PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
92. Salah Paham


__ADS_3

Cyra merasa lega mendengar kata-kata Farhan yang terkesan sangat menenangkan hatinya, sehingga keberaniannya terkumpul dan niat untuk bicara jujur pun sudah di ambang lidah. “Bersama papanya Alfa, aku tadi denger mama sama papa ngebahas tentang aku dan Alfa. Justru karena itu makaanya aku kabur, aku nggak mau dikenalin sama papanya Alfa.”


“Loh, kenapa?” tanya Andini dengan dahi mengernyit sampai alisnya yang digaris dengan peinsil alis itu hampir bertaut. Namun kemudian Andini tersenyum dan berkata, “Kamu masih malu ya sama papanya Alfa?”


“Mama sama papa mau ngejodohin aku sama Alfa, kan?” lirih Cyra dengan wajah setengah menunduk, namun sorot matanya terus mengarah ke wajah Andini, kemudian bergantian ke wajah Farhan.


Farhan dan Andini saling pandang. Farhan tersenyum, kemudian lengan kanannya meraih bahu Cyra. Dengan nada wibawa, Farhan berkata, “Bukankah ini yang kamu harapkan? Ini kejutan untukmu. Kamu pasti menyukainya bukan?”


“Alfa itu kan temen spesial kamu, kalian tuh cocok banget. Mama setuju kok kalau kamu sama Alfa,” ucap Andini.


“Mama sama Papa salah paham. Kedekatanku dengan Alfa selama ini hanyalah sebatas temen. Kami nggak punya hubungan apa-apa.” Cyra memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya, meski sesungguhnya sedikit gemetar karena topik pembicaraan mereka terkesan privat dan Cyra belum pernah membahas hal-hal seprivat itu terhadap orang tuanya. Cyra juga takut mamanya akan marah dan kemudian memberinya hukuman yang belum pernah ia terima selama ini karena dianggap sebagai anak pembangkang yang tidak mau menuruti kemauan orang tua.

__ADS_1


“Maksudmu? Apa kamu nggak mau kalau Alfa menjadi bagian hidupmu?” tegas Farhan ingin memastikan.


“Aku nggak suka sama Alfa. Alfa hanyalah temen deketku. Aku nggak punya perasaan apa-apa kepadanya,” jawab Cyra masih setengah menunduk.


“Ya ampun Cyra, mama kira kamu tuh sayang banget sama Alfa.” Andini menepuk keningnya. “Kemana-mana kalian kan selalu bersama. Belajar juga berdua. Mama juga nggak pernah melarang kamu bepergian dengan Alfa karena mama anggap Alfa itu anak yang baik. Mama kira kamu suka sama dia. Sebab nggak ada laki-laki lain yang deket sama kamu selain dia. Lagi pula, Alfa juga bilang kalau dia itu sebenernya suka sama kamu.”


“Dari mana mama tahu?” Cyra membelalak.


Andini yang menyambut kedatangan Alfa, langsung menyeletuk dnegan klaimat candaan.


“Eh, Nak alfa kok setiap ke sini rajin banget bawain makanan? Hayooo… Ini makanan buat Cyra atau mamanya, nih?”

__ADS_1


“Dua-duanya, Tan. Buat Om Farhan juga,” jawab Alfa agak segan.


“Aduuuh.. Tante jadi tersanjung. Seneng banget loh dapet pemberian begini. Kamu sering main ke sini jangan-jangan ada niat tersembunyi, nih?” Sengaja Andini berkata demikian untuk memancing respon Alfa, pria yang terlihat sopan dan ramah di matanya.


“Ah, enggak ada, Tan.” Alfa malu-malu.


“E eeh… Jangan suka PHP-in anak gadis orang, loh. Jangan-jangan kamu ngasih harapan ke doang ke Cyra. Kan kasihan anak Tante kalau di PHP-in.”


“Enggaklah, tan. Ini murni kok, saya tulus. Lagian saya ke sini atas panggilan Cyra. Katanya Cyra minta diajarin, ada tugas yang belum bisa Cyra selesaikan.”


TBC

__ADS_1


KLIK LIKE


__ADS_2