nyang tegas menunjukkan kewibawaan yang membuat anak didiknya patuh tanpa sadar. Terbukti Cyra yang biasanya pemberani saja bisa lumpuh dibuatnya. Status dosen yang disandang Zaki membuat nyali Cyra tahu diri.


“Ya? Dosen sinting?” Zaki menaikkan alis, masih dengan sorot mata horor. “Sebutkan namamu!” Nada suara Zaki kali ini terkesan membentak.


Seisi ruangan sampai deg-degan karena kaget.


Cyra bangit berdiri seperti yang lain saat memperkenalkan diri dalam posisi berdiri. Tapi sial…


Gludak!

__ADS_1


Pletak!


Ting!


Itu bukan bunyi musik, melainkan benda-benda di sekitaran Cyra yang jadi berantakan seiring dengan tubuh Cyra yang tergagap saat bangkit berdiri. Ya, pahanya menyenggol meja hingga meja sedikit terangkat dan barang-barang di aatsnya pun jatuh berserakan ke lantai, termasuk pena, buku dan parfum.


Cyra nyengir lebar, antara malu dan salah tingkah. Lagi-lagi ia harus mempertaruhkan reputasinya sebagai mahaiswi populer di kampus dengan kegilaan yang baru saja ia buat sendiri.


Seisi kelas tertawa melihat tingkah Cyra yang seperti gugup dan salah tingkah.


Zaki berjalan dengan tenang mendekati meja Cyra. Sorot matanya masih sama seperti saat pertama kali Cyra melihatnya, tajam menusuk.


“Saya menyuruhmu memperkenalkan diri, bukan membuat gaduh, paham!” Zaki menyeletuk dengan intonasi nada tegas dan penuh penekanan, membuat Cyra semakin yakin kalau ia akan terpojok dengan situasi ini. Zaki bahkan mengetukkan pena di tangannya ke meja Cyra sangat kuat. Ketukan itu berhasil membuat nyali Cyra jadi menciut.


Kemana Cyra yang selama ini penuh percaya diri dan tidak kenal takut? Mendadak jadi pendiam begini. Semua terjadi karena sederet kejadian yang ia alami terhadap Zaki dan kini tiba-tiba pria itu menjadi dosennya.


“Kau model kampus bukan? Dan kau memiliki banyak peran di kampus ini bukan? Apa begini reputasi mahasiswi terpilih? Saya sama sekali tidak melihat kelebihan dalam dirimu.” Zaki balik badan kembali menuju depan, gerakan kakinya menendang parfum di lantai hingga membuat benda itu menggelinding jauh.


Sialan! Pasti sengaja! Desis Cyra dalam hati. Itu parfum gue woi. Mahal lagi. Seenaknya main tendang aja.


Sesi perkenalan kembali berlanjut setelah Cyra.


Setelah selesai, Zaki kembali ke depan dan memulai kelas. Cara pria itu memaparkan materi sangat menyenangkan. Mudah dipahami dan tidak bertele-tele. Fix, Zaki menjadi idola kampus hanya dalam waktu beberapa jam.


Tanpa berbasa-basi, Zaki membuat tugas perencanaan. Tugas tersebut harus dikerjakan secara kelompok. Anehnya, hanya Cyra yang disuruh mengerjakan tugas perorangan, tanpa kelompok.

__ADS_1


Fix, Cyra menjadi mahasiswi afkir yang dianak tirikan. Tapi mau bagaimana lagi. Di kampus, dosenlah yang memiliki kuasa. Mau macem-macem, siap-siap saja nilainya anjlok. Duuh.


Di semester ini, Zaki memberi dua tugas perencanaan, yang mana tugas tersebut termasuk tugas laboratorium. Tiap-tiap tugas harus diasistensikan setiap minggunya dengan dosen sesuai jadwal yang ditentukan.


Parahnya, Cyra mendapat tugas paling menyedihkan. Tugas SPAS (Sistem pembuangan saluran air). Eh, jangan salah. Ini yang dimaksud air bukan sekedar air biasa, air keran atau air pipa. Tapi air closed. Noh, parah banget tugas yang satu ini. Setelah semua teman-teman Cyra mendapat tugas menarik dan tempat penelitiannya adalah tempat-tempat enjoy, giliran Cyra mesti mengobok-obok WC. Nggak lucu! Dendam banget nih dosen.


Oh…


Dosen baru tapi sangat antusias dan bersemangat.


Dengan banyaknya tugas yang harus diselesaikan tiap minggunya, belum lagi kalau ketambahan tugas take home, maka inilah saatnya untuk bilang tiada hari tanpa mengerjakan tugas kuliah.


Inilah salah satu alasan yang membuat anak-anak kampus pada ngejomblo. Tugas setiap minggunya menggunung. Tidak ada waktu untuk mikirin nyari pasangan. Boro-boro nyari pasangan, malam minggu pun digunakan untuk mengerjakan tugas. Untung Cyra cantik, jadi tidak perlu sangsi akan kekurangan stok pria. Di usianya saat lulus kuliah nanti, pasti masih ada yang mau melamarnya.


***


Cyra sedang sibuk memelototi ‘mbah google’ untuk mencari-cari tahu tentang ukuran lubang pipa closed, alias jaman dulu sering disebut jamban. Untuk apa mengamati lubang wc kalau jaman sekarang sudah bisa melihat dunia melalui ponsel. Cyra mengerjakan tugas dengan serius. Melalui tugas yang dikerjakan dengan beres, ia berharap bisa mencuri perhatian Pak Dosen yang siapa tahu akan berubah manis terhadapnya jika ia menunjukan dedikasi yang baik.


Disaat Cyra sedang sibuk-sibuknya mengerjakan tugas, Zaki tengah sibuk pindahan. Pria itu mengusung kopernya menuju rumah baru miliknya. Tak lain rumah yang terletak tepat berhadapan dengan rumah Cyra.


Jelas saja, Zaki bakalan sering melihat muka tengil Cyra. Rumah mereka sekarang berhadapan.


“Kamu mau pilih kamar yang mana?” tanya Alya, mamanya Zaki sembari melihat-lihat ruangan luas yang ini sudah menjadi miliknya.


“Aku di lantai dua. Udah aku cek. Kamarnya bagus,” jawab Zaki sembari menarik koper ke lantai dua. Seluruh ruangan sudah dibersihkan oleh asisten rumah tangga. Proses membersihkan rumah tidak membutuhkan waktu lama karena rumah itu belum lama ditinggalkan oleh pemiliknya, jadi debunya tidak begitu tebal.

__ADS_1


Zaki menuju ke balkon, menikmati udara segar. Kedua tangannya memegangi pagar balkon. Setelah melewati masa menyebalkan sebelum memiliki rumah baru, kini akhirnya ia bisa bernafas tenang di rumah baru itu.


Di kosan, jelas saja kepalanya pening terus. Suasana kosan yang selalu ramai, dan tidur bersama teman yang mengorok, tentu saja membuatnya jadi susah tidur. Untung saja proses akad jual beli rumah cepat kelar, jadi tidak perlu menunggu waktu lama untuk bisa bernafas lega.


__ADS_2