PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
124. Hilang


__ADS_3

Cyra berlari menuju koridor, setelah melewati banyak pintu kelas, ia pun langsung memasuki kelasnya.


Oh em ji, kemana ponselku? Kok, nggak ada? Dengan rasa panic, Cyra sibuk mengobrak-abrik meja tempatnya tadi duduk manis mengerjakan ujian. Berkali-kali telapak tangannya menepuk jidat akibat frustasi.


“Ketemu, nggak?” tanya Rere yang mengikuti Cyra memasuki kelas. Didapatinya Cyra tengak menunduk-nunduk ke kolong meja sampai akhirnya kepalanya kejeduk meja.


“Kalau udah ketemu, nggak mungkin pal ague sampe nyeruduk meja gini kali, Re.” Cyra mengusap-usap keningnya yang benjol seketika. Dengan kesal, ia memukul meja yang telah tega membuat keningnya jadi benjol. “Aw!” Untuk kedua kalinya Cyra merasa teraniaya akibat telapak tangannya yang malah jadi sakit setelah memberi pelajaran pada si meja.


“Biar gue miskol.” Rere menelepon nomer ponsel Cyra. Kepalanya kemudian menggeleng. “Nggak aktif, Ra.”


“Waduh, gawat nih. Alamat hp gue ilang. Seinget gue, tadi tuh gue tarok hp di laci sebelum ujian. Selesai ujian, gue keluar kelas dan kita makan di kantin.”


“Nah, ada yang ngambil hp lo kali, Ra.”


“Tapi siapa?”


“Kalo gue tau, nggak mungkinlah gue kayak orang bego gini.”


“Lo telpon gih orang-orang yang duduk di deket meja gue. Siapa tahu mereka tahu.”

__ADS_1


Rere mengangguk. Kemudian ia menelepon beberapa orang yang duduk di sekitar meja Cyra. Hari itu, Cyra duduk di meja nomer dua dari belakang. Dan di dekat meja Cyra, bukan lagi Kiwol dan Alfa yang mendudukinya, tapi lain orang lagi. Setiap ujian, tempat duduk seisi kelas selalu diacak. Otomatis tempat duduk anak-anak berpindah-pindah.


“Nggak ada yang tahu, Ra.” Rere putus asa.


“Waduuuh… gawat ini.” Cyra semakin frustasi.


“Halah, lo kehilangan hp aja udah kayak kehilangan Pak Zaki. Bisa beli lagi kali, Ra.”


“Bukan itu masalahnya, pesek. Di dalemnya tuh kan banyak nomer-nomer penting, banyak memori penting juga, koleksi foto gue sama Zaki, kenangan chat-chatnya Zaki, trus mobile banking gue juga ada di sana.”


“Kalau mobile banking gak usah cemaslah Ra, kan ada passwordnya.”


“Syukurlah nyadar.”


Cyra menoyong kening Rere.


“Eh iya, tapi di hp lo nggak ada video anu-anu, kan?” Rere mengedip-ngedipkan matanya.


“Anu-anu apa maksud lo?” Mata Cyra membelalak lebar menandakan protes gede-gedean atas pertanyaan Rere.

__ADS_1


“Kali aja ada video lo sama Pak Zaki lagi kikuk-kikuk.”


“Lo pikir gue apaan? Zaki kan pria beretika, mana mungkin begituan. Pikiran lo ngeres mulu. Cuci sana pake rinso. Digosok pake batu asah kalo perlu biar cling.”


“He heee…”


“Adu duh, udah deh jangan bahas yang aneh-aneh. Gue lagi pusing mikirin hp, nih.”


“O ya, emangnya lo nggak pake pola atau kunci hp? Kalo elo pake password kan hp pasti aman, nggak akan ada yang bisa buka hp lo itu. Mereka mesti disibukkan dengan password pas pertama kali bukan hp lo.” Rere tersenyum. “Semua rahasia di hp lo aman.”


“Nggak ada rahasia kali Re, lagian jaman begini pastinya manusia paham sama tekhnologi canggih. Kalau Cuma soal buka kunci, mereka pasti punya ide cemerlang buat buka.”


“Ya udahlah, relain aja.”


“Enteng banget lo ngomongnya. Oke deh, sekarang gue mesti ke grapari buat ngurus kartu.” Cyra melenggang keluar kelas diikuti oleh Rere.


***


TBC

__ADS_1


KLIK LIKE


__ADS_2