
Cyra berlari tunggang-langgang menuju gedung kampus seusai memarkirkan mobil. Cukup sekali manic matanya melirik arloji di tangan. Ia sudah telat setengah jam.
Ini semua terjadi gara-gara tamperware, akhirnya ia harus berlari dengan kecepatan melebihi pelari nasional. Dan sepulang dari kampus, ia tak tahu bagaimana menghadapi mamanya nanti. Mungkin ia akan diketok dnegan satu set tamperware yang kurang satu itu. Atau bisa jadi disuruh berendam selama tiga jam di bak mandi sampai mengkisut. Ugh, entahlah… Jangan pikirkan itu. Cyra harus fokus dengan keterlambatannya kali ini.
“Permisi. Maaf, saya telat.” Cyra berdiri di ambang pintu kelasnya sembari membungkukkan badan ke arah dosen yang tengah member materi.
Seluruh pandangan mahasiswa yang duduk, tertuju kepada Cyra.
Tidak ada jawaban, Cyra merasa bakalan mendapat masalah.
“Kenapa terlambat?” tanya dosen sambil mendekati Cyra.
Cyra malah membelalak mendengar suara bariton yang menanyainya itu. Matanya kini menatap sepasang kaki yang berdiri tepat di jarak satu meter darinya itu. CYra sangat mengenal suara itu. Ia mengangkat wajah. Dan… Deg! Jantungnya langsung mengehntak keras begitu menatap wajah tampan Zaki.
__ADS_1
Tuhan, nggak salah? Yang sekarang di hadapannya itu Zaki? Atau mata Cyra sudah mulai katarak sampai slaah lihat begini? Atau ia sedang berhalusinasi?
Cyra mengucek matanya untuk memperjelas pandangan. Ah, ia tidak sedang berhalusinasi. Yang berdiri di hadapannya itu beneran Zaki. Jadi, kampus tempat Zaki mengajar yang tadi dimaksud Zaki adalah kampus ini? Iiiih… kenapa Zaki nggak juju raja dari awal? Sengaja mau bikin kejutan apa gimana? Kalau tidak sedang di depan umum, Cyra sudah mencubit pipi Zaki sambil bilang, ‘uluh uluuuh.. imutnya’.
Tunggu dulu, tapi bagaimana ceritanya, Zaki bisa duluan sampai di kampus sementara tadi Cyra duluan meninggalkan Zaki. Zaki pasti ngebut banget, tuh.
Pandangan Zaki turun ke bawah, tepat pada tangan kanan Cyra yang menenteng sandal high heel, kemudian pandangannya turun ke kaki Cyra yang nyeker alias tanpa sandal.
Anak-anak yang lain mengikuti arah pandang Zaki, kemudian terdengar gemuruh tawa yang membuat Cyra kian menahan malu.
Reputasi Cyra rasanya jadi anjlok gara-gara diketawain seisi kelas. Apes.
“Maaf, saya terlambat,” ucap Cyra.
__ADS_1
“Silahkan masuk!” jawab Zaki.
Ugh… lega! Untung Zaki tidak memperkeruh suasana. Kalau saja Zaki berani mengusir Cyra gara-gara alasan terlambat, Cyra akan memberi hukuman paling dahsyat untuk Zaki. Minimal, di luar kampus, Zaki tidak boleh menemuinya selama sebulan. Eh, apa Cyra bisa tahan nggak ketemu Zaki dalam kurun waktu selama itu? Yang ada hukuman malah berasa berbalik kepadanya.
Cyra melangkah melewati Zaki. Rasa grogi akibat diketawain, ditambah dengan tatapan Zaki yang terus mengarah kepadanya, membuatnya kehilangan kepercayaan diri hingga khirnya…
“E ehh…” Cyra merasakan tubuhnya terhuyung ke belakang saat langkah kakinya tidak tepat hingga high heels-nya miring.
Selama tubuhnya berada di udara dan siap menghentak ke lantai. Batin Cyra sempat berbicara. Mampus! Bakalan jadi bahan tertawaan kalau tubuhnya ngegelepar di lantai, dan pasti kakinya akan berada di posisi terburuk.
Tapi ketakutan Cyra tidak terjadi. Dengan gesit, Zaki refeks menangkap tubuh mungil Cyra. Lengan pria itu melingkar di punggung Cyra, sementara lengan satunya menahan pinggang gadis itu dari arah depan untuk menahan tubuh mungil itu.
TBC
__ADS_1
KLIK LIKE DI SETIAP EPISODE