
“Mama serius?” tanya Cyra setengah tidak yakin.
“Iya. Om Randy sudah membatalkan niat kami untuk menyatukanmu dengan Alfa. Dan sekarang, kamu harus mengejar Zaki.”
Mendengar hal itu, Cyra barulah merasa yakin kalau mamanya tidak hanya sekedar memberinya pilihan seperti tadi.
“Makasih, Ma.” Cyra memeluk Andini erat.
“Ya sudah, pergilah kejar Zaki,” ucap Farhan.
“Kenapa harus dikejar, Pa? rumah Zaki di depan. Aku hanya tinggal melangkah beberapa langkah aja ke sana untuk menemuinya.” Cyra menatap papanya dengan seulas senyum, wajahnya berada di pundak Andini yang berada dalam pelukannya.
“Zaki berniat akan pergi ke Negara tetangga sesaat setelah mendengar jawaban kami, bahwa kami menolaknya.”
Cyra terkejut. Wajahnya menegang seketika.
“Pergilah sekarang sebelum Zaki ke Bandara!” titah Andini melepas pelukannya.
__ADS_1
Tanpa banyak Tanya, Cyra langsung bangkit berdiri dan menghambur meninggalkan kamar. Menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Dalam hati ia terus merutuk.
Zaki jahat. Kenapa nggak bilang sama aku kalau dia mau pergi jauh? Apa maksud Zaki main petak umpet begini? Apakah patah hatinya itu bisa langsung sembuh dengan cara pergi diam-diam begini? Zaki bener-bener kelewatan.
Di sepanjang berlari menuju ke rumah Zaki, batin Cyra terasa campur aduk, antara cemas, resah, gelisah, takut dan panik berbaur jadi satu, mengacaukan isi kepalanya. Ia takut Zaki benar-benar sudah pergi.
Cyra langsung memasuki rumah Zaki. Menerobos pintu yang tidak dikunci.
“Zaki!” serunya asal mangap. Andai saja papanya Zaki yang mendengar lengkingan suaranya, pasti akan terheran-heran dengan tingkahnya itu. Datang-datang langsung teriak memanggil-manggil Zaki.
Tak ada yang menyahut. Sepi.
“Cyra cari Zaki, ya?” tanya Alya yang baru saja muncul dari arah belakang Cyra.
Cyra menoleh, memperlihatkan wajahnya yang luar biasa panik. “Iya, Tan. Zaki kemana?”
“Loh, dia nggak bilang sama kamu?”
__ADS_1
“Bilang apa, Tan?”
“Katanya dia mau pergi ke bandara Soekarno-Hatta. Dianterin sama temennya gitu.”
“Jadi Zaki beneran pergi, Tan?” Cyra hampir menangis saat itu juga. Mukanya langsung memerah dan matanya berair.
Melihat reaksi Cyra, Alya langsung tahu apa yang terjadi. Gadis di hadapannya itu pasti tidak merelakan Zaki pergi. Alya mengecek kamar Zaki. Kosong. Tiket yang tergeletak di meja juga sudah tidak ada. Koper yang tadi teronggok di lantai juga sudah raib.
“Zaki sudah pergi,” lirih Alya sembari mengusap lengan Cyra.
Seketika, air mata Cyra meleleh begitu saja. Entah kenapa Cyra jadi cengeng. Ia benar-benar takut berpisah dari Zaki. Apakah itu artinya ia memiliki cinta yang begitu besar terhadap Zaki?
Cyra menghambur menuruni anak tangga dan berlari keluar rumah itu. Dengan gerakan terburu-buru, Cyra memasuki mobilnya yang terparkir di halaman rumah. Lalu menyetirnya keluar halaman melintasi pintu gerbang.
Sambil menyetir, satu tangannya menscroll mencari nama Zaki di ponsel. Ah, tapi sangat sulit mencari di daftar kontak. Akhirnya ia menelepon melalui daftar panggilan masuk. Segera ia memencet nama Zaki dan meneleponnya. Terhubung. Cyra menghela nafas lega saat lawannya langsung dijawab.
“Tega kamu ninggalin aku. Kenapa kamu harus pergi secara diam-diam gini? Aku sayang sama kamu. Plis, jangan pergiu!”
__ADS_1
“Siapa yang ninggalin lo? Gue nggak akan mungkin ninggalin lo, sayang. Gue juga sayang sama lo. Mmmmmuuuaach…”
TBC