PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 50


__ADS_3

“Kamu sehat, kan? Keliatannya agak pucat. Cuma kelelahan atau lagi sakit?” Tanya soleh menatap Zalfa.


“Bahkan dalam keadaan nggak terang pun kamu bisa ngeliat kondisi wajahku dengan cermat. Kamu bukan paranormal, kan?” sahut Zalfa.


“Hahaaahaaaa... Bisa aja kamu.”


“Aku lelah. Seharian ini rutinitasku menyita tenaga. Ya udah, aku masuk duluan.”


“Hm...” Soleh mengangguk.


Zalfa menutup jendela.


Kenapa Soleh yang muncul? Disaat Faisal menghilang di lautan, disaat Arkhan yang bukan seorang muslim itu membuat banyak ulah, Soleh hadir di depan mata. Apakah itu artinya ada tanda-tanda jodoh diantara mereka?


Zalfa menggelengkan kepala membuang pikiran di otaknya. Bagaimana bisa ia berpikir kalau Soleh adalah jodohnya?


Zalfa kemudian mandi dan shalat isya. Ia sudah tertinggal jauh sejak adzan isya tadi. Sampai detik ini, hatinya masih terpaut pada Faisal. Semua kenangan indah dan niat untuk menyempurnakan separuh agama bersama Faisal terekam jelas dalam ingatannya.


Zalfa mengesah. Faisal, kamu dimana? Apakah kamu udah berada di alam lain? Ya Tuhan, berikan jawaban-Mu?


Meski Faisal terkadang suka nakal dan jahil, tapi dia jelas memiliki kepribadian yang baik. Tidak ada yang bisa menghapus itu dari benak Zalfa.


***


Zalfa meletakkan gelas kosong yang baru saja ia teguk ke meja. Pagi ini Zalfa sedang tidak berselera sarapan apapun, ia hanya meneguk susu saja. Tiba-tiba saja perasaan ragu muncul di benak Zalfa. Entah kenapa kini ia merasa resah, ragu untuk menikah dengan Arkhan. Zalfa masih merasa bimbang dengan keputusannya itu. Arkhan adalah sosok yang arogan dan dunianya dipenuhi dengan teka-teki. Mungkinkah Zalfa sangguppenuhi dengan teka-teki. Mungkinkah Zalfa sanggup berdampingan hidup dengan pria searogan Arkhan? Sama sekali tidak pernah terpikir olehnya akan memiliki calon pendamping hidup berkepribadian seperti Arkhan. Lalu kenapa sekarang pilihan itu justru jatuh kepada Arkhan?


Nada pesan yang bersumber dari ponselnya membuat Zalfa segera meraih ponsel dari dalam tas.


 


**Arkhan**


 


Zalfa, apa kamu sibuk?


By Arkhan.

__ADS_1


 


**Zalfa**


 


Enggak. Kenapa?


 


**Arkhan**


 


Kita ketemu sekarang


 


**Zalfa**


 


 


**Arkhan**


 


Ini darurat dan gk bisa kubahas lewat ponsel.


Zalfa berpikir agak cemas. Darurat? Darurat soal apa? Zalfa mengernyit heran.


 


**Zalfa**


 

__ADS_1


Apa ini soal musuhmu itu?


Jangan sangkut-pautkan aku jika ini menyangkut mereka.


 


**Arkhan**


 


Lebih dari itu.


Kutunggu di kafe jalan melati.


Sekarang.


Zalfa


Baiklah.


Zalfa menyambar tas lalu keluar dengan perasaan was-was. Apa sebenarnya hal darurat yang ingin disampaikan Arkhan? Perasaanya mendadak tak karuan. Mungkinkah menyangkut penembakan itu? Tapi kenapa harus dirinya yang dilibatkan? Ah, entahlah.


***


Di sisi lain, Arkhan keluar kamar mengenakan kemeja putih. Ekspresinya sedikit tegang dan tatapannya tajam menghunus.


“Kak, mau kemana? Aku ikut!”


Arkhan menoleh ke sumber suara di belakangnya. Elia memasang muka cerah bersahaja dan berlari mendekatinya.


“Nggak bisa. Lebih baik kamu belajar. Jangan main terus. Apa kamu nggak inget pesan Mama?” Arkhan berjalan menjauhi adiknya.


“Aku mau ikut.” Elia mengikuti Arkhan.


Arkhan berhenti dan menoleh. Adiknya itu memang seperti ekor jika ia berada di rumah. Selalu mengikuti dan menempel terus. Mereka memang tidak memiliki ayah semenjak Mamanya bercerai sepuluh tahun silam dan Arkhan menjadi seperti pengganti sosok seorang ayah bagi Elia hingga gadis itu kerap ingin berdekatan dengan kakaknya.


“Aku nggak mau kamu ikut,” tegas Arkhan membuat wajah Elia ditekuk.

__ADS_1


TBC


__ADS_2