
Cyra kembali ke ruang makan diikuti oleh Zaki.
“Matamu nggak pa-pa, kan?” tanya alya menatap mata Zaki yang masih memerah. “Nggak ada yang copot?”
Zaki menggeleng. Memangnya kelereng bisa copot? Pertanyaan mamanya selalu nyeleneh saja.
Tak lama kemudian, Zaki menyudahi makannya. “Aku duluan ke depan.”
“Loh, enggak nambah?” tanya Andini.
“Makasih, Tan. Udah kenyang. Besok kalau dinner lagi baru nambah. Masakan Tante enak.” Zaki tersenyum kemudian bangkit berdiri.
“Iya, ini semua Tante yang masak, dibantuin sama Bik Mey. Cyra mana bisa masak. Taunya belajar mulu. Tapi biar aja deh, yang penting nilainya besok bagus dan nggak negcewain orang tua.”
Zaki tersenyum lagi untuk menanggapi kata-kata Andini. Kemudian ia melenggang menuju ke ruangan depan.
Melihat kepergian Zaki, Cyra buru-buru menghabiskan makannya. Kemudian ia meninggalkan meja makan. Semoga tidak ada yang mencurigai sikapnya yang ikut-ikutan meninggalkan meja makan setelah kepergian Zaki.
Cyra berlari menuju ke teras, ia mendapati Zaki duduk sendirian di kursi teras.
“Ehm…”
Zaki menoleh dan menatap Cyra yang batuk-batukan di sisinya. “Kenapa? TBC?”
Ya ampun, tega amat ngatain pacar kena TBC? Cyra mendengus.
“Sini duduk!” Zaki menggeser duduknya sedikit saja dan menepuk kursi di sisinya.
__ADS_1
“Makasih.” Cyra duduk di sisi Zaki. Lengan kanan Zaki yang merentang di sandaran kursi, membuat Cyra merasa berada dalam rangkulan Zaki.
“Kenapa makannya buru-buru?” tanya Cyra, sepertinya kata-katanya basi banget.
“Karena pengen ngabisin waktu berdua sama kamu.”
“Loh? Kalau aku nggak kesini, kita nggak bakalan berduaan juga kali.”
“Aku tahu kamu pasti nyusulin aku,” jawab Zaki dengan entangnya. Ia menoleh dan menatap Cyra yang bertampang polos itu.
Jujur saja, Cyra gemas sekali setiap kali menatap Zaki sedekat ini. Benar apa kata ustad, dua-duaan yang bukan muhrin itu nggak boleh. Setan lewat, bisa khilaf entar.
“Ra, kenapa kamu suka sama aku?”
“Siapa bilang? Emangnya aku pernah bilang kalau aku suka kamu, ya?”
“Kalau kamu nggak suka aku, mana mungkin kita jadian, kan?”
“Aku juga nggak tau nih kenapa bisa nerima kamu.”
“Bukannya kamu yang nggak tau aturan dan dengan enaknya nembak aku? Justru aku yang nerima kamu.” Zaki tidak terima dengan tuduhan Cyra.
“Sebenernya kan aku ngajakin kamu pacaran pas di kampus itu Cuma iseng sih. Eh nggak taunya kamu nerima aku. Ya udah, kita jadian.”
Zaki mengesah. Ternyata kelewat jujur juga tidak baik, buktinya kalimat Cyra yang jujur banget itu membuat hati Zaki jadi mencelos. Apa salahnya Cyra mengaku kalau dia sebenarnya memang suka sama Zaki? Bohong dikit kek, nggak harus sejujur itu kan?
“Kamu sendiri? Kenapa suka sama aku?” Cyra membalikkan pertanyaan.
__ADS_1
“Karena kamu yang pertama nyium aku. Belum pernah ada cewek yang nyium aku.”
Jawaban Zaki membuat ingatan Cyra kembali melayang pada kejadian di bioskop waktu itu.
“Jangan dibahas lagi soal itu. Aku ngelakuin itu juga karena kepepet.”
Obrolan mereka terhenti ketika terdengar suara saling sahut dari arah dalam rumah. Tak lama Alya, Surya dan Andini keluar.
“Maaf nggak bisa lama. Lain kali kita kumpul bareng lagi.” Alya mengelus lengan Andini penuh persahabatan. “Lusa giliranku yang ngundang kamu makan malam ke rumahku.”
“Iya. Beres itu.” Andini tersenyum ramah. “O iya, lagian ini tadi suamiku baru aja nelepon minta jemput di bandara, jadi aku pun nggak bisa nemenin lama.”
“Mama mau keluar mala mini?” Cyra menyeletuk.
“Iya, mau jemput papamu.”
“Cyra ikut, Ma.”
“Loh, tadi kamu bilang ada tugas kuliah yang harus dikerjakan. Kok, malah mau ikut mama. Kamu kerjain aja tugasmu di rumah.”
“Cyra sendirian?”
“Kan ada Bik Mey.”
“Bik Mey kan pulang male mini, Ma. Besok pagi baru balik kesini lagi.”
“Oh iya ya. Mm… Gini aja. Tante bisa minta tolong temenin Cyra sebentar nggak, Nak Zaki? Menjelang Tante pulang dari bandara. Nggak lama kok, paling satu jam aja.”
__ADS_1
Zaki langsung mengangguk menanggapi tawaran meneyenangkan itu.