PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
28. Mampus!


__ADS_3

Seperti biasa meak-emak rempong lainnya, dua emak gaul itu cipika-cipiki terlebih dahulu sambil berbicara berbarengan sampai tidak tahu mana yang harus didengarkan. Anehnya, keduanya menjawab dan menanggapi lawan bicaranya dengan serentak pula. Ya ampun, gitu amat ketemu temen lama. Yang mendengarkan saja bingung mana yang mau ditanggapi, tapi mereka yang bicara berbarengan bisa mengerti apa yang lawan bicaranya katakan.


Zaki menatap Cyra yang juga tengah menatapnya. Kedua insan yang sedang menyandang status dua sejoli itu malah curi-curi pandang. Zaki sedang mengagumi kecantikan Cyra. Sedangkan Cyra sedang memikirkan bagaimana caranya nanti supaya bisa duduk bersebelahan dnegan Zaki.


Setelah beberapa menit berbasa-basi dengan kata-kata yang menurut Cyra tidak bermutu, Andini akhirnya menggiring Zaki dan kedua orang tuanya menuju ruang makan.


Alya duduk bersisian dengan suaminya. Andini duduk berhadapan dengan Alya. Cyra masih berdiri menunggu Zaki memilih kursi.


Sial! Zaki duduk di kursi paling sudut, tepat di samping kiri Zaki tidak ada kursi, sedangkan di sebelah kanan sudah ditempati Alya. Zaki nggak kreatif banget, milih tempat duduk yang nggak strategis. Nggak tau apa kalau Cyra ingin duduk di dekat Zaki?


Cyra akhirnya menghempaskan diri di kursi tepat depan Zaki. Jujur saja, sebenarnya Cyra paling tidak suka duduk berhadapan dengan cowok yang dia sukai saat makan. Alasannya, orang pertama yang akan melihat giginya ketempelan cabe adalah orang yang duduk tepat di hadapannya. Belum lagi kalau makan yang pedes-pedes, tentu saja Zaki yang pertama kali melihatnya narik-narik ingus. Yiiieeeeek…


Menghindari hal-hal buruk tersebut, Cyra tidak mengambil maknan berbau cabe. Lebih aman makan yang gurih-gurih saja.


Cyra jadi salah tingkah melihat Zaki yang sejak tadi memperhatikannya. Mata Zaki rasanya kayak tembak. Yang ditatap mata, tapi yang kejer malah jantung. Jleb jleb…

__ADS_1


Andini mempersilahkan tamunya makan dengan sangat ramah. Mereka pun memulai makan sambil berbincang hangat.


“Suamiku lagi di luar kota, jadi nggak bisa ikutan dinner mala mini. Lain kali kita makan malem lagi biar kalian bisa kenalan sama suamiku,” ujar Andini penuh semangat.


“Oh pantesan dari tadi nggak keliatan,” sahut Alya. “Ini suamiku, namanya Surya. Ganteng, kan? Udah seumuran begini aja masih keliatan gantengnya. Apa lagi pas muda dulu.” Alya memulai perbincangan ringan. Membuat Surya tersenyum tipis tanpa menanggapi.


“Iya, gantengnya menurun sama anakmu tuh.” Andini melirik Zaki.


“Ganteng itu relatif, Tan. Kata orang, ganteng nggak bikin kenyang,” sahut Zaki yang merasa menjadi bahan pembicaraan.


“Heheee…” Serentak seisi meja makan tertawa.


“Jadi Zaki ini katanya kan dosen, ngajar dimana?” Tanya Andini.


“Di…”

__ADS_1


“Di kampusnya Cyra,” sahut Cyra memotong jawaban Zaki. “Zaki baik banget di kampus, jadi dosen idola.”


Perkataan Cyra membuat Zaki mengangkat kakinya dan menendang kaki Cyra di bawah meja. Sontak Cyra menatap Zaki dan tersenyum lebar. Maksud kata-katanya tadi supaya mamanya memiliki nilai simpati pada Zaki. Nggak salah, kan?


Cyra balas menendang kaki Zaki.


Hmm… Zaki tidka mau diam. Dia pun membalas tendangan kaki Cyra dengan kuat.


“Aduh, Cyra kenapa nendang kaki mama, sih?” Andini protes.


Hah? Jadi yang ketendang barusan adalah kaki Andini? Berharap bisa menyenggol kaki mulus Cyra, eh malah kaki nyokapnya yang keseruduk. Zaki buru-buru menarik kakinya dan mengeluarkannya dari bawah meja. Kalau ketahuan dia yang baru saja menendang, mau ditarok mana mukanya nanti?


Cyra tidak mengomentari ucapan mamanya, dia malah tertawa cekikikan sambil menatap Zaki.


Mampus! Emang enak nendang kaki calon mertua? Cyra tadi sengaja menjauhkan kakinya ke samping saat tahu Zaki pasti akan membalas tendangannya. Alhasil, untuk pertama kalinya Zaki berhasil memberi tendangan pada calon mertuanya. Eh, calon mertua? Itu pun kalau direstui.

__ADS_1


__ADS_2