PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
69. Nabrak


__ADS_3

Cyra menuruni anak tangga, penampilannya sudah rapi, siap untuk berangkat ke kampus. Tapi kali ini ia agak terburu-buru karena jam kuliah sudah akan dimulai sebentar lagi.


“Cyra!”


Haduh, suara Andini membuat langkah Cyra terhenti. Cyra sedang terburu-buru, takut telat kuliah. Semoga mamanya tidak memerintahnya untuk melakukan pekerjaan yang membuatnya benar-benar telat ngampus.


“Cyra lagi buru-buru, Ma. Takut telat kuliah.” Cyra berlari ke ruang depan tanpa memenuhi panggilan mamanya.


“Cyra, sini sebentar!” Teriakan Andini membuat Cyra tak bisa berkutik. Nada suaranya sudah tinggi. Kalau tidak dituruti, Cyra khawatir hukuman akan menantinya.


Cyra juga takut dikutuk jadi jangkrik setelah dicap sebagai anak durhaka. Akhirnya cyra mengalah. Ia menemui mamanya di ruangan belakang.


“Ada apa sih, Ma? Kalau Cyra terlambat kuliah, mamanya juga yang ngomel-ngomel ngatain Cyra nggak bener kuliahnya.”


Andini yang sedang mengobrak-abrik lemari piring, menatap Cyra dengan heran. Bik Mey berdiri di sisinya dengan tampang seperti terdakwa.


“Kamu tuh ya, kalau telat ngampus, selalu nyalaihin mama. Makanya bangun pagi biar bisa ke kampus tepat waktu. Kalau bangun aja susah, jelas aja kamu telat,” rutuk Andini kesal.

__ADS_1


Cyra memilih diam. Ingat, kutukan jadi jangkrik mengerikan.


“Ini loh, Tamperware mama kan satu set warna merah, kok bisa hilang satu. Mama simpen di sini tapi sejak tadi dicariin kok nggak ada. Bik Mey udah sepuluh kali ditanyain tapi katanya nggak tahu. Jadi tamperwarenya kemana? Kamu tahu nggak?” Andini memperlihatkan ekspresi sebal.


Cyra mendengus. Eh, tamperware? Woalah, Cyra ingat, dirinyalah pelaku sebenarnya, yang telah memakai tamperware itu untuk mengantar lauk kepada Zaki. Lalu, Cyra harus jawab apa?


“Ya ampun, Ma. Cuma tamperware aja kok ya mesti seribut ini? Nanti kan juga bisa dicari.”


“Masalahnya, mama mau balikin tamperwarenya. Mama batalin beli. Kemarin orang yang jual bilang harganya satu setengah juta, sekarang kok jadi satu juta delapan ratus ribu. Mama mau balikin aja.”


“Cyra, kamu tahu nggak dimana tamperwarenya? Mama mau balikin sekarang juga.”


Huh, payah banget jadi emak-emak rempong, perkara tamperware aja ributnya minta ampun. Cyra nyengir merasa bersalah.


“Kemarin Cyra pinjam untuk nganterin lauk ke rumah Tante Alya,” jelas Cyra dengan muka merasa bersalah.


“Apa?” Jerit Andini mengejutkan Bik Mey. “Itu nggak jadi Mama beli, Cyra. Kok, malah kamu pakai, sih? Ambil sana! Sekarang!” gertak Andini semakin emosi.

__ADS_1


Cyra lari ngibrit sebelum mamanya menjewer telinganya. Gawat! Cuma urusan tamperware saja mesti sampe semarah ini? Cyra menyeberangi jalan dan masuk ke pekarangan rumah Zaki. Merasa sudah familier, Cyra masuk rumah tanpa harus mengetuk pintu. Rumah Zaki kan bakalan jadi rumahnya juga. Wk wk wk..


“Biiik…!” Cyra memanggil Bik Pay, ia menyusuri ruangan sampai ruang makan. Tidak ada tanda-tanda Bik Pay muncul. Seluruh ruangan yang sudah ia lintasi, tampak sepi.


Baru saja Cyra berbelok hendak menuju dapur, kejadian naas kembali menimpanya.


Bruk!


Plek!


Cyra membelalak menatap telur dadar ukuran jumbo di lantai sesaat setelah ia bertabrakan dengan sesosok tubuh yang keras.


Cyra nyengir menatap Zaki yang memasang tampang sebal di hadapannya. Pria itu memegangi sebuah piring kosong di tangannya, piring bekas telur dadar.


TBC


KLIK LIKE YEA

__ADS_1


__ADS_2