PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
70. Godaan


__ADS_3

“Astaga, kamu lagi!” Zaki merutuk dengan tatapan menghunus tajam. Ia mengibaskan kemeja depannya yang terkena noda minyak, telur dadar sempat mengenai kemejanya tersebut sebelum mendarat di lantai.


“Maaf.” Cyra memperlebar senyum. Tapi tetap saja, muka Zaki tetap terlihat sebal. Cyra menatap telur dadar yang teronggok di lantai kemudian berkata, “Belum lima menit, bisa diambil.”


“Lantai ini bekas sandal. Mana mungkin makanan yang jatuh ke lantai bisa diambil lagi. Jangan masuk ke rumahku kalau hanya bikin aku jadi kacau.” Zaki mengangkat telur yang terjatuh di lantai kemudian membuangnya ke tong sampah.


“Kamu kok kembali galak lagi, sih? Kamu marah sama aku? Kan aku udah minta maaf. He heee…”


Zaki menatap wajah Cyra. Gadis itu menempelkan pipinya ke lengan Zaki. Siapa bilang Zaki marah? Mana mungkin Zaki bisa marah pada Cyra. Hitung saja seberapa banyak kecerobohan yang sudah Cyra lakukan pada Zaki, tetap saja Zaki mencintai Cyra.


Zaki melepas celemek dan menaruhnya di sandaran kursi.


“Kok, kamu masak sendiri? Bukannya ada Bik Pay?” heran Cyra.


“Bik Pay lagi ijin.”


“Tunggu dulu, penampilanmu kok rapi? Mau kemana?” Cyra menatap curiga pada penampilan Zaki. Jangan-jangan Zaki sudah mendapat kampus baru.


“Aku ini dosen. Dan aku udah dapet tempat untuk mengajar. Tentu aku harus memulai pekerjaanku.”

__ADS_1


“Hah? Dimana? Kok, kamu nggak ngabarin?” Cyra mengikuti Zaki yang berjalan meninggalkan dapur.


“Di kampus.”


“Iya. Kampus mana?”


“Apa perlu aku kasih tahu semuanya?”


“Aku kan Cuma pengen tahu. Beneran di Bogor? Atau di Jakarta?” Cyra meraih lengan baju Zaki dan mengguncang-guncangnya.


Zaki menoleh, menatap Cyra dengan seksama.


Cyra menelan saliva menatap tatapan Zaki yang berbeda. Tatapan itu… Seperti menginginkan sesuatu.


“Kamu kenapa ngikutin aku? Apa mau menontonku ganti baju, hm?” Zaki mengangkat alis.


Mnedengar kata-kata Zaki, Cyra mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia tercekat menyadari ternyata sudah berada di kamar Zaki. Ups… muka Cyra memanas. Ia kemudian melangkah ke kiri untuk segera pergi. Tapi dadanya membentur lengan Zaki yang entah sudah sejak kapan telapak tangan pria itu menapak di dinding hingga lengan kekar yang melintang itu menghalangi gerakan tubuh Cyra.


Aish, Zaki sengaja banget memasang tangan melintang begini. Dia pasti barusan ngerasain benda empuk mengenai lengannya. Rejekimu, Zak.

__ADS_1


“Ayo, kalau mau nonton.” Zaki mulai melepas kancing kemejanya dengan satu tangan, dimulai dari paling atas.


“E e eeh… Kamu apa-apaan, sih!” Cyra menahan tangan Zaki. “Jangan mesum!”


“Kamu yang minta. Pake ngikutin sampe ke kamarku segala. Udah tahu bajuku kotor, tentu aku harus cepat ganti baju, bukan?”


“Iya, aku keluar.” Cyra melangkah ke kanan. Namun lengan kekar Zaki sudah membingkai tubuhnya dengan cara menapakkan telapak tangan ke dinding. Kini tubuh Cyra dikunci oleh dua lengan kekar Zaki, kiri dan kanan.


Zaki menatap Cyra tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Tatpan itu membuat Cyra kesulitan emnelan saliva. Gugup. Dan saat wajah Zaki sudah berada satu centi dari wajah Cyra, kedua telapak tangan Cyra segera menahan dada Zaki.


“Jangan!” ucap Cyra dengan jantung deg-degan. “Katanya mau ganti baju. Cepetan! Nanti telat!”


Zaki menyelipkan rambut Cyra yang menutup sebagian wajah ke belakang telinga. Sentuhan telapak tangan Zaki yang mengusap rambut Cyra di atas kepala, membuat bulu kuduk Cyra meremang.


“Kamu yang selalu mulai. Kenapa sekarang melarang?” Zaki mendaratkan bibirnya sebelum Cyra sempat menjawab.


Pria itu memeluk tubuh mungil Cyra.

__ADS_1


TBC


KLIK LIKE YA


__ADS_2