PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
145. Jealouse


__ADS_3

“Jadi kapan kamu ngelamar Cyra? Jangan lama-lama, entar digodain setan!” ucap Andini.


“Untuk saat ini aku nggak bisa bahas itu, Tan. Intinya, Cyra harus fokus dulu selesein kuliahnya. Entar kalo lulus, aku pasti nikahin Cyra,” jawab Zaki dengan tenang.


Horeeee....! batin Cyra bersorak girang. Cara Zaki bicara begitu wibawa di depan mamanya, seakan-akan Zaki tidak memiliki rasa grogi. Lihatlah, dia begitu rileks tanpa beban. Ah, jadi makin gemes sama nih cowok ganteng.


“Ooh... Bagus itu. Cyra memang harus lulus kuliah dulu baru mikirin yang lain-lain. Lagi pula kamu tahu sendiri, Cyra itu paling susah bangun pagi. Gimana dia bisa bertanggung jawab sama suami kalau bangun pagi aja nggak bisa.”


“Ya kan aku bakalan punya pembantu, Ma. Biar pembantu yang urusin sarapan, beres-beres rumah dan lain sebagainya, kan nggak repot,” celetuk Cyra membela diri.


“Loh, yang punya suami itu kan kamu. Kok, yang ngurusin suami pembantu?”


“Yang ngurusin Zaki ya akulah, Ma.” Cyra nyengir setelah mengucapkan kalimat itu seraya melirik pria yang duduk di sisinya.


Zaki tampak tenang, tidak menanggapi. Ia meraih air mineral dan meneguknya. Cyra cukup kagum dengan sikap Zaki yang begitu tennag dalam situasi seperti ini.


“Kamu udah selesai makan?” Andini menatap piring Zaki yang sudah kosong. “Mau nambah lagi?”


“Makasih, Tan. Udah kenyang.”

__ADS_1


“Lain kali kita makan bersama lagi, ya. Ooh iya, lusa kalau Zaki sudah jadi nikah sama Cyra dan jadi menantu Tante kan kita akan sering makan bersama begini.”


Zaki melempar senyum.


Ya ampun, mama apaan sih, dikit-dikit menyinggung soal nikah, Cyra tuh gugup setiap kali membahas itu. Apa lagi di meja makan begini. Berbeda dengan Zaki, dia tetap tenang.


“Tante juga udah selesai makan, nih. Kalian urus aja dulu urusan kalian. Tante mau ke salon.” Andini bangkit berdiri, meninggalkan meja makan setelah mengelap mulutnya dengan tisu.


Cyra melirik Zaki lagi, pria itu belum beranjak dari kursinya, kini tampak asik memainkan ponselnya sambil senyam-senyum. Cyra melongokkan kepala, memanjangkan leher hendak melihat apa yang sedang Zaki mainkan di hape sampai-sampai seasik itu, tapi layar ponsel Zaki tidak terjangkau oleh pandangannya.


“Zak, kamu beneran mau bantuin aku susun skripsi?”


“Zak!” Cyra menginjak kaki Zaki di bawah meja.


“Aduh. Ada apa, Ra?” Zaki terpaksa menoleh.


“Diajak ngomong malah nggak ngegubris.”


“Ngomong apa tadi?”

__ADS_1


“Emang kamu lagi ngapain, sih? Main game? Kok, senyum-senyum gitu?” Cyra balik nanya.


“Oohh... Itu loh, Bu raini kirim pesan.”


Cyra mendelik sebal. Bu raini? Dosen yang ganjen itu?


“Jadi kamu keliatan hepi banget sejak tadi tuh gara-gara berbales pesan sama Bu Raini? Sampe-sampe aku nggak diopenin? Seberapa penting sih Bu Raini buat kamu?” ketus Cyra dengan wajah merah padam.


Zaki malah tersenyum melihat Cyra ngambek. Kemudian ia menyerahkan ponselnya kepada Cyra.


“Ayo, ambil!” ucap Zaki menunjuk ponsel di tangannya dengan dagu.


“Buat apa?” Cyra mengernyit tak mengerti.


“Liat aja isi ponselku!”


Tanpa banyak tanya lagi, Cyra pun merampas ponsel Zaki dan melihat histori terakhir, apa yang Zaki pelototin sampai-sampai senyum melulu saat menatap ponsel. Apa isi pesan Bu Raini? Awas saja jika ada yang mengarah ke hal-hal negatif. Cyra bakalan mengerahkan jurus handalnya kepada Zaki. Salah siapa menanggapi godaan Bu Raini.


TBC

__ADS_1


__ADS_2