
“Woi… pacaran aja kerjanya!” teriak Kiwol yang tiba-tiba mengiringi di sebelah kanan. Prai berambit keribo itu sebenarnya nama aslinya Tampan, tapi terlalu ketinggian kalau muka ancur berambut kriwil itu dipanggil dengan nama Tampan. Sejak SMA, teman seangkatan Cyra itu sudah memiliki julukan Kiwol, sampai sekarang nama panggilannya tetap sama, Kiwol. Cocoklah sama tampang dan penampilannya. Sejak SMA sering kena buli akibat kondisi fisiknya yang jauh dari kata baik. Itulah dikatakan dunia Cuma adil sama orang ganteng, yang jelek kena injek-injek melulu.
“Njeplak aja lambe kalo ngomong. Ini bukan pacaran, tapi boncengan,” sahut Cyra dengan suara agak berteriak mengimbangi deru mesin motor Kiwol yang ramenya ngalah-ngalahin mesin genset.
“Sekarang iya, boncengan. Lama-lama pacaran.”
Cyra menanggapi hanya dengan menjulurkan lidah.
“Ngapain emangnya? Ngiri lo?” goda Alfa.
“Muka kayak lo mana bisa dapet cewek, palingan kalau di dunia ini laki-laki Cuma tinggal lo mdoang, saat itulah lo baru laku. Hahaaaa…” Cyra tergelak membuat Kiwol mesam-mesem. Sudah biasa menjadi bahan buli, dikatain sejelek apapun tidak pernah tersinggung.
“Gini gini gue juga pernah punya pacar, si cantik Via pas SMA jadi pacar gue, inget nggak?”
Cyra tertawa. Ya, Kiwol berkata benar. Ia pernah pacaran dengan junior bernama Vio, anaknya cantik. Ck ck ck… Saat itu, semua orang mengatakan kalau Vio kadalah orang paling sial sedunia. Sesial-sialnya orang, paling sial adalah menjadi pacar si kiwol. Sudah penampilan kacau, muka ancur, dan sejak lahir sampai SMA kelas tiga, mengaku belum pernah shalat meski setiap saat mengatakan kalau dia adalah seorang muslim. Sampai-sampai pas praiktik shalat di sekolah pun kebingungan dan berakhir dengan berlutut menghadap dinding sebagai hukuman. Nggak lama Cyra menemukan Kiwol menangis pilu sambil ngais-ngais tanah di belakang sekolah.
“Jangan dianu-anuin itu si Cyra, dia tuh pacarnya Pak Zaki, woi.” Kiwol berteriak lantang.
“Hah?” Cyra dan Alfa serentak kaget.
Kiwol malah cengengesan. “Di bioskop kemarin kalian ciuman, toh?” Logat Jawa Kiwol keluar.
__ADS_1
Muka Cyra langsung menegang, teringat kasus di bioskop. Ah, Kiwol, buka rahasia aja.
“Nggak usah ngeles lagi, anak-anak banyak yang tau kejadian itu. Malahan gue punya videonya.” Kiwol memperlihatkan barisan giginya yang berantakan. Lucu sekali dia memakai bahasa gue-lo, kaku banget, soalnya medok.
“Jangan macem-macem lo. Hapus nggak videonya?” ancam Cyra sambil menunjukkan kepalan tangannya.
“Berani lo nonjok gue, yang ada kepalan tangan lo ancur keseruduk gigi gue.” Kiwol menunjuk giginya yang maju mundur.
Cyra hanya bisa gigit bibir menatap kepergian Kiwol yang baru saja mengegas motornya.
“Buset dah, apa bener yang dibilang Kiwol?” tanya Alfa.
“Tauk ah.” Cyra tidak mau mengaku. Kan, malu.
Thin thin thiiiiiiiin….!
Suara nyaring klakson memekakkan telinga. Sontak Alfa membelokkan motor ke tepi. Namun klakson tetap berbunyi.
“Itu mobil apa masalahnya sih? Nglakson nggak tau aturan. Main pencet klakson sembarangan aja.” Cyra geram bukan main. “Sengaja cari masalah.”
Alfa diam saja, tetap konsentrasi menyetir.
__ADS_1
“Aaw!” Cyra menjerit saat mobil di belakang melintas dan genangan air yang tertampung di cekungan jalanan nyiprat mengenai separuh tubuhnya. Lfa biasa saja, tidak menampilkan ekspresi heboh meski kondisinya sama seperti Cyra, separuh tubuhnya tersiram air comberan.
Cyra memperhatian mobil yang melintasinya itu. lah, itu kan mobilnya Zaki. Kampreeet! Cyra baru tahu sedang dikerjain. Sumpah ngeselin banget. Pasti Zaki sengaja memposisikan ban mobilnya tepat mengenai genangan air. Sengaja membuat Cyra kecipratan air kotor. Impas, setelah dulu Cyra pernah menyiram Zaki menggunakan air bekas kain lap, sekarang giliran Zaki yang membuatnya jadi jijik pada badannya sendiri.
“Tuh orang sengaja banget, ya ampun airnya bau banget lagi.” Cyra menggerutu.
“Udah, nggak usah teriak-teriak. Buang energi aja. Emangnya, dengan lo teriak-teriak, baju lo bisa bersih sendiri?” alfa berucap sangat rileks.
“Bisa banget lo sesantai itu? sebel banget gue.”
“Percuma menggerutu. Cepet tua entar. Sayang kan muka cakep begini kalau mengeriput. Bawa santai aja.”
Jempol deh buat Alfa. Cool banget jadi cowok, sabarnya melebihi kesabaran ibu melahirkan. Nggak salah kalau mamanya Cyra menjadikan alfa sebagai sosok yang dipercayai.
Alfa menghentikan motor di depan rumah Cyra. Bergegas Cyra turun dan berlari masuk ke rumah setelah mengucapkan kata thank’s kepada Alfa sembari memberikan helm.
Cyra langsung menyerbu kamar mandi. Merendam tubuh di bathtub. Dalam hati terus mengutuk Zaki. Tapi kemudian kutukan itu ia tarik kembali. Mungkin memang benar kata orang, apa yang kita tuai akan kita petik. Terbukti, ia menyiram Zaki dengan air kotor, dibalas dengan cipratan air comberan. Dia nyosor mencium Zaki, dibalas sosor balik oleh Zaki. Tapi biasanya hukuman alias balasan dari perbuatan yang kita lakukan itu jedanya agak lama, ini kenapa secepat ini?
* * * * * * * * * * * * *
T o b e c o n t i n u e d
__ADS_1
L o v e ,
E m m a S h u