PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
82. Jangan Salah Paham


__ADS_3

“Jangan salah paham dulu, Ma. Tadi itu…” Zaki sendiri bingung harus mencari alasan seperti apa untuk membela diri. Ia sduah tertangkap basah memeluk Cyra. Atau jangan-jangan mamanya juga tahu adegan kecup singkat yang Zaki lakukan kepada Cyra tadi? Oh… Jangan sampai! Kalau memang benar ketahuan, mau ditarok mana mukanya nanti? Beraninya main sosor anak gadis orang. Pasti ceramah panjang akan menjadi wejangannya hari ini.


“Tadi itu apa? Apa?” alya memasang muka garang. Persis seperti Zaki kalau sedang marah.


Zaki memalingkan wajah. Sekarang ia harus menjawab apa? Otaknya buntu.


“Kamu tahu nggak hukuman apa yang pantas kamu terima dari perbuatanmu tadi?” Alya berkacak pinggang.


“Dijewer rambutnya kayak tadi,” ceplos Zaki asal.


“Bukan hukuman dari mama, tapi dari Yang Maha Melihat.”

__ADS_1


Jantung Zaki berdetak kencang mendengar kata ‘Yang Maha Kuasa’. Kok, tiba-tiba perasaannya nggak nyaman banget? Ada resah yang menggelayuti benaknya. Apa itu yang dinamakan dosa? Ah, Zaki jadi merasa bersalah sudah main sosor terus sama Cyra. Efek ucapan mamanya berasa banget, nimbus ke jantung.


“Kamu itu udah gede, udah dewasa. Nggak perlu lagi mama ajarin mana yang baik dan mana yang buruk. Kamu sendiri bisa memilihnya. Anehnya, udah tahu itu dosa kok ya dikerjain.”


Nah, bener kan dapet ceramah? Zaki terdiam seribu bahasa. Memang, ia harus selalu diawasi biar perbuatannya bisa direm.


“Justru karena kamu udah dewasa, tindakan kamu ke cyra tadi, bisa menimbulkan masalah besar. Apa lagi kalau kebablasan, bisa bunting anak orang. Bukan hanya di dunia ini aja kamu menanggung resiko, tapi juga pertanggung jawabanmu di hadapan Tuhan. Di akhirat nanti, apa yang akan kamu katakan, hm? Yang kamu lakukan itu tadi udah termasuk ke perbuatan Zina. Bahaya! Untung sekarang siang. Nah, siang-siang aja kamu berani nyosorin bibir Cyra, gimana kalau malem?”


Loh, jadi benar mamanya melihat adegan kecup singkat tadi? Ya ampun, Zaki malu sekali.


“Apa kamu mencintai Cyra?”

__ADS_1


Pertanyaan Alya membuat Zaki langsung menatap mamanya itu.


Zaki mengesah. Kemudian menjawab, “Ya.”


“Dan Cyra juga mencintaimu?”


Interogasi terprivat yang baru kali ini Zaki rasakan. Rasanya canggung meski sebenarnya sudah pantas ia membicarakan hal begitu pada mamanya. Sebab ini adalah pertama kalinya.


“Ngak perlu kamu jawab, mama udah tahu, kalian saling suka.” Alya bicara penuh ketegasan. “Jujur aja mama nggak ngelarang kamu berhubungan dengan Cyra, tapi sekarang masalahnya, Tante Andini dan Om Farhan itu menginginkan Alfa yang jadi kekasih Cyra, bukan kamu.”


Zaki menatap mamanya. “Aku mengerti soal itu, Ma. Tapi sekarang intinya aku dan Cyra saling mencintai. Apakah Alfa akan tetap berada di tengah-tengah kami? Apakah Tante Andini tetap akan bersikukuh mengharapkan Alfa?”

__ADS_1


“Zaki, mama seneng banget kalau kamu ternyata benar berjodoh dengan Cyra. Jujur saja, mama sangat menyukai Cyra, anaknya cantik, baik, dan supel. Tapi, antara mama dan Tante Andini itu bersahabat, mama sangsi hubunga antara mama dan Tante Andini akan berjarak jika kamu jujur pada Tante Andini tentang hubunganmu dengan Cyra, sebab Tante Andini nggak menginginkanmu.”


TBC


__ADS_2