
Alya hanya sedang mengetes Zaki saja dengan cara mengarang cerita, seakan-akan ia pernah melihat Zaki membawa seorang gadis jalan-jalan. Dan secara tidak langsung, Zaki mengakuinya. Soalnya sepulang dari luar kota, Alya sempat melihat motor Zaki yang jadi kotor. Sudah enam bulan terakhir, Zaki tidak pernah mengendarai motor, motornya itu menjadi penunggu garasi. Ia paling malas naik motor sejak memiliki mobil pribadi, apa lagi disaat kondisi cuaca buruk. Jejak kotor pada tubuh motor milik Zaki, membuktikan kalau Zaki pernah membawa kendaraannya berkeliling.
“Hayooo… Siapa cewek itu? Kok, nggak dikenalin sama mama?” Alya mengacak rambut Zaki seperti yang selalu ia lakukan saat Zaki masih kecil. “Mama tahu kok kamu udah dewasa, umurmu udah hampir memasuki dua puluh delapan tahun. Umur segitu udah pantes kalau ngasih mama cucu. Udah tahu caranya bikinin mama cucu, kan?”
Zaki membelalak. Ya ampun, mamanya itu memang bocor. Apa maksud dari pertanyaannya itu?
“He hee… Jangan kaget gitu. Kamu udah gede. Jangan kelamaan membujang, entar keburu nggak laku. Kalau ketuaan, udah susah nyari perawan.”
Zaki mengesah. Astaga, mamanya meragukan kehebatannya sebagai pria sejati. Masak ganteng-ganteng begini, bahkan memiliki profesi sebagai dosen, bisa-bisanya mamanya mengatainya bakalan nggak laku? Performanya sebagai lelaki jelas tidak diragukan lagi. Tidak ada yang kurang dalam dirinya. Lalu apa lagi yang membuat wanita tidak tertarik? Kalau dia boleh jujur pada mamanya, bukan hanya satu atau dua orang saja wanita yang terang-terangan mengaku menyukainya. Ini membuktikan kalau Zaki memiliki kualitas bagus di amta para wanita. Bahkan Cyra juga demikian, di awal pertemuan, selalu Cyra yang nyosorin terus. Cyra juga yang menembaknya.
Dunia semakin tua, dan semakin kesini, dunia ini diisi oleh banyak wanita dari pada laki-laki. Apa itu ya salah satu alasan para wanita berebutan dan berlomba mencari pasangannya supaya nggak kehabisan? Ehe heee… Nggak gitu juga kali.
“Jadi siapa kekasihmu itu? Kapan kenalin ke mama?” tanya Alya penasaran.
__ADS_1
Zaki ingin mengatakan kalau gadis yang Zaki cintai adalah Cyra. Tapi kenapa hatinya berat sekali untuk mengatakannya? Setelah pengakuan Andini dan disaksikan oleh mamanya, mungkinkah ia mengatakan tentang Cyra? Setidaknya Zaki adalah lelaki yang tahu diri, mengerti dengan posisinya. Bahwa tak mungkin ia menyodorkan diri pengen menikahi Cyra disaat orang tua dari sang gadis mengharapkan pria lain untuk menjadi menantunya. Jika jodoh, Cyra pasti akan menjadi miliknya. Ini bukanlah saat yang tepat untuk Zaki bertindak.
“Hei, kok, malah bengong?” Alya menarik daun telinga Zaki.
“Suatu saat pasti aku kenalin ke mama.”
“Jangan kelamaan. Nanti nggak jadi loh kalau kelamaan.”
“Ucapan itu kan doa. Jangan harapkan yang nggak baik gitu.”
“Ya sudah, Mama ke kamar dulu. Jangan lupa, inget umur semakin bertambah. Makin tua makin mengkisur. Nggak baik, loh.”
Zaki mengernyit. Itu amksudnya yang mengkisut apaan? Mulai deh. Error banget jadinya.
__ADS_1
Alya melenggang meningalkan kamar.
Zaki menghempaskan tubuh ke kasur. Ia mengirim pesan kepada Cyra.
Zaki
Happy dreams
Zaki tak menyangka jika ternyata Cyra membalas pesannya. Sudah malam begini, gadis itu masih belum tidur. Dasar cewek tukang bangkong, begadang saja kerjaannya.
Cyra
Iya, galak!
__ADS_1
***
TBC