
“Kita kan ke sini tujuannya mau jenguk Pak Zaki, bukan untuk berselfi-selfie,” sahut Pak Fauzan. “Fotonya kapan-kapan lagi saja. Sekarang kita harus segera beranjak dari sini. Saya ada urusan.” Pak Fauzan sekilas menatap arloji di tangannya.
“Terima kasih sudah menjenguk, Pak,” ucap Zaki.
“Sama-sama. Sudah seharusnya ini kami lakukan. Sampai di sini dulu pertemuan kita, semoga Pak Zaki lekas sembuh. Kami permisi. Ayo, ibu-ibu, kita harus pergi. Kita kan satu mobil tadi.”
Bu Raini dan Bu Santi mengangguk serentak. Mereka berpamitan dengan Zaki dan Alya, kemudian berlalu meninggalkan kamar.
Sepeninggalan mereka, Alya menatap Cyra dan bertanya, “Cyra, kenapa Zaki nggak mau makan?”
Cyra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sekarang ia harus menjawab apa? Dia kan tadi memang tidak menyuapi Zaki, dia sengaja menaruh piring itu ke meja dan malah asik-asikan ngobrol sama Zaki. “Oh eh... Itu tadi. Zaki katanya...”
“Nggak selera makan, Ma,” potong Zaki.
Syukurlah Zaki menyelamatkan Cyra. Jadi Cyra tidak perlu repot-repot mencari jawaban.
__ADS_1
“Ya udah kalo gitu kamu makan kue ini aja.” Alya membuka plastik oleh-oleh yang dibawa oleh teman-teman Zaki tadi.
“Nanti aja,” jawab Zaki tidak bersemangat. Ia benar-benar tidak bernafsu makan. Tubuhnya masih terasa nyeri semua. Hanya saat berdua dengan Cyra saja ia bisa terlihat bersemangat dan rasa nyeri di sekujur tubuhnya seperti hilang entah kemana.
“O ya Zak, soal Alfa...”
“Kamu nggak usah pikirin masalah itu.” Zaki memotong ucapan Cyra. “Aku akan urus, papa juga udah urus. Biar aku aja yang memikirkannya. Kamu nggak usah melibatkan diri. Kasus ini pasti akan sampai ke pihak yang berwajib, kok. Tenang aja.”
“Astaga, Tante nggak nyangka loh kalau Alfa bisa sejahat itu,” komentar Alya geleng-geleng kepala. “Beruntung kamu nggak jadi sama Alfa. Kalau kalian jadian, aduh entah bagaimana nasibmu di tangan psikopat itu. nggak kebayang, deh.”
“Mau lama-lama di sini juga nggak pa-pa, kok. Tapi Tante takut kamu kecapekan. Kamu harus istirahat juga kan. Jangan sampai jadi kelelahan gara-gara ngurusin Zaki yang belum jadi suamimu ini. Besok kalau udah jadi suamimu, kamu baru boleh nungguin Zaki semalaman suntuk. Setiap hari malah.”
Kumat lagi deh, nih calon mertua mulai ngeledekin. Cyra mendengus malu.
“Aku pulang dulu, Tan.” Kemudian pandangan Cyra beralih ke arah Zaki. “Kamu lekas sembuh, ya. Entar b*kongmu kempes kalo baring terlalu lama di kasur.”
__ADS_1
Zaki mengernyit, pernyataan macam apa itu? Ia hanya mengangkat alis tanpa memberi jawaban.
Cyra mengulumm senyum kemudian balik badan dan berlalu pergi meninggalkan kamar.
***
TBC
Ayo guys, dukung cerita ini dengan klik detil cerita PACARKU DOSEN. Lalu klik aja gambar bertuliskan happy new years seperti yang kukasih tanda panah pada gambar di bawah, kemudian ucapkan selamat tahun baru di sana. Yang baca PACARKU DOSEN tuh ratusan ribu tapi yang ngasih ucapan Cuma dua ratusan doang, sedih aku tuh. 😭😭
Liat aja contoh gambar di bawah ini, klik aja gambar yang kuksaih panah dan ucapin selamat tahun baru di sana.
Ingat, ngucapin selamat tahun barunya bukan di kolom komentar cerita ini, yah. Tapi di gambar yang kutunjuk pake panah itu. Makasih yang udah pada ngucapin.
__ADS_1