PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
71. Terciduk


__ADS_3

Gawat! Kalau adegan itu ketahuan oleh orang tua Zaki, mereka pasti bisa langsung dinikahkan. Cyra ingin menghentikan Zaki, tapi kedua tangannya berada di bawah dan Zaki mengunci gerakan tubuh Cyra dengan dekapan yang begitu erat.


“Aw!” Zaki menjauhkan tubunya dari Cyra saat kakinya diinjak oleh Cyra. Ia membungkuk memegangi kakinya yang sakit.


“Enak?” Cyra cengengesan. “Nyandu banget nyiumin anak gadis orang. Dosa. Belum halal.”


“Seharusnya aku yang bileng begitu ke kamu. Kamu yang memulai, Cyra.” Zaki masih meringis menahan sakit di kaki. Buset, injakan kaki Cyra dahsyat sekali. Lebih ngeri dari kaki kuda.


“He heee… Kalau kamu berani nemuin orang tuaku untuk ngelamar, baru kukasih yang lebih.”


Ups, Cyra ngegas banget. Malu-maluin nggak ya kalo cewek yang malah keliatan nagih gini? Ah, bodo amat.


“Oh… Kamu menentangku? Pegang omonganmu itu.” Zaki penuh percaya diri.


Cyra tertawa kemudian keluar kamar dan menutup pintu.


“Cyra?”


Heh? Suara itu… Cyra terkejut dan langsung menoleh mendengar suara seseorang memanggilnya.


Oh em ji, terciduk. Yang sekarang berdiri di hadapan Cyra adalah Alya dan Surya. Muka Cyra memerah seketika. Apa yang harus Cyra jelaskan kepada sepasang suami istri itu disaat sedang kepergok keluar dari kamar Zaki begini? Ampuuuun… pagi-pagi begini kok sudah dipentok sama masalah serumit ini?

__ADS_1


“Eh Om, Tante..” Cyra tersenyum kikuk.


“Kamu… Ngapain di kamar Zaki pagi-pagi begini?” tanya Alya dengan pandangan curiga, penuh selidik.


“Mm… Itu Tan, anu…anu…”


Iiih… apaan sih ini anu-anu mulu. Mesti jawab apa, dong? Otak Cyra berpikir keras.


“Nyariin tamperware.” Akhirnya kalimat itu yang malah keluar dari mulut Cyra.


Astaga… Jawaban apa itu? Cyra ingin menaboki bibirnya.


“Nyariin tamperware? Di akmar Zaki?” Alya semakin bingung.


Nah, anu lagi yang keluar dari mulut. Cyra bingung melanjutkan kalimatnya.


“Anu apa?” tanya Alya dengan seulas senyum meski sesungguhnya menaruh curiga, apa lagi melihat gelagat Cyra yang gugup.


Pintu kamar Zaki terbuka dan pria itu menyembul keluar, sudah mengenakan kemeja rapi yang dimasukkan ke celana. Sementara tangannya menenteng kemeja kotor yang akan segera ia taruh di keranjang pakaian kotor, di dapur.


Zaki menatap wajah-wajah di depan pintu kamarnya. Wajah Surya terlihat santai, sementara Alya tampak terlihat penasaran, sedangkan muka Cyra kelihatan gugup seperti seorang terdakwa sedang diinterogasi. Zaki langsung tahu apa yang terjadi. Pasti kedua orang tuanya memergoki Cyra sedang keluar dari kamarnya. Itu sebabnya muka Cyra memerah seperti kepiting rebus.

__ADS_1


“Cyra nggak sengaja nabrak aku pas di dapur tadi,trus bajuku kotor. Sebagai bentuk pertanggung jawaban, Cyra bilang mau cuciin bajuku. Kan Bik Pay lagi nggak ada. Nih!” Zaki melempar kemeja kotornya ke muka Cyra membuat gadis itu gelagapan saat menangkapnya.


Sial! Malah dapet baju kotornya Zaki. Eh, untung kemeja Zaki wangi. Zaki pinter banget nyari alasan demi menyelamatkan Cyra.


“Ya udah, aku pergi.” Cyra tersenyum. “Misi Tan, Om.” Ia melenggang pergi menuruni anak tangga.


Cyra berlari masuk ke garasi dan mengeluarkan mobilnya dengan gerakan tergesa-gesa. Ia melempar kemeja Zaki ke jok belakang. Sekarang tujuannya hanyalah kampus. Ia sudah telat. Dalam hati, ia menyalahkan Zaki atas keterlambatannya itu. Pasti teman-temannya sudah duduk manis mengikuti materi dari dosen pembimbing. Dan Cyra, masih menyetir mobil di jalan raya.


Suara dering ponsel sudah dua kali dan Cyra mengabaikannya. Tapi deringan ketiga, Cyra pun menyerah. Ia langsung menjawab telepon begitu melihat ID penelepon, tak lain Andini. Bisa diomelin sampai satu jam kalau Cyra tidak menjawab telepon mamanya itu.


“Halo, Ma!”


“Mana tamperwarenya, Cra? Mama tungguin.”


Weeeh… Tamperware? Ya ampuuun, Cyra sampai melupakan niat awalnya mendatangi rumah Zaki gara-gara sederet kejadian yang menimpanya. Yang dia dapatkan dari rumah Zaki bukan tamperware, tapi kemeja milik Zaki.


“Lupa, Ma.”


“Apa? Cyraaaaaa….!”


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2