
Lumayan, sekarang aroma sudah berganti menjadi aroma deterjen. Kok ya ada mama yang menjadikan Wc sebagi tempat untuk mengurung anak. Nggak kira-kira banget menghukum anak. Itu baru persoalan kue ulang tahun yang jadi rusak, nah kalau urusan yang lebih parah dari itu, entahlah. Hukuman apa lagi yang akan Cyra terima.
Ini bukanlah kali pertamanya Cyra menerima hukuman dari mamanya. Dan bukan hal baru bagi Cyra harus bergumul dnegan yang namanya hukuman.
Dulu, Cyra sudah pernah diberi hukuman paling mainstream saat terciduk mamanya bolos sekolah. Ia disuruh bersolawat sampai dua ribu kali di depan pintu rumah. Sampai domble deh tuh bibir. Untuk menghitung jumlah solawatnya saja Cyra kebingungan, bagaimana bisa kelar? Kenapa Cyra mengatakan itu adalah hukuman paling mainstream? Karena untuk mengucapkan solawat berulang-ulang, lidah Cyra berasa kayak dipelintir. Muter-muter nggak jelas. Aduh, pokoknya ribet deh.
Yang membuat Cyra terkesan ketika ia mendapat hukuman disuruh membersihkan gudang yang akhirnya Cyra limpahkan kepada Zaki. Cyra malah cengar-cengir mengingat hal itu.
Kaki Cyra kesemutan gara-gara kelamaan berdiri. Ingin duduk, tapi duduk di mana? Nggak mungkin kan ngejogrok di atas lubang Wc duduk? Meski posisinya kayak kursi, tapi kan nggak lazim.
Lima belas menit berlalu, cukup jamuran bagi Cyra bertatapan dengan si manis lubang WC. Jemu sekali rasanya.
Cyra tersenyum lebar saat pintu akhirnya dibuka juga oleh mamanya.
__ADS_1
Andini menatap Cyra dengan ekspresi iba. Setelah ia marah-marah dan memberi hukuman pada putrrinya itu, akhirnya hatinya luluh juga melihat Cyra cengar-cengir di kamar kecil.
“Ayo, keluar!” ajak Andini sembari meraih lengan Cyra, membimbing utrinya itu keluar kamarkeci. “Makanya kamu tuh nurut kalau dikasih tau mama, jangan ngeyel!”
“Iya, Ma.”
“Ya udah, kamu ganti baju sana!. Keluarga Tante Alya udah dateng, tuh.”
“Siap!” Cyra menghambur naik ke lantai atas. Masuk ke kamar dan langsung membuka lemari.
Sempurna, ia terlihat jauh lebih dewasa saat mengenakan gaun itu. Cyra mengikat rambut dan menjepitnya dengan simpul. Ada sisa sehelai di keningnya sepanjang dagu.
Setelah penampilannya terlihat menarik, Cyra turun ke lantai bawah, menuju ruang tamu. Ia mengernyit melihat suasan ruangan yang sepi. Tidak ada siapa-siapa. Bukankah kata Andini, keluarga Zaki sudah datang? Lalu kemana mereka? Mungkin sedang melihat-lihat situasi ruangan lain.
__ADS_1
Cyra menghempaskan diri duduk di sofa. Pandangannya berkeliling, menatap ke sekitar. Ruang tamu tidak ada yang berubah. Kuenya juga tidak ada.
Ngomong-ngomong, jadi ulang tahun apa enggak, sih? Cyra mendengus. Atau jangan-jangan mamanya membatalkan acara gara-gara kue ulang tahunnya rusak?
“Cyra! Kok, masih di sini?” Andini menghampiri Cyra.
“Jadi mesti kemana?”
“Ke belakang. Semua udah nunggu di kolam renang.”
“Ooh…” Cyra kayak orang bingung. “Mama sih nggak ngasih tahu. Aku jadinya nggak tahu lokasi ultahnya dimana.”
“Ayo!” Andini meraih pundak Cyra dan membawanya ke kolam renang belakang rumah.
__ADS_1
Cyra tersenyum melihat orang-orang yang hadir di sana. Alya, Surya, Zaki dan Papanya Cyra sudah berkumpul di sana. Meski tidak ada yang berubah dari suasana kolam renang karena memang tidak dihias, namun kehadiran Zaki cukup membuat suasana berubah. Hanya ada lampu kelap-kelip yang ditambahkan Andini di dekat pintu sebagai pemanis.
TBC