
“Ra, tega lo ngelaporin gue?” Faiz menghadang Cyra. Tubuhnya yang tinggi dan besar berdiri menjulang di hadapan Cyra.
“Udah impas, Iz. Jadi jangan dibahas lagi.” Cyra kesal bukan main.
“Ra, gue mohon, maafin gue, dan bilang ke dekan kalau lo udah maafin gue dan minta supaya dekan mencabut keputusannya. Demi sekoolah gue, Ra. Gue mesti bilang apa ke orang tua gue kalau gue dikeluarin dari kampus bahakan dengan alasan nggak terpuji begini?” Faiz memohon. “Apa yang mesti gue lakuin supaya lo maafin gue? Kalau lo suruh gue sujud sama lo sekarang juga, gue pasti lakuin, Ra.”
“Keputusan bukan di tangan gue, tapi di tangan dekan.”
“Ra, gue nggak nyangka lo dendam banget sama gue. Sampe-sampe lo tega ngeloprin gue ke dekan.”
“Lo yang cari masalah sama gue? Kenapa malah gue yang sekarang jadi salah?” gertak Cyra semakin kesal.
“Ra, gue juga mansuia, ada sisi kurang dan lebih dalam diri gue. Kalau kemarin gue sempet kurang ajar sama lo, itu karena khilaf dan gue nyesel sekarang.”
“Nyesel setelah lo dikeluarin kan? Sebelum dekan punya keputusan itu, lo kemana? Kenapa baru sekarang minta maaf dan ngaku nyesel? Apa harus dapet hukuman dulu barulah lo bilang nyesel? Lo pasti bahagia ngeliat Pak Zaki dikeluarin dari kampus, kan? Puas?”
“Itu urusan dia. Bukan gue yang ngelaporin Pak Zaki. Kenapa lo lampiasin amarah lo ke gue?”
__ADS_1
“Iz, cukup! Jangan lagi ganggu gue! Urusan kita udah kelar.” Cyra melenggang pergi melewati Faiz.
Beberapa detik Faiz membeku di tempatnya. Rasa frustasi membuatnya ingin berteriak sekeras-kerasnya.
“Bang*aaaat!” Faiz mengepal amplop pemberian dekan di tangannya hingga membentuk butiran kecil. Sorot matanya menajam menatap ke arah pintu ruangan Zaki.
***
Cyra memasuki ruangan Zaki tanpa mengetuk pintu. Untuk apa dia mengetuk pintu? Cyra sudah menganggap Zaki adalah bagian dari hidupnya. Dan bagian hidupnya itu akan pergi meninggalkannya. Dia tidak punya waktu untuk mengetuk pintu.
“Zaki…” lirih Cyra dan tak bisa lagi melanjutkan kata-katanya. Lehernya tercekat. Ia tak kuasa melihat Zaki yang aka meninggalkan dirinya di kampus itu. Kalau Zaki pergi, tak ada lagi dosen yang akan membuatnya semangat menuntut ilmu, tak ada lagi wajah dosen muda yang selalu menjadi objek pemandangannya, tak ada lagi tingkah gila Zaki yang membuatnya kangen.
“Aku harus pergi.” Kali ini Zaki terlihat tegar. Tak ada lagi ekspresi galau di wajahnya. Entah kemana pria itu membuang tampang menyedihkan yang tadi Cyra lihat. Bahkan dalam hitungan menit, pria itu sanggup mengubah suasana hatinya. Meski tak mudah bagi Zaki, karena harus mempertaruhkan nama baik, juga pekerjaannya.
“Aku nggak mau kamu pergi.”
“Keputusan dekan udah bulat.”
__ADS_1
“Kenapa secepat ini? Kita baru aja melewati ini sama-sama. Ini baru awal.”
“Nggak Cuma di sini kita bisa bertemu, bukan? Aku masih tetanggamu.”
“Sekarang keadaannya berbeda, Zaki. Ini menyangkut nama baikmu. Aku tau ini nggak mudah bagimu.” Suara Cyra terbata akibat tangis yang sudah pecah. Ya ampun, sejak kapan Cyra jadi cengeng? Cyra adalah gadis kuat, tabah dan tahan banting. Tapi untuk urusan yang satu ini, kenapa hatinya rapuh sekali? Cyra tak kuasa melihat tambatan hatinya menjadi korban tak bersalah.
“Aku nggak pa-pa. Jangan cengeng! Gitu aja nangis.” Zaki mengulurkan tangan dan menghapus air mata Cyra dengan jari-jarinya.
Sentuhan hangat tangan Zaki membuat hati Cyra semakin basah. Antara haru dan duka berbaur jadi satu. Kenapa justru Zaki yang terlihat kuat? Zaki begitu pintar menyembunyikan perasaannya. Dia bilang dia tidak apa-apa. Tapi sorot matanya tidak baik-baik saja.
TBC
Jangan lupa klik tombol like 👍
Yang punya tip koin atau poin silahkan disumbangin buat cerita ini
Ajak temen temen baca yah
__ADS_1