
“Kita mau kemana?” tanya Cyra saat Zaki menggeret tangannya keluar rumah.
Zaki masuk ke garasi lalu mengeluarkan mobilnya. Zaki membuka kaca mobil. “Ayo, sini!” Ia menepuk jok di sisinya duduk.
Cyra tersenyum lalu memasuki mobil. Tawanya pecah saat moil melaju kencang meninggalkan pelataran rumah, melewati mobil milik Cyra yang terparkir di sisi gerbang.
“Sekarang aku tahu kenapa Tuhan hadirkan Alfa di tengah-tengah kita,” tutur Cyra sambil melirik Zaki.
“O ya? Kenapa?” Zaki sekilas menoleh ke arah Cyra kemudian pandangannya kembali tertuju ke depan. Nggak usah noleh kelamaan, entar bisa nabrak. Soalnya wajah Cyra tidak ada bedanya dengan gula. Manis banget bikin tahan melek.
“Untuk menguji cinta kita.”
“Ck ck ck… Mulai putis nih cewek.”
“Biarin. Kenyataannya gitu.”
“Setahuku, Alfa itu orangnya baik, dia juga pinter. Banyak kelebihan yang ada dalam dirinya. Lantas, kenapa kamu nggak jatuh cinta padanya? Bukankah kamu lebih dulu mengenal dia dari pada aku?”
“Ugh… Mancing-mancing nih kayaknya.”
Zaki tersenyum tanpa menoleh ke Cyra. Ia konsentrasi menyetir.
“Ini yang namanya perasaan, dia dateng tanpa dipaksa, dia muncul sendiri tanpa sebab.”
“Sejak kapan kamu jatuh cinta sama aku?”
__ADS_1
Mendengar pertanyaan itu, entah kenapa tiba-tiba saja ingatan Cyra seperti rekaman kaset yang sedang flash back, memutar ulang rekaman kejadian yang terjadi antara dirinya dengan Zaki. Kemudian ia tersenyum sendiri, terutama saat rekaman di kepala memutar kejadian saat Zaki salah masuk kamar, lalu handuknya melorot. Itu kesan paling unik. Dan untungnya Cyra saat itu masih begitu polos. Kalau saja Cyra sedikit nakal, dia pati sudah melihat belalai yang melambai-lambai.
“Hei, ditanya kok malah senyam-senyum sendiri?” Zaki menjentikkan jemari ke depan muka Cyra membuat gadis itu kehilangan rekaman bayangan di kepalanya.
“Aku sedang mengingat kejadian lucu.”
“Lucu? Kejadian apa?”
“Waktu kamu salah masuk kamarku dan….”
“Handukku melorot?” potong Zaki emmbuat Cyra langsung terdiam. “Jadi kamu seneng sama kejadian itu? Apa mau diulang lagi?”
“Heih? Zaki ngomong apaan, sih?” Muka Cyra langsung memerah membayangkan apa yang Zaki ucapkan.
“Zakiiiiii!” Cyra mencubit pinggang Zaki. “Dasar mesum!”
Tidak menimbulkan rintihan sebagai keluhan ras sakit aibat cubitan Cyra, Zaki malah tergelak.
Bagaimana Cyra tidak menjerit, kalimat yang diucapkan Zaki membuat Cyra reflex langsung membayangkan kejadian tersebut.
“Itu hanya akan terjadi saat kamu udah jadi Nyonya Zaki. Paham?” Zaki menyentil dagu Cyra.
Nyonya Zaki? Hati Cyra berdesir mendengar kata-kata itu. Ya Tuhan, benarkah ia akan menjadi nyonya Zaki? Betapa bahagia bila memang itu benar terealisasi. Cyra membuang pandangan ke luar jendela, menyembunyikan pipinya yang mungkin sedang memerah.
“O ya, kamu belum jawab pertanyaanku tadi.” Zaki kembali membuka pembicaraan.
__ADS_1
“Pertanyaan yang mana?”
“Sejak kapan kamu jatuh cinta sama aku?”
“Nggak tau tepatnya kapan. Aku juga nggak menyadarinya.” Cyra ingat saat Zaki menciumnya di depan rumah pria itu. Kemudian Zaki juga mengatakan kalau mereka resmi jadian. Semenjak kejadian itu, perasaan Cyra mendadak berubah. Apakah mungkin itu adalah awal saatnya Cyra merasa jatuh hati pada Zaki?
“Apa setelah aku menciummu di teras rumahku?”
Loh? Kok Zaki bisa tahu? Punya sugesty apa nih cowok? Kalau main tebak-tebakan pasti juara satu. Cyra nyengir.
“Kamu sendiri? Kapan mulai jatuh cinta sama aku?” Cyra membalikkan pertanyaan.
“Sejak kamu menciumku di ruang kerjaku.”
“Di kampus?”
“Ya.”
“Berarti kamu duluan yang jatuh cinta sama aku.”
“Tepatnya begitu.” Zaki benar-benar percaya diri.
TBC
KLIK LIKE YAK
__ADS_1