PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 57


__ADS_3

Zalfa duduk di salah satu meja kafe miliknya, menemani teman-temannya yang dulu satu kampus dengannya, teman-teman Zalfa menyempatkan diri mampir di kafe itu saat melihat postingan Zalfa yang menampilkan salah satu menu masakan di akun sosial media.


Obrolan hangat tercipta di meja makan sembari menikmati jus. Zalfa sengaja memberikan harga free untuk setiap satu jus yang dipesan. Suara tawa riang menghiasi percakapan mereka.


Tiba-tiba di meja kasir terlihat gaduh. Beberapa orang anak-anak terlihat berkerumun dan sibuk memesan makanan. Mereka berteriak, saling berebut untuk bicara pada kasir. Mereka menunjukkan kupon makan gratis pada kasir. Setelah dihitung, ternyata jumlahnya ada sepuluh anak.


Zalfa mengernyit menatap kegaduhan itu. Ia meninggalkan meja dan menuju kasir.


“Kak Zalfa, mereka ini adalah anak-anak jalanan. Mereka memiliki ini untuk makan gratis.” Kasir menunjukkan kupon makan gratis yang baru saja diserahkan oleh anak-anak itu kepadanya.


Zalfa malah tertegun. Ia tidak pernah memberikan kupon-kupon itu kepada anak-anak itu, lalu dari mana mereka mendapatkannya?


“.Dari mana kalian dapat kupon ini?” Zalfa menunjukkan saah stau kupon kepada anak-anak itu.


“Kami mendapatkannya dari om tampan yang katanya pernah makan di sini,” jawab salah seorang anak paling besar diantara mereka.

__ADS_1


Zalfa sekarang tahu siapa pria yang dimaksud anak-anak itu, tentu saja Arkhan. Bulan ini, Zalfa hanya memberikan kupon kepada Arkhan. Jumlahnya sepuluh. Tidak salah lagi.


“E e ehh… kalau mau pesan makanan jangan di sini. Duduk aja di meja sana! Entar ada pelayan yang dateng ngelayanin kalian,” kata kasir kualahan menghadapi anak-anak yang pakaiannya kelihatan sedikit kumal.


“Aku mau yang paling enak.”


“Jangan yang pedes.”


“Itu lhoo… yang kayak di TV TV.”


“Hei… kalian dengar nggak sih? Duduk di meja sana!” seru kasir agak kesal melihat anak-anak itu masih berkerumun di depan meja kasir.


Kemudian anak-anak itu berlarian mencari meja dan duduk menjadi dua kelompok di meja yang berdekatan. Mereka terlihat gembira duduk di sana. Pandangan mereka liar mengamati seisi ruangan.


Zalfa memanggil pelayan kemudian memerintah, “Layani anak-anak itu, berikan saja apa yang mereka minta.”

__ADS_1


“Siap, Kak!” jawab pelayan patuh.


Zalfa kembali ke meja dimana teman-temannya berkumpul. Tiba-tiba Zalfa dikejutkan oleh kedatangan seorang pria yang muncul tanpa permisi. Tak lain Arkhan. Pria itu telah berdiri di sisinya dan melepas kaca mata hitam dari matanya.


Arkhan mengetuk meja depan Zalfa. “Kita pergi sekarang?”


Zalfa sedikit kaget mendengar pertanyaan itu. tanpa basa-basi, Arkhan langsung ke topik. Kedatangan Arkhan tentu saja menjadi pusat perhatian seisi meja. Para gadis memperhatikan sosok Arkhan, pria berwajah tampan dan berpostur sempurna. Kharisma Arkhan setidaknya mengundang simpati para gadis.


Zalfa menatap jam di pergelangan tangannya. Shalat jum’at sudah hampir selesai.


“Kamu duluan aja, aku menyusul,” celetuk Zalfa agak canggung di hadapan teman-temannya.


“Kamu harus mengantarku sekarang!” Nada otoriter kembali terdengar di dalam intonasi kalimat Arkhan.


Zalfa menghela nafas panjang. Sepertinya ia harus segera ambil tindakan, jika ia membantah Arkhan, ia yakin Arkhan tidak akan tinggal diam. Pria itu sangat arogan dan sifatnya selalu memaksa, apapun kemauannya harus dituruti. Jika tidak, situasi akan kacau. Zalfa pasti akan menjadi pusat perhatian jika keributan antara dirinya dan Arkhan kembali terjadi. Oh.. Zalfa tidak mau hal itu terjadi.

__ADS_1


TBC


__ADS_2