PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
55. Untuk Pak Dosen


__ADS_3

Tubuh Zaki kian membeku mendengar penjelasan Andini. Semua kalimat yang sudah ia susun rapi-rapi untuk diungkapkan di depan kedua orang tua Cyra, kini bubar sudah. Berhamburan entah kemana. Entah kenapa organ tubuh Zaki jadi terasa lemas. Yang ada di kepalanya sekarang hanyalah kata-kata Andini yang begitu mengagumi Alfa. Andini hanya setuju jika Alfa yang menjadi pendamping hidup Cyra.


Lidah Zaki benar-benar kelu dan tak lagi bisa bicara. Seperti tulang. Kaku sekali. Mukanya mendadak berubah mendung. Apa yang ia rasakan tak bisa disembunyikan lagi, ekspresi wajahnya menjadi saksi hatinya. Tapi siapa yang menyadari perubahan wajahnya? Tak seorang pun. Hampir saja Zaki melepaskan gelas di tangannya, namun ia thau hal itu akan merusak situasi. Zaki menahan diri. Cukup dia sendiri yang merasakan kekacauan batinnya.


“Alfa tuh yang mana sih? Yang pakai kemeja biru itu, ya?” tanya Alya kepo.


“Iya. Anaknya manis, kan? Cocok banget jadi menantuku.” Lagi-lagi Alya menggebu-gebu.


“Ooh… Iya, cocok, kok. Pilihan Cyra tepat. Keliatannya anaknya memang baik,” celetuk Alya yang tanpa sadar membuat putranya sendiri merasa patah hati.


Tak lama kemudian, Andini mengajak semua yang hadir berkumpul ke sebuah meja yang disana sudah terpajang sebuah kue ulang tahun. Andini menyalakan lilin.

__ADS_1


“Loh, kue bekas gigitan tikus begini kok dijadiin kue ulang tahun buat Cyra, Tan?” ceplos Rere yang saat itu berdiri tepat di depan kue yang rusak.


“Ehe hee… Bukan bekas gigitan tikus, tapi itu ulah Cyra. Jadi rusak kuenya,” jawab Andini tanpa terpengaruh kata-kata Rere, gadis yang sangat ia kenal.


Cyra meniup lilin bersamaan dengan mereka yang menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Seperti acara basi ulang tahun yang selalu diterapkan, Cyra juga melakukan hal yang sama. Memotong kue lalu memberikan potongan kue kepada orang-orang yang dia sayangi. Pertama kepada Mamanya, kemudian kepada papanya. Masih ada sepotong kue lagi di piringnya. Ia ingin memberikannya pada Zaki, tapi ia tidak tahu harus memulai dari mana. Kan malu kalau ketahuan para orang tua bahwa ia menyukai Zaki. Sampai detik ini, Cyra masih menunggu kapan saatnya Zaki membuktikan ucapannya yang bilang ingin melamar. Zaki menunggu momen seperti apa untuk membuktikan ucapannya itu? Cyra Ge Er sendiri menanti saat itu tiba.


“Potongan kuenya ada tiga, buat siapa yang satu ini, ya?” ucap Cyra sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Manik matanya tertuju ke wajah Zaki, pandangan mereka bertemu.


Cyra tersenyum kemudian berjalan mendekati Zaki. “Ini buat Bapak dosen aja, deh. Pak Dosen udah banyak berjasa mendidik mahasiswinya.”


Muka Zaki yang masih tegang dan galau, menatap kue yang dibawa Cyra ke arahnya. Zaki mengalihkan pandangan dan balik badan sembari merogoh ponsel di saku celana, ia kemudian terlihat sedang menjawab telepon meski sebenarnya tidak ada seorang pun yang meneleponnya.

__ADS_1


“Zaki kayaknya lagi sibuk. Sini buat gue aja, Ra! Gue kan juga orang spesial buat lo.” Rere mendekati Cyra lalu merampas kue dari tangan sahabatnya itu. Sekali lahap, kue ludes, masuk ke mulutnya yang lebar. “Nggak pa-pa ya, Tan?” tanyanya pada Andini yang disahut dengan senyum lebar oleh Andini.


Cyra menoleh ke arah Zaki. Agak kecewa, kenapa Zaki lebih memilih menjawab telepon orang lain dari pada menerima suapan kue dari Cyra. Bukankah momen seperti itu jarang sekali terjadi?


**TBC


JANGAN LUPA KLIK LIKE,


Makasih banyak buat dua nama yg punya akun :


Resti Fauzi Resti

__ADS_1


Aul


mereka udah kasih tip koin buat cerita ini 😘😘**


__ADS_2