
Di sisi lain, Cyra mengangkat wajahnya yang sejak tadi terbenam di bantal. Ia hampir tidak bisa bernafas akibat hidungnya yang terlalu kuat menyeruduk ke bantal. Andai saja hal itu benar-benar terjadi, niatan Zaki yang pernah ingin memandikan jenazahnya pun benar-benar akan terlaksana. Huh, serem amat.
Cyra menyambar ponsel dari dalam tasnya lalu mencari satu nama. Tak lain Alfa. Setelah menemukan nama tersebut, segera ia memencet nama itu dan terdengar bunyi tut tut menyahut di seberang.
Cyra mondar-mandir menunggu saatnya alfa menjawab telepon, namun sampai bunyi tut tut yang menyebalkan itu putus, Alfa tak kunjung menjawab telepon.
Cyra mengulang panggilan.
Sambil menempelkan ponsel ke telinga, Cyra menggerutu sebal, “Ayo, dong Alfa, jawab telepon gue. Awas aja kalo sampe putus panggilan gue dan lo nggak juga jawab, gue sunat habis lo! Liat aja entar.”
“Gue pasti jawab telepon lo, kok.”
Heih? Cyra langsung menatap layar ponsel begitu emndengar sahutan dari seberang. Ternyata durasi panggilan sudah berjalan lima belas detik. Tentu saja alfa mendengar kalimat yang baru saja ia ucapkan.
“Al, gue minta sekali lagi, buruan bilang ke bokap lo kalo kita nggak ada hubungan apa-apa supaya kedua orang tua kita nggak salah paham,” seru Cyra menggebu-gebu. Sudah cukup stres ia memikirkan peristiwa yang akan terjadi jika saja ia harus menerima Alfa. Cintanya tidak bisa dipindah-pindah ke lain hati, hanya untuk Zaki seorang.
__ADS_1
“Ra, cinta itu tmbuh karena terbiasa. Sama halnya gue dan lo, yang terbiasa bersama hingga akhirnya tumbuh perasaan sayang gue ke lo.”
Terdengar suara Alfa mengesah.
“Gue sayang sama lo, Ra. Kalau kedua orang tua kita udah setuju, kenapa gue harus menolaknya?” lanjut Alfa.
“Meskipun gue nggak cinta sama lo? Apa lo mau berdampingan sama cewek yang sama sekali nggak punya perasaan apa-apa ke lo?” gertak Cyra mulai resah.
“Inilah yang mesti kita hadapi bersama, semua bisa dimulai dari awal. Cinta dan kasih sayang tetap akan selalu ada diantara kita, Ra. Percayalah! Apalagi gue tulus sayang sama lo.”
“Gue nggak perlu memaksa lo buat jatuh cinta ke gue. Cukup gue aja yang sayang sama lo, itu udah lebih dari cukup.”
Buset, nih cowok ngotot banget mempertahankan egonya. Cyra gedeg bukan main.
“Kalau lo bener-bener sayang sama gue, seharusnya lo utamakan kebahagiaan gue, bukan malah menyiksa gue dengan hubungan kayak gini.” Cyra menghempaskan tubuh ke sisi ranjang.
__ADS_1
“Walaupun lo nggak cinta sama gue, gue akan tetap pertahankan lo, Cyra. Apapun caranya! Maaf Cyra, gue akan tetap setujui kalau bokap gue ngejodohin kita.”
Tiba-tiba sambungan telepon terputus.
“Iiiiih… Alfa! Kok, main putus aja? Gue belom selesai ngomong!” Cyra membanting ponsel ke sisinya, tapat di ranjang sebelahnya duduk. Nafasnya terengah akibat menahan kemarahan yang menyeruak dalam dadanya.
Di sisi lain, Alfa menatap Papanya yang kini tengah memegangi ponsel milik Alfa.
Alfa membeku di tempat menatap papanya yang menghela nafas panjang. Keduanya bersitatap. Sampai kini Alfa masih belum mengerti kenapa papanya itu mengambil ponsel dari tangannya begitu saja disaat ia sedang menggunakannya. Entah apa respon Cyra di seberang sana saat sambungan telepon diputus begitu saja, tanpa aba-aba. Ya, Randy memutus sambungan telepon itu.
“Kenapa papa…”
“Alfa!” Randy menyentuh pundak putranya. Dengan tatapan teduh, ia berkata, “Alfa, jika memang Cyra tidak mengharapkanmu, jangan paksakan dia.” Suara Randy mengguntur penuh wibawa, namun juga penuh nuansa kasih sayang.
Sontak wajah Alfa memerah, tulang tubuhnya terasa lemas seperti tak lagi bertenaga. Ternyata inilah penyebab papanya menyambar ponsel dari tangannya, papanya mendengar pembicraan antara dirinya dan Cyra.
__ADS_1
TBC