
“Ra, gawat!” Rere memasuki kelas dengan ekspresi panik. Nafasnya ngos-ngosan dan keringat sbesar biji jagung mencuat di pelipisnya.
Cyra menatap jengah sabahatnya itu. Tak heran, tingkah Rere memang suka heboh. Segala sesuatu selalu dibikin heboh. Makan kepedesan juga heboh, minum terlalu manis lebih heboh. Lihatlah, hidung peseknya kembang kempis saat ingin mengatakan sesuatu yang dia bilang GAWAT. Bisa ditebak, paling-paling Rere Cuma mau bilang baru saja melihat cowok ganteng. Basi. Cyra kembali fokus ke buku, menulis dengan khidmat.
“Ra!”
“Ya udah ngomong aja, apanya yang gawat? Barusan ngeliat cowok jongkok dan ngeliat celan dalemnya? Atau apa?” Cyra terus menulis.
“Ini… Ini… Ini…”
“Ini ini mulu. Buruan ngomong!”
“Ini soal anu… Itu loh siapa tuh yang ganteng itu?”
Nah kan bener, yang dibahas pasti soal cowok ganteng. Dasar Rerre. Biar pesek dan udah sebelas kali ditolak cowok, masih aja semangat banget sama yang namanya cowok ganteng. Apa nggak patah semangat atau putus asa gitu?
__ADS_1
“Itu loh Ra, Pak Zaki.”
Kali ini Cyra langsung mengangkat kepala, menatap Rere kaget. “Zaki kenapa?”
“Anak-anak pada ngerumun di depan ruangan dekan, mereka penasraan apa yang terjadi sama Apk Zaki. Katanya Pak Zaki mau diberhentiin gitu dari kampus.”
Jantung Cyra murni hampir copot saat itu juga. “Serius lo?”
“Serius. Ayo kita ke sana!”
“Awas, minggir!” Cyra menyingkirkan tubuh-tubuh yang menutupi pandangannya. Dengan susah payah ia menyusup masuk sampai akhirnya berada di paling depan. Melalui jendela, Cyra melihat Zaki yang duduk berhadapan dengan dekan. Jelas terlihat raut wajah dekan berperut buncit itu tidak bersahabat.
Ya Tuhan, apa yang terjadi? Apa benar gossip yang anak-anak katakan kalau Zaki bakalan dikeluarin? Cyra cemas bukan main. Perdebatan yang terlihat serius antara Zaki dan dekan, membuat Cyra ingin masuk dan ikut menjelaskan perkara yang sebenarnya. Tapi apa benar masalah yang sekarang dibahas dekan adalah video itu? Kalau ternyata bukan masalah video itu yang menjadi topik pembicaraan, tentu Cyra akan malu sendiri.
Dekan menoleh ke kaca, menatap anak-anak yang berkerumun seperti orang-orang sedang berebut minta jatah daging qurban. Dekan bangkit berdiri dan menutup jendela dengan tirai hingga anak-anak tak lagi bisa melihat kejadian di dalam. Termasuk Cyra, yang jadi bengong dan pengen nyakar-nyakar dinding.
__ADS_1
Terdengar dengungan anak-anak yang membicarakan persoalan Zaki. Mereka menyebut-nyebut Zaki sebagai dosen sembrono karena melakukan adegan ciuman dengan mahasiswi. Pandangan anak-anak lantas tertuju kepada Cyra, yang disebut-sebut sebagai lawan ciuman Zaki.
Cyra masih terpaku. Ia ingat muka Zaki yang tegang saat berhadapan dengan dekan. Ia ingat bagaimana Zaki terlihat serius menjelaskan sesuatu pada dekan dan sepertinya dekan tidak menerima penjelasan Zaki.
Zaki… Maafin aku. Semua terjadi gara-gara aku. Cyra sangat menyesal. Kalau boleh menjerit sambil menangis, Cyra sudah mangap lebar sejak tadi untuk meluapkan segala yang berkecamuk dalam dadanya.
Cyra menoleh ke sekitar, anak-anak yang lain sudah bubar. Hanya tinggal dirinya dan Rere yang saling pandang.
“Sabar ya, Ra!” Rere mengelus lengan Cyra.
Ah, si pesek bisa aja bikin hati Cyra tenang. Cyra mengangguk.
Tiba-tiba pintu terbuka dan Zaki menyembul keluar. Ia menoleh saat mendapati Cyra.
Cyra dapat melihat dengan jelas gurat sedih di muka Zaki, pria itu terlihat sangat frustasi. Zaki mengusap wajahnya kemudian menggaruk caruknya yang pasti tidak gatal.
__ADS_1