
Zalfa lupa memperhatikan foto di KTP. Andai sekilas saja ia mengamati, tentu ia akan langsung tahu bahwa pemilik dompet itu adalah Arkhan. Tapi kenapa harus ganti nama? Bahkan di kartu nama, Arkhan sampai harus mengubah namanya menjadi Ibadullah Al Arkhan. Ah, Zalfa tidak mau banyak mikir sehingga harus mengajukan banyak pertanyaan. Lagi pula, kenapa ia harus memikirkan nama pria itu?
Elia yang masih terpaku di tengah anak tangga, tersenyum menatap interaksi antara Zalfa dan Arkhan. Zalfa yang menangkap perhatian Elia terhadapnya, mendadak jadi kaku, ia yakin Elia sedang salah menilai. Sepertinya Elia mengira kalau Zalfa dan Arkhan memiliki hubungan khusus.
“O ya, tunggu di sini! Akan kuambilkan tas milikmu.” Arkhan balik badan. Namun langkahnya terhenti melihat ke atas dan mendapati Elia yang masih terpaku di tengah-tengah anak tangga.
Elia tersenyum lebar dan berkata, “Lanjutkan saja! Kenapa harus berhenti ngobrol?”
“Ambilkan tas di ruang tengah!”
“Tas warna gold yang Kakak bawa tadi?”
“Hm.”
__ADS_1
Elia kembali menuruni anak tangga, ia berjalan menuju ke ruangan lain. Tak lama, ia kembali membawa tas milik warna gold milik Zalfa dan menyerahkannya kepada Arkhan.
“Ini tasmu!” Arkhan menyodorkan tas tersebut kepada Zalfa dan langsung disambut oleh gadis itu.
“Makasih,” lirih Zalfa dengan nada bicara yang kaku.
Sebelum sempat Zalfa berpamitan untuk pergi, seorang wanita tengah baya sekitar berusia lima puluh tahun muncul dari ruangan lain. Meski sudah berusia setengah abda, namun rambutnya masih terlihat seperti anak muda, pirang, menggelombang ala-ala salon. Sekilas saja ia menoleh ke arah Zalfa, kemudian melintas menuju ke sofa tengah-tengah ruangan utama. Wanita itu mengambil tas jinjing di meja kecil yang dikelilingi sofa.
Pandangan Arkhan mengikuti arah pandang Zalfa yang tengah mengamati wanita paruh baya tersebut, kemudian Arkhan berkata, “Itu Mamaku, namanya Maria.” Arkhan memperkenalkan.
“Elia, ayo kita berangkat sekarang. Kita mau ke gereja.” Wanita tua itu berjalan menuju pintu tempat Zalfa berdiri.
Zalfa menangkap pemandangan di dada wanita tua itu. Salib. Ya, di leher wanita tua itu melingkar sebuah kalung berbandul salib.
__ADS_1
Elia mengenakan topi bundar yang baru saja ia sambar dari gantungan di dinidng. Kemudian melintasi Zalfa dan tersenyum lebar saat berjalan tepat di sisi Zalfa. Sebuah tas cantik menyelempang di badannya.
Zalfa membeku di tempat. Namun kemudian ia menyadari bahwa Arkhan pastinya akan pergi bersama ibu dan adiknya ke gereja.
“Aku pergi. Permisi.” Hampir Zalfa mengucap Assalamu’alaikum. Namun tertahan mengingat mereka bukanlah keluarga muslim. Zalfa berjalan menuju ke pintu gerbang. Pikirannya tiba-tiba menerawang entah kemana-mana. Bagaimana bisa ia berjodoh dengan pria keturunan nonmuslim?
Zalfa menaiki motor dan detik berikutnya motor melesat cepat meninggalkan rumah megah.
***
Sesampainya di rumah, Zalfa langsung menuju ruang keluarga. Ia yakin Atifa dan Ismail ada di sana. Benar, dua sejoli itu sedang duduk di depan televisi menikmati keripik sambil menonton.
Zalfa menjatuhkan tubuh duduk di depan Ismail.
__ADS_1
Ismail langsung mendongak menatap kedatangan Zalfa. “Dari mana aja kamu, Zalfa? Sejak tadi aku menguhubungimu dan kamu nggak jawab teleponku? Pulang kerja tadi, aku sempet mampir ke kafemu dan kamu nggak ada di sana. Menurut keterangan pegawaimu, kamu pergi bersama laki-laki. Kamu kemana? Siapa laki-laki itu? Aku mencemaskanmu.”
TBC