
“Itu jari-jarimu ya yang tadi hampir nyulek lubang idungku? Bau jengkol. Bikin bersin aja.” Cyra mengerutkan hidungnya.
“Mamamu kan masak semur jengkol, dan aku nyicipin tadi. Mungkin jariku nggak sengaja nyentuh benda beraroma parfum itu. Ngomong-ngomong, kamu nggak pa-pa kan? Nggak ada yang retak atau patah tulang? Nggak gagar otak atau hilang ingatan kan? Tanggamu itu lumayan, loh.”
“Enggak. Cuma sakit di kepala belakang sama di pundak aja. Kayaknya terantuk-antuk agak keras tadi.”
“Emangnya kenapa kok bisa ngegelinding? Kalau mau guling-guling tuh pilih tempat yang empuk. Di ranjang kek. Tunggu aku halalin kamu dulu baru guling-guling sama aku, ini main seruduk tangga aja.”
Cyra membelalak. Ini apa lagi maksud ucapan Zaki? Main guling-gulingan segala? Ya ampun, Zaki cepet banget nyambernya kalau urusan yang satu itu.
Zaki memegang belakang kepala Cyra, kemudian mengurutnya sebentar. “Sakit?”
“Iya, nyeri.”
“Entar juga sembuh sendiri.” Zaki menjulurkan tangannya membantu Cyra berdiri. Pria itu juga memunguti buku-buku yang berserakan. Cyra memungut laptop dan penanya.
Mereka berjalan menuju ruang tamu. Cyra meletakkan laptop dan pena ke meja, ia duduk di lantai dengan kedua tangan berada di atas meja.
Zaki duduk di sofa, samping Cyra. Mereka memulai pekerjan dengan santai.
Hanya butuh waktu setengah jam, tugas pun hampir selesai. Cyra hanya tinggal menyelesaikan sedikit lagi.
“Zaki, kenapa sih kamu mesti ngasih aku tugas juga? Aku dikasih dispensasi, dong. Keringanan tugas sebagai mahasiswi pilihan.”
__ADS_1
“Maksudnya, kamu nggak mau dikasih tugas sama aku?”
“Nyenenging aku dikit aja, kek. Tugasmu Cuma ngasih tugas buat temen-temenku. Dan aku nggak perlu kamu kasih tugas.”
“Nanti kamu nggak pinter.”
“Sedangkan Ronaldo aja nggak perlu mesti…”
“Oke oke. Nggak usah diterangin panjang lebar. Kelamaan. Ya udah. Aku hanya akan kasih kamu tugas dua minggu sekali.”
“Beneran?”
“Hm.”
“Ini namanya aku nggak professional. Pilih kasih. Nggak adil.”
“Sejak awal kamu memang udah nggak adil. Awalnya kan aku yang dapet tugas paling mengerikan. Sekarang saatnya aku dianak emaskan.”
Zaki terdiam, menatap keceriaan Cyra yang terpancar jelas melalui ekspresi wajahnya.
“Selesaikan aja tugasmu sekarang!” titah Zaki.
“Oke, Pak Dosen!” Cyra kembali menulis.
__ADS_1
“Aku baring di sini.” Zaki membaringkan tubuhnya di sofa panjang.
“Jangan tidur, ya!”
“Hm.” Zaki memejamkan mata. “Aku nungguin kamu, kok.”
Cyra terus menulis. Sepuluh menit kemudian, tugasnya pun selesai. Ia menutup buku. Menyusun buku-buku tersebut menjadi satu tumpukan, ia juga melipat laptop. Kemudian ia menoleh dan menatap wajah Zaki yang berada satu jengkal dari pundaknya. Pria itu tertidur pulas. Jelas saja Cyra tahu kalau Zaki benar-benar sudah terlelap melalui deru nafas Zaki yang terdengar teratur. Baru saja Cyra meminta supaya Zaki tidak tidur, tapi pria itu malah tertidur begitu cepatnya.
Apa yang harus Cyra lakukan sekarang? Ia ingin membangunkan Zaki, tapi kasihan melihat Zaki yang sudah pulas sekali. Akhirnya ia meraih ponsel, main game.
Tak lama, Cyra pun menguap. Matanya berair dan kelopak mata juga terasa sangat berat. Tanpa sadar, ponsel di tangannya terlepas dan menggeletak di meja saat kantuk benar-benar sudah tidak bisa ditahan. Kepalanya terjatuh, nyender.
***
TBC
Maaf sekali lagi kalau banyak typo, aku tuh begitu ngetik langsung posting, jadi agak berantakan.
Sekali lagi, bagikan cerita ini ke temen-temen kalau kalian suka ceritanya.
Makin banyak yang ngunjungin cerita ini, makin semangat aku ngetiknya.
Love,
__ADS_1
Emma Shu