
“Ini semua terjadi karena miskomunikasi antara kamu dan Cyra. Apa salahnya kamu tanyakan terlebih dahulu masalah ini ke Cyra, setelah itu baru kamu membahas dengan Randy,” gertak Farhan menyesali kejadian itu. Melihat Cyra menangis, tentu saja ia juga terpukul.
“Bukannya Papa juga menyetujui tindakan mama, ya? Kenapa hanya mama yang disalahain? Mama akui mama kurang memahami anak sendiri, bahkan nggak bisa membaca perasaan Cyra. Tapi kan papa juga orang tuanya Cyra. Seharusnya papa juga bisa membaca situasi ini. Papa kemana aja?”
Nah loh, perempuan dilawan? Walaupun salah, tetap saja merasa benar. Betul apa kata orang, wanita selalu benar. Bahkan saat berdebat begini pun, Farhan selalu dipojokkan meski ia tahu istrinya itu telah salah mengambil keputusan hingga membuat keadaan menjadi fatal.
“Intinya, Mama mengambil keputusan tanpa bertanya terlebih dahulu pada Cyra. Hanya karena memandang Cyra dekat dengan Alfa, lantas Mamam menyimpulkan mereka memiliki hubungan khusus. Ini tidak benar.” Farhan tampak frustasi. “Kasihan Cyra jika harus menjadi korban.”
“Lah, trus tugas Papa hanya mengungkit-ungkit masalah itu? Sekarang harusnya yang dipikirin tuh solusi, bukan malah mempersoalkan dan memperkeruh suasana.” Andini tak mau kalah.
“Mama yang sudah membuat situasi serunyam ini, lalu apa jalan keluar yang akan mama ambil setelah kejadiannya seperti ini?”
__ADS_1
“Kok, malah balik nanya? Kan, papa yang pemimpin rumah tangga di sini. Apapun masalah dalam keluarga, seharusnya ppa yang maju ke depan untuk emnuntaskan masalah, sekalipun masalah itu muncul akibat dari istrinya sendiri. Jangan maunya menang sendiri, dong. Inilah tanggung jawab dan kewajiban suami. Ayo, apa solusimu?”
Farhan mengesah. Menatap istrinya dan malas mendebat. Ia tahu betul sifat Andini yang selalu mau menang sendiri. Lihatlah, dia masih bisa menyalahkan dan menyudutkan orang lain disaat kesalahan ada pada dirinya.
“Jujur saja, yang paling aku sesalkan adalah Zaki. Aku menyayangkan Zaki yang malah mendapat penolakan dari kita. Aku menyukai anak itu.” Farhan mengenang Zaki yang meninggalkan rumah dengan kondisi tak bersemangat. Mungkin perasaannya kacau saat itu.
“Andai saja kesalahpahaman ini tidak terjadi, aku pasti sudah lebih dulu menjodohkan Cyra dengan Zaki bahkan sebelum Cyra mengaku menyukai Zaki. Zaki itu kan anak dari sahabat mama. Aku tahu betul seperti apa Alya, dia pasti melahirkan putra yang sama baiknya seperti Alya.” Andini turut menyesal. “Tapi aku mengira kalau Cyra suka sama Alfa, jadi maksudku mengutamakan kebahagiaan Cyra. Ternyata dugaanku salah.”
“Akhirnya kamu mengakui kesalahanmu.”
“Kita harus bicarakan masalah ini dengan Randy,” ucap Farhan.
__ADS_1
“Papa mau menarik ulur ucapan yang sudah kita sampaikan kepada Randy?” Andini membelalak.
“Jangan jadikan putrimu korban hanya demi menutupi rasa malu akibat dari kesalahan kita. Cyra juga punya hak untuk memilih kebahagiaannya.” Farhan mengusap wajahnya kasar. Entah bagaimana caranya ia bisa bicara pada Rendy, rekan bisnisnya itu untuk memulai pembatalan tentang hubungan putrinya. Mungkin setelah ia mengucapkan pembatalan itu, Randy akan memutus ikatan bisnisnya mengingat Alfa yang juga harus merasakan kekecewaan atas pembatalan yang terjadi. Beban untuk membatalkan mematng sangat berat, namun akan lebih berat jika sudah terjadi ikatan yang jauh lebih dalam dari itu.
“Jangan, Pa!” seru Andini melarang Farhan saat suaminya itu mengambil ponsel hendak menelepon Randy.
“Jangan gegabah. Ini menyangkut nama baik kita. Biarkan Cyra yang mengambil keputusan. Ayolah, plis!” Andini memohon.
Jika sudah melihat istrinya memohon, apalagi dengan sorot mata yang sekarang ditampilkan, Farhan tak kuasa menolak. Senjata perempuan emmang selalu ampuh dalam menaklukkan hati laki-laki.
Farhan meletakkan ponsel.
__ADS_1
TBC
KLIK LIKE YA