PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 53


__ADS_3

Ugh, Zalfa yakin Allah memiliki skenario tersendiri hingga memasukkan Arkhan ke dalam kehidupannya. Ia semakin bingung, haruskah mengiyakan atau tidak? Apakah benar pendapat Ismail yang mengatakan agar dirinya mengajak Arkhan memeluk Islam? Atau berpaling saja dari Arkhan?


Jantung Zalfa berdegup kencang. Ia mengatur nafas. Sulit baginya membicarakan masalah itu dengan bertatap muka. Ia masih ingat betul bagaimana Faisal melamarnya, dan ia tidak ingin memandang Arkhan seakan sedang bicara dengan Faisal sehingga keputusan yang ia ucapkan akan menjadi salah.


“Maaf. Jangan berikan ini dulu.” Zalfa menutup kotak merah kecil berisi cinicn berlian dan menyorongnya kembali ke arah Arkhan. “Aku butuh waktu untuk berpikir.”


“Apa lagi? Jangan bikin aku mengbah keputusanku.” Tatapan Arkhan kian menajam.

__ADS_1


Zalfa terdiam. Ini bukan perkara pantas atau tidak pantas, tapi perbedaan kepercayaan. Kalimat itu urung diutarakannya, takut menyinggung. Bagaimana ia akan menjadikan pria yang dangkal ilmu agamanya sebagai imamnya? Jelas Arkhan bukanlah tipe pria yang dia idamkan.


Zalfa menarik nafas dalam-dalam, berhati-hati ia berkata, “Arkhan, sekali lagi kukatakan, syarat utama calon suamiku adalah seorang muslim. Dan kamu belum bersyahadat,” lirih AZalfa agak takut Arkhan akan tersinggung.


“Akan kulakukan itu setelah kita selesai dengan pembicaraan kita di sini. Apa mahar yang kamu inginkan?” tanya Arkhan membuat bola mata Zalfa terbelalak.


Zalfa tergugu mendengar pertanyaan itu. Arkhan benar-benar mendesak. Bahkan dia juga paham mengenai mahar, bahwa dalam Islam, seorang pria harus memberikan mahar untuk calon istrinya.

__ADS_1


Zalfa ingat keinginannya akan mahar yang pernah ia sampaikan pada Faisal. Salahkah jika ia mengatakan mahar yang sama kepada Arkhan? Ah, kenapa Zalfa sekarang semakin bertambah ragu untuk menikah dengan Arkhan? Apa jadinya jika ia menikah dengan pria yang kepribadiannya jauh dari kata soleh dalam pandangan Zalfa?


“Surat An Nisa ayat 1 sampai 38.” Akhirnya justru itu jawaban yang Zalfa sampaikan. Entah kenapa Zalfa ingin mengulur waktu pernikahannya dengan Arkhan, dan mungkin kemudian ia akan memiliki waktu dan alasan untuk membatalkan. Lalu bagaimana dengan rahimnya? Jika Tuhan menciptakan janin dalam kandungannya, akankah ia membiarkan janin itu hidup tanpa seorang ayah? Entahlah, sekarang Zalfa hanya ingin meminta waktu sebentar saja untuk berpikir. Setidaknya, surat An Nisa akan membuat Arkhan kesulitan meghafalnya. Mana mungkin Arkhan akan hafal surat itu dalam waktu singkat.


Dan satu lagi, setidaknya Arkhan justru akan belajar mengaji dan mengerti makna dari surat tersebut jika ia mempelajari dan menghafalnya. Surat An Nisa, yang di dalamnya mengartikan banyak hal tentang perempuan. Segala hal hukum persoalan perempuan dan cara memperlakukan perempuan ada di sana. Bahkan larangan mempersekutukan Allah terhadap sesuatu, berbuat baik kepada kedua orang tua, sampai kepada anak-anak yatim, larangan bersikap angkuh dan masih banyak perintah Allah dalam hal kebaikan ada di sana.


“Baiklah. Kau siapkan saja semuanya dalam waktu tiga hari untuk pernikahan kita.” Arkhan kembali menyesap kopinya.

__ADS_1


Zalfa terbengong, kenapa Arkhan tidak memprotesnya. Mahar yang Zalfa minta tentu saja cukup menyulitkan Arkhan, tapi pria itu seakan-akan tidak masalah dengan mahar yang Zalfa minta. Fix, Zalfa yakin Arkhan tidak paham dengan mahar yang Zalfa maksud. Dan setelah nanti Arkhan membuka Al-Qur’an atau sekedar bertanya pada yang lebih paham tentang seberapa panjang surat yang harus ia hafal, pasti dia akan tepuk jidat dan mengundur waktu pernikahan. Apa mungkin Arkhan sanggup menghafal surat sepanjang itu? batin Zalfa tersenyum geli.


TBC


__ADS_2