
Cyra mengikuti Zaki menuju ke dapur. Ia berdiri saja menyandarkan punggung di pintu seraya menatap Zaki yang geleng-geleng kepala karena meja makan kosong, tidak berisi makanan. Cyra menyilangkan tangan di dada dengan santai.
“Apa kamu nggak masak?”
Cyra menggeleng. “Kamu kan tahu sendiri aku baru aja bangun tidur.”
“Ya sudah kita makan mie goreng aja.” Zaki membuka lemari atas kepalanya dan mengeluarkan mie sagu, ia juga membuka kulkas dan mengambil beberapa macam sayur serta bumbu yang diperlukan. Tangannya dengan cekatan memotong-motong dan mengiris bumbu. Tak heran jika Zaki begitu cekatan dalam hal emmasak, dia memang hobi masak. Dia juga sering memasak saat masih bujangan.
“Kamu yakin Cuma mau berdiri aja di situ?” Zaki melirik Cyra yang tidak bergerak dari posisinya.
Cyra diam saja.
Zaki mengedikkan bahu tak perduli atas sikap Cyra.
Hanya dalam hitungan mentit, mie goreng sagu sudah siap saji. Zaki mencampurkan sosis, udang telur, serta potongan ayam di dalam mie tersebut. Ada potongan tomat dan timun yang diletakkan di samping, serta daun seledri di tengah-tengahnya.
Cyra tertegun menatap hasil masakan suaminya, aromanya menggugah selera. Nafsu makannya pun naik.
Langkah Cyra pelan membawa tubuhnya duduk di kursi. “Hanya sepiring doang?”
__ADS_1
“Kita makan berdua.” Zaki duduk di sisi Cyra. Lalu menyendok mie dan mengarahkannya ke mulut Cyra. “Ayo, makan!”
Cyra menahan senyum yang seharusnya ia tampilkan akibat sikap Zaki. Saat itu ia sedang ngambek, jadi ia tidak mau kelihatan ramah. Tapi sepertinya percuma Cyra ngambek, toh Zaki tidak juga memahaminya.
Akhirnya Cyra membuka mulutnya dan bersiap menerima suapan Zaki. Sial! Zaki menarik tangannya saat sendok sudah berada di depan mulut Cyra sedang kan gadis itu sudah mangap lebar. Zaki memasukkan sendok ke mulutnya sendiri. Ia mengunyah mie sambil tersenyum lebar seperti sedang mengejek Cyra.
Pada suapan ke dua saat sendok di tangan Zaki menuju mulut pria itu, Cyra menyambar sendok tersebut lalu melahap mienya. Buseeet… mie nya enak banget, setara dengan masakan chef handal.
Zaki terkekeh melihat mie yang seharusnya ia lahap, kini malah berada di mulut Cyra.
“Jangan ketawa!” sergah Cyra.
“Sebelum ada larangan untuk tertawa, maka aku akan terus tertawa. Ha haaaa…”
Tawa Zaki terhenti menatap keseriusan di wajah istrinya. “Halah, hal sepele begitu aja kamu ributin. Nggak perlulah membahas hal nggak penting berulang-ulang. Yang ada pusing entar.” Zaki bangkit berdiri kemudian melenggang pergi meninggalkan meja makan, juga meninggalkan Cyra yang matanya telah berair.
Cyra terdiam di posisinya menatap kepergian Zaki. Kenapa rasanya sakit dicuekin begini? Laki-laki memang nggak peka. Mereka tidak pernah bisa mengerti dengan perasaan wanita yang sensitif. Apakah semua laki-laki seperti itu? Mungkin benar jika dikatakan perasaan laki-laki lebih kebal dan kurang perasa, sampai-sampai hal yang menurut wanita adalah penting, mereka menganggap hal sepele. Sepertinya Cyra harus mengalah untuk berusaha memahami keadaan, memahami sudut pandang dari sisi Zaki.
Cyra mengusap air matanya yang tanpa sadar telah meleleh. Ah, kenapa ia menjadi cengeng begini?
__ADS_1
“Eng ing eng…” Suara Zaki memecah keheningan.
Cyra terkejut melihat sebuah kalung yang diayunkan di depan matanya. Ia tertegun dan terdiam.
“Happy annyversary, sayang!” Zaki tersenyum. Kemudian ia terkekeh lagi menatap wajah Cyra yang sembab. “Kamu nangis? Cuma gara-gara hasil kerjaanmu di ruang tamu sia-sia? Jelek banget mukamu kalau nangis. Lep tuh air matanya.”
Cyra buru-buru mengelap pipinya dengan telapak tangan. Ternyata masih ada sisa air mata yang meleleh setelah tadi ia mengusapnya.
“Nggak mungkin aku lupa dengan hari pernikahan kita. Momen ini juga udah aku tunggu-tunggu.” Zaki memasang kalung ke leher Cyra.
“Iiiih… jahat kamu! Seneng banget sih bikin orang bete. Trus kenapa semalem bisa sampe telat pulang kalau memang kamu inget dengan hari kita?”
“Aku sebenernya nggak terlalu larut pulangnya. Kamunya aja yang gampang ngantuk. Semalem aku ingin banget ngasih kalung pas di hari pernikahan kita, tapi aku terpaksa menundanya. Aku udah bangunin kamu, tapi kamu nggak bangun-bangun meski udah kuguncang-guncang. Aku tahu kamu susah banget bangun, jadi aku maklimi aja dan terpaksa kalungnya kuberikan sekarang ke kamu.”
“Serius? Jadi kamu nggak lupa?”
“Aku pasti lupa kalau nggak mencatatnya di pengingat ponsel.”
“iih… Dasar payah! Laki-laki memang nggak peka. Kalau nggak ada ponsel, kujamin kamu nggak akan ingat apapun tentang kita.” Cyra mencubit kecil perut keras Zaki.
__ADS_1
“Kalau laki-laki peka, yang ada kaum Adam pada nangis, sama kayak cewek. Bentar-bentar nangis. Cewek gampang nangis karena gampang baper, perasaannya terlalu peka.”
TBC