
Cyra termenung sesaat setelah menerima infiormasi kalau Zaki akan mendapat panggilan di kampus lain. Kenapa Cyra tidak rela jika Zaki menjadi dosen di tempat lain? Cyra ingin Zaki kembali di kampus tempatnya menuntut ilmu.
Zaki tidak berslalah, kenapa Zaki harus menerima hukuman yang tidak seharusnya ia terima? Bukankah itu tidak adil bagi Zaki?
Setelah berpikir panjang, Cyra melenggang menuju ruangan dekan. Jantungnya berdegup horor saat sudah berdiri di depan pintu. Kenapa malah keringat dingin yang duluan mencuat di pelipisnya saat ingin menghadap dekan begini? Bertemu dekan bukanlah hal biasa baginya, butuh nyali, butuh keberanian, butuh power besar. Niatnya sudah bulat, ingin membicarakan masalah Zaki. Jangan sampai mundur lagi hanya karena takut kena sembur.
Cyra akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu. Kemudian ia masuk mendengar dekan mempersilahkannya masuk.
“Pagi, Pak dekan!” Cyra mengangguk sopan.
“Pagi!” dekan yang selalu terlihat wibawa dengan muka lempeng tanpa pernah terlihat senyum itu, menatap Cyra sekilas kemudian kembali fokus ke laptopnya yang menyala.
Duuh… Cyra gemes sekali melihat kepala plontos Pak dekan. Mulus.
“Ada perlu apa?” tanya dekan masih sibuk dengan laptopnya.
“Saya mau membicarakan masalah Pak Zaki,” jawab Cyra sesaat setelah duduk di kursi depan dekan.
Dekan tidak menanggapi. Tatapannya kini beralih ke kertas-kertas yang emnumpuk. Kemudian ia menelepon.
__ADS_1
Ya, dikacangin. Cyra mendengus.
Hingga hampir sepuluh menit menunggu, dekan tak juga memutus pembicaraan yang kelihatannya penting itu dari teleponnya.
Bayangin, sepuluh menit itu waktu yang cukup lama untuk duduk berhadapan dengan dekan. Bagi petani, apsti sudah bisa menanam padi lumayan luas. Huh, ya ampun.
Usai menelepon, dekan tidak langsung menatap Cyra untuk mengajak bicara, melainkan sibuk mengurus mouse-nya yang macet.
Cyra mulai kesal. Kalau tidak mengingat pria di hadapannya itu adalah dekan yang harus dihormati, Cyra pasti sudah mengeramasi kepala botak Pak dekan di sungai ciliwung.
“Pak, bisa saya bicara sebentar?” Cyra akhirnya angkat bicara.
Lah, dia nanya lagi. Cyra terpaksa menjawab dengan jawaban yang sama. “Saya mau membicarakan masalah Pak Zaki.”
Dekan menghentikan kegiatannya, menyandarkan punggung di sandaran kursi. Lalu menatap Cyra dengan pandangan penuh tanya. “Apa yang perlu dibicarakan mengenai Pak Zaki?”
“Sebenarnya Pak Zaki tidak bersalah.”
Dekan tersenyum tipis. “Bukti sudah bicara. Video itu menunjukkan tindakan tidak pantas seorang dosen pada mahasiswinya, kenapa kamu membelanya?”
__ADS_1
“Dia bukan dosen saya waktu itu Pak.”
Dekan mengerutkan dahi.
“Kejadian itu terjadi saat Pak Zaki belum berstatus dosen di sini. Artinya dia bukan dosen saya waktu itu,” terang Cyra.
Dekan mengerutkan dahi, tampak berpikir.
Cyra sebenarnya ingin mengatakan kalau dialah yang berslah dan Zaki adalah korban, maka tidak seharusnya Zaki menerima hukuman itu. Namun Cyra ingat pesan Zaki, agar tidak menyia-nyiakan pengorbanan yang Zaki lakukan. Andai saja Cyra sampai dikeluarkan dari kampus akibat mengakui kejadian yang sbenarnya, maka Zaki tidak akan pernah mau bertemu Cyra lagi. Itu adalah ancaman terburuk yang pernah Cyra dengar. Dan Cyra tidak mau hal itu terjadi.
TBC
Jangan lupa klik tombol like setiap chapternya.
Makin banyak yang nge-like, makin semangat aku nulisnya.
Dukung penulis dengan mengeklik like, nggak susah kan?
Love,
__ADS_1
Emma Shu