
“Nggak usah ngambek dulu. Kucium nanti!” Zaki mengangkat alis membuat Cyra membelalak. “Aku mencintaimu, Cyra. Tapi ingat satu hal, restu orang tua itu adalah yang utama. Kamu ini anak perempuan, tanpa restu orang tuamu, kita nggak akan bisa bersatu. Lain halnya denganku, aku ini laki-laki, Seandainya aku mengajak seorang gadis kawin lari, hal itu masih sah-sah aja meski tanpa restu orang tua. Intinya, aku hanya ingin kamu menyelesaikan masalah ini dengan mamamu, luruskan masalah ini agar mamau tahu yang sbenarnya. Itu yang pertama harus kamu lakukan. Setelah itu, baru aku bisa menentukan langkah. Yang jelas, mamamu harus tahu hubungan apa yang terjalin antara kamu dan Alfa. Itu saja.”
“Oke. Aku mengerti.” Cyra mengangguk.
“Ra, rasanya aku kurang puas ngomong di sini. Ada Pak Fauzan. Tuh!” Zaki menunjuk Pak Fauzan yang baru saja datang dan duduk di salah satu meja tak jauh dari mereka.
“Tapi aku masih mau ngomongin banyak hal ke kamu.”
“Kita lanjutin obrolan kita di rumahku, ya! Pulanglah duluan. Aku akan urus pembayaran dulu!”
Cyra mengangguk patuh. Ia bangkit berdiri dan meninggalkan meja makan setelah selesai menyantap hidangannya. Beberapa langkah setelah ia melewati pintu kafe, ia kembali masuk dan menemui Rere. Hampir saja ia melupakan sahabatnya itu.
Cyra duduk di sisi Rere. Ia mengamati beberapa piring kotor yang tergeletak di atas meja dengan mata membelalak.
__ADS_1
“Ini serius, lo makan sebanyak ini, Re?” Cyra heran menatap piring bekas yang semuanya sudah habis.
Rere menyedot jusnya kemudian tersenyum lebar. “Iya, Ra. Perbaikan gizi. Mumpung ditraktir. Kapan lagi gue bisa makan seenak ini, coba?”
Cyra geleng-geleng kepala. Dasar Rere, kebiasaan makan sebakul. Ususnya melar kali ya.
“Kenapa lo geleng-geleng kepala gitu? Duit lo masih cukup buat ngebayarin ini semua, kan?” Rere mengernyitkan dahi cemas.
“Bukannya gini aja udah jelek, ya?” Rere nyengir setelah mengucapkan kata-kata itu. “Gue mana bisa gendut, Ra. Keturunan keluarga gue pada cungkring-cungkring semua. Buktinya ini body gue nggak gendut-gendut juga meski porsi makan gue sebanyak ini. Kayaknya gue mesti nyari suami berdompet tebel nih biar bisa ngasih makan banyak buat gue.”
Cyra tertawa menanggapi banyolan sahabatnya. Pandangannya kini tertuju ke arah Zaki. Pria itu terlihat sedang melenggang keluar kafe setelah menyelesaikan urusan pembayaran.
“Lo udah selesai belum?” tanya Cyra.
__ADS_1
“Belum, Ra. Jangan buru-buru ngapa! Ini jus gue aja belum abis.”
“Re, gue ada perlu sama Zaki. Urusan gue belum kelar sama dia. Buruan, yuk.”
“Kan sayang jusnya kalo ditinggalin, Ra. Perut gue udah kenyang makan tiga piring tadi. Nunggu makanan dalam perut turun dulu baru bisa diisi sama jus.”
“Astaga, Re. besok-besok lagi aja deh minum jusnya. Masih ada lain waktu. Gue juga harus nganterin lo ke rumah lo, kan? Entar Zaki kelamaan nungguin gue.”
“Iya, deh. Iya. Lagian kenapa urusan lo nggak diselesein aja di sini, sih. Dari tadi kalian ngapain aja?”
“Bawel!” Cyra memanggil pelayan dan membayar tagihan. “Ayok, buruan!” ajaknya pada Rere keluar kafe.
TBC
__ADS_1