
Penasaran dengan apa yang terjadi pada kamarnya, Arkhan langsung menuju ke meja resepsionis. Untuk sesaat ia mengamati wajah resepsionis yang menunggu meja. Beberapa jam yang lalu, bukan pria plontos itu yang menjadi resepsionis.
Otaknya memberi ide bahwa mungkin mereka sudah berganti sip. Ia pun malas memikirkan hal itu. Tujuannya ke sana untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi, kenapa seorang gadis yang justru masuk ke dalam kamar yang setengah jam lalu sudah dia tempati.
“Coba cek, siapa yang menempati kamar nomer 234?” Arkhan memancing seakan-akan sedang menjadi detektif.
“Memangnya ada apa dengan kamar itu, Mas?”
“Aku memerintahmu, jangan balik nanya!” Arkhan menggebrak meja membuat resepsionis menggigil ketakutan. “Ayo, cepat cek!”
Resepsionis mengangguk patuh. Ia membuka buku agenda dan menjawab, “Jonathan Yoseph, usia dua puluh Sembilan tahun.”
Arkhan mengernyit. Nama yang disebutkan oleh resepsionis adalah nama aslinya yang tertulis di KTP.
__ADS_1
Resepsionis menatap wajah Arkhan dengan seksama. “Bukankah itu Anda?”
“Tadi aku melihat ada seorang gadis memasuki kamar itu. Berarti kamar itu diisi orang lain setelah tadi aku memasukinya?” tegas Arkhan membuat resepsionis bergidik ngeri menatap ketajaman mata pria itu. Sengaja Arkhan memasang muka garang ditambah intonasi bicaranya yang tinggi supaya resepsionis buka suara.
“Mungkin ada yang salah masuk kamar. Dan mungkin Anda lupa mengunci pintu saat meninggalkan kamar.”
Arkhan mengingat-ingat. Tapi sepertinya ia sudah mengunci pintu saat meninggalkan kamar. Namun kemudian Arkhan mengangguk.
****!
Batinnya mengumpat. Dia teringat minuman yang ia teguk dari pelayan. Pasti ada sesuatu yang dibubuhkan ke dalam minuman itu.
Jelas, ini adalah sesuatu yang direncanakan. Tapi entah apa rencana dibalik semua itu. Tunggu saja saatnya ia mencari pelayan itu dan memberi hukuman ngeri atas rencana terselubung tersebut. Satu saja pertanyaan yang akan ia ajukan, siapa dalang yang menyuruhnya memberikan minuman. Awas kau!
__ADS_1
Arkhan tergopoh menuju kamarnya. Punggung tangannya sesekali mengusap peluh yang membanjir di pelipis. Sekuat tenaga ia berusaha menahan diri atas apa yang menyerang tubuhnya. Ia langsung membuka pintu kamar dan ngeloyor masuk.
Seingatnya, ia belum mematikan lampu kamar, dan sekarang yang menyala hanyalah lampu tidur yang membuat pandangannya menjadi kurang jelas. Satu-satunya tujuannya kini adalah kamar mandi, ia ingin melepas semuanya dengan caranya sendiri.
Namun niatnya urung, langkahnya terhenti saat melihat sosok gadis terbaring di ranjang king size miliknya. Sepertinya dewi fortuna berpihak padanya, sangat memahami apa yang ia butuhkan.
Ya ampun, Arkhan sampai lupa dengan gadis yang memasuki kamarnya gara-gara rasa aneh yang menguasai tubuhnya. Mungkinkah dia gadis malam yang dikirim Reza untuknya? Ataukah gadis bayaran yang sedang kesepian? Ah, disaat akal sehatnya tidak bisa diajak kompromi, ia tidak ingin berpikir apa-apa lagi.
Arkhan menaiki ranjang. Temaram lampu tidur membuatnya perlu mendekati wajah gadis itu untuk mengamati dengan jelas. Pemandangan spektakuler, kecantikan gadis itu sungguh luar biasa dan sangat memikat.
Dahi Arkhan mengernyit, ia seperti pernah melihat wajah gadis cantik itu, tapi ia tidak punya waktu untuk memikirkan jawabannya. Kondisinya benar-benar diluar kendali.
TBC
__ADS_1