
“Al, aku pinjam anakmu dulu untuk jagain Cyra, ya.” Andini minta ijin pada Alya.
“Boleh boleh. Nggak pa-pa, kok. Iya ka, Pa?” Alya minta pendapat suaminya.
“Iya. Nggak pa-pa.” Surya mengiyakan. “Zaki, kamu tungguin Cyra dulu, ya.”
Zaki mengangguk lagi, kali ini anggukannya lebih mantul, mantap betul.
“Ya udah, kami permisi dulu.” Alya melambaikan tangan pada Andini yang langsung diangguki oleh Andini. Ia dan suaminya melenggang menyeberangi jalan menuju pulang ke rumah.
Sementara Andini masuk ke rumah menjemput kunci mobil, jaket dan tasnya.
“Mama pergi dulu, sayang! Baik-baik di rumah. Inget, jangan malag keluyuran.” Andini berucap pada Cyra dan langsung diangguki oleh Cyra. Pandangan Andini beralih kepada Zaki lalu berkata, “Nak Zaki, tolong jagain Cyra, ya! Maaf ngerepotin kamu, loh.” Andini tersenyum ke arah Zaki.
“Nggak apa-apa, Tan.” Zaki balas tersenyum.
Andini melenggang memasuki garasi, ia mengeluarkan mobil dari garasi dan membunyikan klakson ketika melintasi teras rumah. Cyra membalasnya dengan melambaikan tangan.
Sepeninggalan mobil Andini, Zaki dan Cyra bertukar pandang.
“Kenapa ngeliatinnya gitu banget?” polos Cyra.
“Nggak boleh? Apa aku mendingan ngeliatin tembok aja?”
“Heheee… Nggak gitu juga kali. Ya udah, yuk masuk. Di sini dingin banget.” Cyra melenggang memasuki rumah diikuti oleh Zaki.
__ADS_1
“Tugas dari kamu belum kelar, loh. Ajarin aku, ya!” Cyra menoleh Zaki yang berdiri di belakangnya.
“Loh, bukannya besok udah harus diserahin ke aku? Kok, belum diselesein?”
“Justru malem inilah jadwalku nyelesein tugasnya, kankamu denger sendiri tadi mama bilang kalau male mini aku mesti ngerjain tugas, kan?”
“Ya udah, kerjakanlah sendiri! Biar tambah pinter.”
“Zaki, kamu inget nggak? Justin bieber itu nggak perlu harus…”
“Iya iya, aku tahu itu,” potong Zaki yang malas mendengar kalimat yang diulang-ulang oleh Cyra.
“Kalau gitu, ajarin aku ya!”
“Nah, gitu, dong!” Cyra mencubit pipi Zaki gemas. “Tunggu aku jemput peralatan belajar.”
Zaki yang diperlakukan seperti anak kecil itu malah memperlihatkan tampang bengisnya. Dikira Zaki bayi umur enam bulan yang mesti dicubitin pipinya? Huh…
Zaki duduk di sofa sembari menunggu Cyra yang naik ke lantai atas. Tak lama kemudian zaki mendengar suara gaduh yang bersumber dari tangga.
Gludak gludak dug dag dugh…
Zaki terhenyak menatap Cyra yang terguling bebas seperti bola pingpong di anak tangga dan berakhir ngegelepar di lantai. Barang-barang yang dibawa Cyra pun berserakan, lapotop, buku-buku, pena dan karton berhamburan.
Zaki menghambur menghampiri tubuh Cyra yang tergeletak di lantai. Diraihnya caruk leher gadis yang matanya terpejam itu dan diletakkan di pangkuannya.
__ADS_1
“Cyra, bangun!” Zaki menepuk pipi Cyra. Gadis itu tidak bergerak, matanya terpejam sempurna. “Cyra!” Suara Zaki terdengar panik.
Dasar gadis ceroboh. Kok, bisa ngegelinding semaunya? Apa masa kecil kurang bahagia sampai-sampai anak tangga pun dijadikan seluncuran. Astaga, Cyra, kok bisa seceroboh ini.
Kekhawatiran Zaki kian menjadi melihat tak ada tanda-tanda kesadaran pada gadis nya itu. Zaki meletakkan jarinya ke depan hidung Cyra, hembusan hangat nafas Cyra masih terasa. Artinya Cyra masih hidup. Astaga, Zaki sampai kepikiran kalau Cyra duluan melewati alam kubur. Kan sayang, mereka belum merasakan surge dunia, masak mau cepat-cepat ko’it.
“Cyra, Cyra, plis bangun. Kamu denger aku nggak?” Zaki menepuk-nepuk pipi Cyra. “Cyra plis, jangan bikin aku cemas. Aku sayang sama kamu.” Zaki memeluk kepala Cyra.
“Watsiiy!” Cyra bersin.
Sontak Zaki melepas dekapannya dan menatap wajah Cyra yang kini nyengir lebar.
“Crazy! Bisa-bisanya kamu ngerjain aku!” Zaki memasnag tampang jutek.
“He heee… Sorry. Cuma mau tahu seberapa besar kecemasanmu sama aku.”
Nggak ahrus dengan cara ini, Ra. Nggak lucu! Hampir aja aku tadi mandiin kamu.”
“Hah? Kok dimandiin? Mau mesum, ya?”
“Mandiin jenazah.”
“Hah? Kamu pikir aku mayat?” Cyra duduk.
Zaki tersenyum.
__ADS_1