
Cyra membanting tubuhnya ke kasur. Rasa lelah membuatnya ingin melepas penat dengan memanjakan tubuh di kasur empuk. Aroma alas kasur menghadirkan sensasi nyaman dalam pikirannya.
Cyra meraba isi tas yang tergeletak di sisi ranjang saat mendengar ponselnya bordering. Tanpa melihat si penelepon, Cyra langsung menjawab telepon dan menmepelkan benda canggih itu ke telinga.
“Siang, sayang!”
Heh? Sayang? Cyra membelalak. Ia langsung tahu siapa yang memanggilnya itu, suaranya sangat familier dan tentu saja Cyra tidak akan salah tebak. Siapa lagi kalau bukan Zaki.
Panggilan sayang baru kali pertama Cyra dengar dari Zaki. Ya ampun, rasanya memabukkan. Jantung berdebar-debar, hati berbunga-bunga, hidung kembang kempis, dan kaki kelojotan nendang-nendang kasur. Sampai tak sadar bantal pun berjatuhan ke lantai.
Ya Rabb, jangan sampai jadi gila karena kasmaran. Ngerusak nama baik keluarga aja.
“Ra, kok kamu diem?” lanjut Zaki yang merasa dicuekin.
“Sorry… Aku denger, kok.” Cyra berguling bebas di atas kasur sambil senyum-senyum, ponsel masih di telinga. Sampai akhirnya kesialan itu kembali menimpa Cyra. Tubuh gadis itu menggelinding lagi ke lantai akibat guling-guling nggak jelas. Ini nih efek setrum yang dikirim Zaki. Resikonya ngeri, bisa bikin babak belur. Untung yang duluan mencium lantai adalah bok*ng. Nah, kalau gigi duluan, bisa langsung ompong kan?
__ADS_1
“Kamu mau denger kabar gembira dari aku nggak?” tanya Zaki dengan nada sumringah.
“Weh… kabar gembira apa?” Cyra membelalak kaget. Takut kalau kabar gembira yang dimaksud adalah mengenai kampus baru. Zaki diterima menjadi dosen di kampus baru. Sia-sia perjuangan Cyra menemui dekan dan bicara panjang lebar sampai mulut berbuih dan lutut kaki gemeteran kalau akhirnya Zaki lebih memilih menjadi dosen di kampus lain. “Kamu nggak mau bilang kalau kamu diterima di kampus baru itu, kan?” Cyra cemas. Mendadak jantungnya juga tidak nyaman. Cyra masih ingin Zaki kembali ke kampusnya.
“Bukan itu. Aku masih proses interview di kampus itu, kok. Belum ada keputusan.”
“Jadi kabar gembira soal apa , dong?” Cyra penasaran.
“Sekarang kamu di mana?”
“Kamu keluar ke balkon sekarang.”
“Ngapain?” Meski bertanya demikian, Cyra menuruti perintah Zaki. Gadis itu berjalan menuju balkon. Kini, dari tempatnya berdiri, ia melihat Zaki yang juga berdiri di balkon rumahnya. Pria itu menelepon dengan earphone di telinganya.
Zaki melambaikan tangan, dibalas dengan senyuman oleh Cyra.
__ADS_1
Sumpah, Zaki makin ngegemesin banget. Awalnya galaknya bukan main. Pas jadi dosen di kampus juga selalu galak sama mahasiswanya, tapi giliran sama pacar, romantisnya bukan main. Ya ampun Zak, lope lope dah ah.
“Dengan begini, rasanya kita lagi ngobrol deketan, kan?” ucap Zaki kemudian terkekeh.
“Dasar genit.”
“Genit itu kamu, aku Cuma berusaha lebih deket sama kamu. O ya, lihat aku bawa apa.” Zaki menunjukkan balon bulat berwarna-warni yang talinya diikat menjadi satu. Kemudian balon-balon itu dia lepaskan ke udara.
Cyra tertegun menatap balon bertuliskan ‘I Love You, Cyra!’
“Happy birth day, sayang!” ujar Zaki dengan nada lembut.
Bisikan itu seperti diucapkan secara langsung ke telinga Cyra. Kulit tubuh Cyra meremang merasakannya. Sumpah, Cyra gemes banget. Pingin meluk bantal guling, pingin lompat-lompat, pingin nyebur kali. Ah, pokoknya girang dah.
TBC
__ADS_1