
Cinta memang misteri. Ngejogrok sesukanya, nggak nengok-nengok tempat. Zaki bahkan tidak menyangka bisa jatuh cinta pada Cyra, gadis ceroboh yang ia harapkan berada di tiang gantungan setelah pertemuan pertamanya dengan gadis itu. Bahkan Zaki juga sempat berharap semoga Cyra kecebur sumur, dan kenyataannya malah kecebur kolam.
Zaki memperlambat kelajuan mobilnya saat melihat anak muda bergigi maju. Zaki ingat, ia sempat menatap wajah itu saat pria itu saat ia dikeroyok oleh tiga orang dan pria itu yang bertugas memegangi tangan Cyra.
Zaki menghentikan mobilnya, memperhatikan dengan seksama wajah si gigi maju. Takut salah orang. Sebab memang tidak hanya satu orang saja yang memiliki gigi seperti dia. Setelah memastikan dengan ketajaman matanya, ia yakin ia tidak salah orang. Rambut dan postur tubuhnya yang cungkring juga sama.
Zaki turun dari mobil, berjalan menuju pria muda yang sedang duduk nongkrong bersama seorang temannya di kursi dekat trotoar. Zaki memegang pundak pria itu membuat pria bergigi maju itu menoleh. Sontak pria itu terkejut begitu menatap wajah Zaki.
Zaki mencengkeram belakang leher baju pria muda itu saat pria muda itu hendak ambil langkah seribu. Sementara satu temannya sudah kabur, ngibrit dan ketabrak tiang listrik gara-gara keasikan menoleh ke belakang, lalu kembali lari lagi meski sudah terpental dua meter.
Zaki jadi merasa seperti satpol PP yang sedang merazia pedagang kaki lima. Zaki melingkarkan lengannya ke leher pria muda itu dari belakang, satu tangan Zaki memutar lengan pria muda itu ke belakang hingga pria itu merintih kesakitan merasakan lehernya yang serasa dicekik dan lengannya berasa akan copot dari persendian. Zaki juga menekan belakang lutut pria itu untuk memaksa berlutut.
“Aaaakh… Maaak… Paaak…. Tangan anakmu hampir copot. Belum kawin Maaaaak.” Si gigi maju mengeluarkan kalimat permohoanan yang kedengaran aneh di telinga Zaki.
Hari gini anak segede itu masih berteriak memanggil mak pak, aneh tapi nyata.
“Kenapa kau mengeroyokku? Apa kita ada masalah?” Zaki berbisik di telinga pria muda itu.
__ADS_1
“Arrgkh… Sakit, Bang. Ampun, Bang!” Pria muda itu membungkukkan perut menahan sakit.
“Jawab!” bentak Zaki dengan gigi menggemeletuk, berasa pengen menggigit daun telinga pria bergigi maju itu.
“Maaf, Bang. Gue cuma disuruh.”
“Kenapa mau?”
“Diajakin temen.”
“Dapet duit lo?”
“Siapa yang nyuruh?”
“Aarrgkhh… Sakit, Bang! Lepasin, bang!”
“Lo belum jawab pertanyaan gue!”
__ADS_1
“Tapi sakit, bang! Sakit banget. Aaaargkh… Ampun!”
“Jawab! Kalo enggak, gue retain gigi lo.”
“MEmang itu yang gue harapkan, Bang. Pasang behel mahal, Bang.”
Yah, malah ngejawab dia!
Zaki memperkuat pegangannya pada tangan pria itu hingga terdengar rintihan semakin kuat dari pria itu.
“Argh…!” Kali ini Zaki yang merintih sesaat setelah sebuah kerikil menghantam sangat keras tepat pada caruknya. Pedas gila! Untung caruknya tidak berlubang. Zaki menyentuh caruknya, dan menoleh, mencari pelakunya. Tidak ada siapa-siapa. Ia hanya melihat seseorang berlari dari balik pohon. Entah siapa pria itu.
Zaki melihat si gigi monyong sudah tidak ada di hadapannya, pria itu lari ngibrit.
Sial! Zaki meninju udara. Sedikit lagi dia mengetahui dalang dibalik pengeroyokan itu, tapi gagal.
Oke, Zaki tidak akan berhenti sampai di situ. Ia akan mengejar si gigi tongos itu untuk menginterogasi lebih lanjut. Jangan pikir Zaki akan berhenti sampai di situ.
__ADS_1
***
Tbc