PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
79. Muka Tegang


__ADS_3

Sesuai dengan rencana, Cyra mengantar Rere sampai ke kos-kosannya. Ada banyak cowok sedang nongkrong di depan kos-kosan pria, tepat di samping kos-kosan wanita. Para cowok yang sedang asik main gitar itu terdengar bersiul-siul sambil mengarahkan pandangan kepada Cyra yang wajahnya terlihat jelas melalui kaca jendela yang terbuka. Tujuan Cyra membuka kaca jendela untuk sekedar melambaikan tangan kepada Rere, tapi ia malah mendapat tatapan penuh godaan dari para pria yang diyakini adalah mahasiswa tekhnik di kampus yang berbeda.


Cyra juga mendengar kata-kata rayuan dari mereka.


Wah wah, begitu amat cowok kalo ngeliat cewek. Cyra kembali menutup kaca jendela dan segera mengegas mobil meninggalkan lokasi itu.


Mendadak perasaan Cyra menjadi tak nyaman saat mengingat perkataan Zaki yang membahas tentang mamanya. Cyra tak habis pikir, bagaimana mungkin mamanya bisa beranggapan kalau Alfa itu cocok menjadi pendamping hidupnya?


Cyra baru sadar, selama ini mamanya tidak pernah melarangnya keluar bersama Alfa, mamanya juga elalu menerima kedatangan Alfa dengan tangan terbuka. Bukan itu saja, sambutan mamanya terhadap Alfa berbeda saat menyambut temannya yang lain. Mungkin benar kata Zaki, mamanya memiliki simpati terhadap Alfa. Wajar, karena memang Alfa adalah pria yang sopan dan ramah.


Cyra membelokkan mobilnya ke halaman rumahnya. Ia kemudian berlari menyeberangi jalan menuju ke rumah Zaki. Pria tampan itu sudah menunggu di teras rumahnya, duduk sambil memainkan ponselnya. Cyra menghampiri Zaki dan duduk di salah satu kursi, berbatas dengan meja terbuat dari rotan.

__ADS_1


“Kok, lama?” Zaki mengangkat alis, emnatap gadisnya.


“Tadi nganterin Rere dulu.”


“Owh.”


“Obrolan kita tadi sampe mana?”


Zaki meletakkan ponsel ke meja, ia menoleh ke wajah Cyra. “Mamamu itu sangat menyukai Alfa, kamu perjelas terlebih dahulu ke mamamu hubungan antara kamu dengan Alfa. Kemungkinan mamamu salah paham, dia mnegira kamu juga menyukai Alfa karena kalian selama ini sering bersama-sama.”


“Apakah Alfa juga mencintaimu?”

__ADS_1


Cyra terdiam untuk beberapa saat, kemudian menggeleng sambil berkata, “Nggak tahu.”


“Jika diantara kalian nggak ada perasaan apapun, lantas atas dasar apa mamamu memintamu untuk bisa berhubungan dengan Alfa? Tapi kalau ternyata alfa mencintaimu, kemungkinan mamamu bakalan ngotot. Papamu juga suka sama Alfa.”


“Zak, tapi ini nggak akan jadi pemisah kita berdua, kan?” Muka cYra mendadak cemas. “Aku takut mama sama papaku ngejodohin aku sama Alfa. Apa lagi orang tuanya Alfa kan rekan bisnis papa. Aku bisa apa, Zak? Kamu tahu sendiri aku nggak punya nyali gede buat ngelawan orang tuaku.”


Zaki tersenyum. “Kan kamu belum bahas ini ke mamamu dan bahkan kamu belum tahu keputusan mamamu seperti apa setelah mendengar penjelasanmu. Kamu juga belum tahu penjelasan Alfa, kalau Alfa nggak ada rasa ke kamu, lalu untuk apa kamu cemaskan masalah ini? Emangnya mungkin, mamamu bakalan ngotot menyatukan kamu dan Alfa kalau diantara kalian nggak ada rasa apapun? Jangan berpikiran buruk dulu.”


Ekspresi wajah Cyra masih terlihat tegang meski sudah mendapat penjelasan demikian. Ia benar-benar takut kehilangan Zaki. Meski sering mengeluh dan protes, namun ia bukanlah gadis pembangkang yang berani membantah kedua orang tuanya. Terbukti ia selalu patuh saat harus menerima hukuman.


“Zaki, tapi…”

__ADS_1


“Pssst…” Zaki menyentuh bibir Cyra dengan telunjuknya, meminta supaya gadis itu tidak menyampaikan kecemasan yang tidak perlu dirasakan, sebab kecemasan itu belum tentu akan terjadi.


TBC


__ADS_2