PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
77. Jangan Menyerah


__ADS_3

“Status kita yang pacaran begini, apa mungkin nggak bakalan jadi masalah di kampus? Kalau ketahuan dekan, apa dekan nggak akan mempermasalahkan ya?” tanya Cyra dengan muka merah merona, kali ini merah merona karena kasmaran, bukan lagi karena malu.


“Nggak ada salahnya dosen memiliki hubungan khusus dengan mahasiswinya. No problem. Yang penting kita di kampus jaga sikap, punya etika. Selesai. Nggak ada yang harus dipermasalahkan.”


“Jadi jaga sikap Cuma di kampus aja?”


“Kamu tuh ya!” Zaki mengetuk ujung hidung Cyra dengan telunjuknya. “di luar kampus juga jaga sikap. Kalau macem-macem di luar kampus, sama aja kita bakalan kena masalah. Kalau kita mau macem-macem jangan sampe ketahuan siapa-siapa biar nggak jadi gossip di kampus dan nggak ada yang ngaduin kita ke dekan.”


“Zaki iiihh… Macem-macem gimana sih maksdumu? Emangnya kita ngapain?”


“Ha haaa… Nggak macem-macemlah. Aku laki-laki baik.”


“Tapi nggak bertanggung jawab.”


“Loh? Emangnya aku ngapain kamu kok disuruh bertanggung jawab?”

__ADS_1


“Kemarin kamu bilang mau ngelamar aku pas hari ulang tahunku, buktinya apa? Melempem. Kamunya malah main kabur aja.”


“Itulah yang membuatku mengajakmu ketemuan di sini, untuk membicarakan masalah itu.”


Obrolan terhenti ketika pelayan datang menyajikan hidangan. hidung Cyra mengendus aroma masakan.


“Jadi laper!” celetuk Cyra menatap sajian.


“Yok makan!” Zaki memulai santapannya. “Kamu tahu apa yang terjadi di acara ulang tahunmu waktu itu?”


“Tahu. Aku potong kue, trus kamu mau kukasih kue malah melengos.”


Cyra sontak tersedak. Zaki buru-buru mengambilkan air minum untuk Cyra dan mengarahkan bibir gelas ke mulut Cyra sementara tangan lainnya mengelap punggung tangannya yang kena serpihan makanan yang muncrat dari mulut Cyra.


“Zaki!” pekik Cyra membuat Zaki menoleh ke arah Cyra.

__ADS_1


Zaki terbelalak menatap pundak Cyra yang basah tersiram air. Pandangan Zaki kemudian tertuju ke gelas yang ia pegangi dalam posisi miring di atas pundak Cyra.


“Maaf!” Zaki mengambil tisu lalu mengelap pundak Cyra dan turun sampai ke bwah, tepatnya di dada Cyra.


Segera Cyra menampik tangan Zaki. “baru aja kamu bilang nggak boleh macem-macem dimanapun berada, ini udah macem-macem.” CYra memelototkan mata.


“Tujuanku baik, Ra. Mau ngelap yang basah. Kamu sendiri yang bilang aku suruh jadi laki-laki bertanggung jawab, kan?”


“Iiiih… Itu mah nyari kesempatan di tengah kesempitan. Aku bisa ngelap sendiri. Ini masih dalam masa pubertas, nggak boleh ada yang nyenggol-nyenggol.” Cyra menarik tisu dan mengelap baju dadanya yang basah.


Zaki mengulumm senyum melihat tangan mungil Cyra yang begitu telaten mengelap bagian yang basah.


“O ya, tadi ceritanya gimana? Mamaku bilang kalau dia pengen Alfa yang jadi pendamping hidupku kelak, begitu?” tanya Cyra setelah selesai dengan pekerjaannya. “Kok, aku baru tahu? Kenapa mama bisa berpikiran kayak gitu, ya?”


“Hm. Intinya mamamu memiliki simpati yang begitu besar terhadap Alfa. Sebab di matanya, Alfa adalah anak yang baik dan sangat pantas untukmu. Aku cukup tahu diri, nggak mungkin aku ngegas ngedeketin anaknya sementara mamanya nggak menginginkanku. Dengan terang-terangan mamamu mengatakan itu di hadapanku.”

__ADS_1


“Jadi? Kamu nyerah gitu?” Cyra menatap horor.


TBC


__ADS_2