
Mata Cyra membelalak menatap jam dinding di depan matanya, sudah pukul 10.50 pm. Cyra tersentak dan langsung meletakkan gelas kosong yang airenya baru saja ia teguk. Ia baru saja menghabiskan waktu berkumpul bersama keluarga dan kerabatnya yang datang dari luar kota di ruang keluarga. Dan sekarang ia berada di ruang makan sesaat setelah berpamitan pada seluruh kerabat yang masih berkumpul saat ia tinggalkan. Ia masih mengenakan gaun pengantin yang belum sempat ia ganti.
Dimana Zaki? Hanya itu yang terlintas di kepala Cyra. Ia tidak mau kecolongan, jangan sampai Zaki duluan yang memasuki kamar pengantin, Cyra harus duluan berada di kamar penagntin sebelum Zaki. Sebab Cyra pasti akan salah tingkah saat memasuki kamar diperhatikan oleh Zaki. Lebih baik Cyra yang memperhatikan Zaki bukan?
Cyra melangkah lebar meninggalkan ruang makan. Langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Andini di ambang pintu.
“Lho, Cyra kok masih di sini? Kirain udah masuk ke kamar. Masuk kamar sana! Ganti pakaianmu!” tegur Andini.
Cyra mengangguk.
“Ini kan malam pertamamu, jadikan malam yang spesial. Barang kali Zaki udah nungguin di kamar,” lanjut Andini membuat jantung Cyra berdebar tak karuan.
“Aku ganti baju dulu, Ma. Panas pakai gaun ini.”
“Iya. Pergilah!”
__ADS_1
Cyra meninggalkan mamanya dan menaiki anak tangga. Sesampainya di lantai dua, ia malah menjadi seperti orang kehilangan akal. Sesaat ia berdiri mematung di depan pintu kamarnya yang tertutup. Entah kenapa jantungnya jadi deg-degan. Cyra malu sendiri jadinya.
Akhirnya Cyra nekat, tangannya menjulur memegang knop pintu lalu memutarnya. Baru saja pintu terbuka sedikit, jantungnya kian berdebar-debar. Ia mengintip ke dalam.
Uuugh… Lega. Tidak ada siapa-siapa. Zaki tidak ada di kamar. Sesaat pandangan Cyra mengedar ke seisi kamar. Ia takjub menatap kamarnya yang terlihat jauh berbeda, disulap dengan hiasan yang menarik. Ranjang ditabur dengan bunga berwarna merah, alas kasur lengkap dengan selimut tampak mewah dengan kesan warna gold. Perfect, kamar terlihat sangat indah dan menarik mata.
Ah, Cyra tidak punya waktu untuk menikmati keindahan kamarnya. Ia harus bergerak cepat malam ini. Ia bergegas masuk kamar lalu menarik handuk dari gantungan dan lari ngibrit ke kamar mandi. Satu-satunya tujuannya sekarang adalah mandi secepat kilat, ia tidak akan berlama-lama di kamar mandi seperti biasanya supaya ia sudah selesai semua saat Zaki menyusulnya masuk ke kamar. Keringat yang menempel di tubuhnya membuatnya merasa gerah dan secepatnya menyiram kulit tubuh dengan air.
Setelah mandi dengan gerakan kilat, Cyra buru-buru keluar kamar mandi dengan lilitan handuk di tubuhnya.
Mata Cyra membelalak menatap Zaki yang baru saja masuk dan kini pria itu berdiri nyender di pintu setelah menutupnya. Pria itu masih mengenakan jas pengantinnya. Jantung Cyra berlarian menyadari suaminya itu menatapnya dengan intens. Cyra kikuk dibuatnya. Penampilannya kini sungguh tidak nyaman untuk dipandang meski sesungguhnya sudah halal bagi Zaki untuk menatapnya.
Cyra melihat tangan Zaki bergerak seperti sedang mengunci knop pintu. Jantung Cyra semakin berdebam-debum. Kemudian Cyra memalingkan wajah saat matanya beradu pandang dengan Zaki. Ia buru-buru membuka lemari untuk mencari pakaian tidur. Ia ingat ucapan mamanya tadi, bahwa ini adalah malam pertamanya dengan Zaki. Ya ampun, kenapa Cyra segugup ini? Ada apa dengannya?
Cyra mengambil pakaiannya asal-asalan. Saat akan mengenakannya, gerakannya terhenti karena menyadari Zaki ada di belakangnya. Bagaimana ia bisa leluasa memakai benda-benda mungil yang kini ada di tangannya di saat Zaki memperhatikannya begini. Eh, memangnya Zaki sedang memperhatikannya?
__ADS_1
Cyra menoleh untuk memastikan. Zaki sudah tidak berdiri di pintu, melainkan duduk di sisi ranjang. Dengan tenang pria itu mengamati Cyra.
“Jangan ngeliatin aku kayak gitu, dong!” Cyra tidak jadi mengenakan pakaiannya.
Zaki hanya mengangkat alis, masih menatap Cyra tanpa berkomentar apapun.
Dih! Tatapan Zaki beda banget. Cyra jadi salah tingkah. Lalu bagaimana caranya Cyra mengenakan pakaiannya jika ditatap Zaki seperti sekarang?
“Kenapa memangnya? Apa perlu kubantuin make bajunya?” Zaki bangkit berdiri mendekati Cyra.
“Hah?” Cyra malah membelalak.
“Jangan teriak, nanti dikira kita lagi ngapa-ngapain lagi.” Zaki sudah berada sangat dekat di depan Cyra.
“Aku bisa pakai sendiri. Udah, nggak usah mendekat.”
__ADS_1
Zaki tak perduli. Ia malah semakin mendekat dan mengikis habis jarak di antara mereka. Jangan tanya bagaimana kerasnya degupan jantung Cyra saat ini. Bahkan tatapan mata Zaki yang tak biasa semakin membuat organ tubuh Cyra menjadi lemas.
TBC