PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
62. Rebutan


__ADS_3

Tak lama kemudian Mbak yang duduk di kursi depan Cyra mendapat panggilan. Cyra melompat cepat hendak duduk di kursi itu. Nah, kan enak kalau udah dapet tempat duduk. Kakinya nggak akan kesemutan lagi. Biar ngantri lama juga nggak pa-pa, yang penting bisa duduk.


E eh, tunggu dulu. Ini kursi kok lebih tinggi dari kursi lainnya ya? Kok ngeganjel? Cyra terkejut setengah hidup saat menyadari kalau ia menduduki paha seorang pria, tepatnya sekarang ia berada di pangkuan seorang pria.


Cyra buru-buru bangkit berdiri sebelum akhirnya pria yang ia duduki mengaduh akibat pucuk kepala Cyra yang menghantam hidung si pria.


“Ini kursiku! Kan aku yang duluan nyamber kursinya, kok malah kamu yang duduk duluan, sih?” tegur Cyra kesal pada Pria itu.


“Apa kamu nggak lihat, aku duluan yang duduk di sini, hm?” bentak pria yang tengah menunduk sambil memegangi hidung itu tak kalah sengit.


Sontak pertikaian antara Cyra dan si pria itu menjadi pusat perhatian seisi ruangan.

__ADS_1


Cyra membelalak kaget saat si pria mengangkat wajah dan melepas pegangan tangannya dari hidung. “Zaki?” Cyra nyengir lebar.


Zaki tak kalah kaget, karena ternyata cewek ceroboh dan telah berhasil membuat batang hidungnya hampir bengkok itu adalah Cyra. Ya ampun, ini entah yang ke berapa kalinya Cyra membuat Zaki celaka. Baru beberapa bulan mereka saling kenal, sudah begini nasib yang yang Zaki terima. Bagaimana kalau bertahun-tahun lamanya?


“Sorry, Zaki!” Kemarahan Cyra meluntur. Bagaimana mungkin ia bisa marah pada Zaki? Pria itu yang telah mengenalkannya dengan arti cinta. Kalau Cyra tahu tadi yang tanpa sengaja memangkunya itu adalah Zaki, tentu Cyra tidak akan bangkit berdiri dari duduknya. Ia akan bertahan di pangkuan Zaki untuk beberapa menit lamanya.


“Hidungmu retak? Atau patah?” tanya Cyra asal ceplos.


“Enggak pa-pa. nyeri aja.” Zaki mengurut sebentar batang hidungnya. Sumpah, hidungnya sakit banget. Tapi masak sih dia harus merintih-rintih di depan banyak orang? Jaga gengsi.


“Jangan berlebihan,” sewot Zaki menatap Cyra dengan tatapan tajam.

__ADS_1


“Aku serius. Hidungmu merah. Kalau bengkak gimana?” Cyra memperhatikan hidung mancung Zaki.


Bukannya menanggapi, Zaki malah menarik pergelangan tangan Cyra kemudian menyuruh gadis itu duduk di kursi yang ia duduki.


Cyra terhempas duduk sesuai perintah si empunya.


“Ini nomerku nomer dua puluh Sembilan, setelah pasien di dalem keluar, nomerku yang dipanggil.” Zaki emnyerahkan nomer antriannya pada Cyra.


“Loh, trus kamu gimana? Kamu ke sini buat berobat juga, kan?” tanya Cyra yang membuat orang-orang di sekeliling sana keheranan, baru saja dua insan itu saling sembur pakai otot, kini saling tolong menolong dengan pandangan kasmaran.


“Besok aja ke sini lagi.” Zaki kemudian melenggang pergi.

__ADS_1


Cyra menatap kepergian Zaki, kemudian pandangannya tertuju ke nomer antrian yang diberikan Zaki. Ah, Zaki so sweet banget. Rela berkorban demi untuknya. Lope lope dah buat Zaki. Cyra membayangkan ada gambar love beterbangan keluar dari dadanya. Nggak nyangka bisa ketemu Zaki di sini. Jodoh banget kayaknya. Pake rebutan kursi segala lagi. Nggak sengaja bisa dipangku saam Zaki. Lah, trus itu tadi yang ngeganjel itu punyanya Zaki? Cyra kemudian menutup mukanya yang memerah dengan kedua telapak tangan sambil senyum-senyum. Ah, Zaki. Bikin orang jadi setengah aneh begini.


TBC


__ADS_2