PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 55


__ADS_3

“Assalamu’alaikum…”


Suara salam mengejutkan Zalfa hingga ia mengangkat wajah dan melihat sosok yang menghampiri. Ternyata Pak Bukhori, mantan dosen di kampus tempat dulu Zalfa menuntut ilmu, sekaligus seorang ustad yang memiliki pondok pesantren. Pak Bukhori mengenal dekat Zalfa karena Zalfa dulu adalah salah satu anggota senat yang memegang bagian humas. Segala sesuatu yang berhubungan dengan urusan kampus selalu melewati Zalfa. Seperti contohnya acara yang akan dilaksanakan di kampus guna menyambut tahun baru Islam, maka Pak Bukhori melibatkan Zalfa untuk turut menykseskan acara, abik itu mencari donatur dan sponsor.


“Wa’alaikumussalam…” jawab Zalfa. “Mari Ustad, duduk bersama kami.”


“Terimakasih. Saya hanya kebetulan lewat. Saya baru saja selesai makan,” jawab Pak Bukhori. Kemudian pandangannya mengarah ke Arkhan. “Ohooo…. Rupanya kamu di sini?” Pak Bukhori menepuk bahu Arkhan.


Arkhan bangkit berdiri menyambut Pak Bukhori dan menjabat tangannya. Mereka terlihat sangat akrab.


“Seneng ketemu Ustad di sini. Ustad sendirian?” Arkhan menoleh ke samping Pak Bukhori, tidak ada siapa-siapa. “Nggak sama istri?”


“Istri di rumah.” Pandangan Pak Bukhori beralih ke Zalfa. “O ya Zalfa, maaf saya mengganggu sebentar, sedikit nanya nih soal kegiatan kita. Kamu sudah mengundang penceramahnya? Apa penceramahnya punya waktu di jam yang tentukan?”


“Sepertinya Ustad Dahlan jadwalnya padat. Jadi saya menggantinya, saya mengundang Ustad Dahlan.”

__ADS_1


“Good. Beliau pasti akan disambut baik oleh semua orang. Ya sudah kalian lanjutkan saja. Saya permisi.” Pak Bukhori mengedarkan pandangan ke wajah Zalfa dan Arkhan silih berganti. Kemudian berlalu pergi.


Kenapa Arkhan bisa sedekat itu dengan Pak Bukhori? Apakah mereka menjalin hubungan bisnis? Tapi setahu Zalfa, Pak Bukhori tidak punya bisnis apapun selain membuka pondok pesantren dan menjadi guru ngaji. Itu saja. Benak Zalfa jadi bertanya-tanya.


“Acara apa yang kalian bahas tadi?” tanya Arkhan hingga pertanyaan-pertanyaan yang menyumpal di kepala Zalfa pun buyar.


“Kami hanya akan duduk bersama untuk mendengarkan ceramah, menambah ilmu. Kami sering melakukan itu. Acaranya diadakan di masjid Al Ikhlas, tepatnya di dekat kampus tempatku dulu kuliah. Acaranya diisi dengan tausiah. Kamu boleh datang jika berkenan.”


Arkhan mengangguk. “Kita ke topik lain. Aku mau nanya sesuatu, tapi jangan tersinggung.”


“Cincin apa yang kamu pakai di jari manismu itu? Apa kamu menolak cincinku karena udah ada laki-laki lain yang memberimu cincin?”


Zalfa menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Ia tertegun sejenak dan menelan saliva.


“Ini cincin dari seseorang,” jawab Zalfa dengan pandangan menerawang ke arah cincin. Terlihat begitu dalam rasa cinta Zalfa ketika menyebut kata seseorang. Dan Arkhan melihat itu dengan jelas. Cincin pemberian Faisal itu memiliki banyak kenangan yang sulit Zalfa lupakan.

__ADS_1


“Katakan, siapa seseorang itu?” ujar Arkhan dengan raut dingin.


“Dia Faisal, calon suamiku. Tapi itu dulu.” Zalfa menunduk.


“Lalu kemana dia sekarang?”


“Udah nggak ada.”


“Maksudnya?”


“Aku nggak tahu apa dia udah meninggal atau belum. Kapal Tampung Perak yang ditumpanginya tenggelam, sampai saat ini jasadnya belum ditemukan. Apa mungkin dia selamat? Sementara Tim SAR sudah menghentikan pencarian.”


Arkhan mencermati ekspresi wajah Zalfa. Di dalam pengakuan Zalfa, ia terlihat sangat mencintai sang mantan.


“Lepaskan cincinmu itu!” titah Arkhan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2