
"Aku baik-baik saja, Maafkan aku ibu telah membuat mu khawatir!" mata Xun berkaca-kaca karena merasa bersalah telah membuat ibunya khawatir.
Seorang pria lainnya tersenyum melihat keharuan antara ibu dan anak itu, dia adalah adik Guei sekaligus paman Xun bernama Han.
Sesaat kemudian Han menyadari sesuatu yang membuat keningnya mengerut, Han pun menghampiri Xun dan Yian yang masih berpelukan penuh haru.
"Xun'er, kau sudah memiliki kultivasi" Han bertanya dengan nada suara dan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Mendengar itu membuat Yian langsung melepaskan pelukannya lalu mencoba memeriksa kebenaran perkataan Han.
Seketika wajahnya berubah terkejut saat mengetahui jika Xun memang memiliki kultivasi.
Yang dia ketahui Xun sebelumnya tidak memiliki kultivasi karena kekuatannya yang tersegel, dan cara satu-satunya untuk membuka segel itu adalah Xun harus berhubungan dengan seorang pria.
"Xun'er, kau benar-benar sudah memiliki kultivasi! Siapa...siapa yang telah melakukannya?" tanya Yian, bagaimana mungkin dia bisa membiarkan hal ini, dia harus membunuh orang yang telah menodai putri kesayangannya.
"Itu..." Xun tidak tau harus menjelaskan seperti apa, jadi dia secara refleks menoleh kearah Shin.
Pandangan Xun diikuti oleh Yian dan Han, mereka berdua pun melihat seorang pemuda tampan yang tentunya adalah Shin.
Ekspresi mereka seketika berupah penuh kemarahan, Yian ingin langsung menerjang menyerang Shin, namun Han mendahuluinya.
"Jadi kau yang telah berani menodai keponakan ku! Akan ku bunuh kau!" Han melesat menyerang Shin dengan pukulan yang siap menghantam wajah pemuda itu.
Nun sesaat sebelum pukulan Han mengenai Shin, Guei menghentikan pukulan Han dengan tangannya.
"Kakak! Kenapa kau menghentikan ku?! Aku ingin membunuh bajingan ini!!" Han menjadi marah karena dihentikan oleh Guei.
"Adik Han, tenangkan dulu diri mu! Ini tidak seperti yang kau pikirkan!" Guei berusaha menenangkan Han.
Dia sendiri memahami perasaan Han saat ini yang sangat marah dengan hal ini, karena sebelumnya dia juga mengalaminya, sampai tidak mendengarkan penjelasan tentang kenyataan sebenarnya.
Guei berniat menjelaskannya namun Yian tiba-tiba melesat cepat kearah Shin dan siap menendang kepala pemuda itu.
Namun kali ini Luo yang muncul dan menghentikan tendangan ibunya menggunakan lengan.
Ledakan gelombang kejut kecil terjadi.
"Ibu, Tenanglah dulu dan dengarkan penjelasan kami!" ucap Luo.
__ADS_1
"Memangnya apa yang perlu dijelaskan, bajingan sepertinya harus segera dibunuh!" Yian membentak "Luo'er, menyingkir dari hadapan ibu atau kau akan terluka!"
"Yian'er! Adik Han! Sekarang kita berada dihadapan ayah, ayah sedang sekarat! Tidak baik membuat keributan disini!" ucap Guei dengan nada sedikit keras.
Han dan Yian akhirnya tersadar, mereka pun berusaha menenangkan diri, namun masih tetap menatap Shin dengan tajam seakan tidak sabar ingin membunuh pemuda itu.
"Maaf sebelumnya, aku tau apa yang kalian pikirkan! Tapi kenyataannya tidak seperti itu, aku sama sekali tidak pernah berbuat yang tidak-tidak pada Xun!" ucap Shin.
Yian dan Han menoleh kearah Guei setelah mendengar perkataan Shin, jelas sekali mereka berdua menginginkan konfirmasi kebenaran perkataan Shin.
Guei pun menganggukkan kepalanya, lalu menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Guei menceritakan tentang kejadian yang mereka alami dalam perjalanan, dimana Shin telah mendapatkan Bunga Seribu Racun didalam Lembah Beracun, dan Shin juga telah menyelamatkan nyawa mereka dari Jendral Hong.
Selain itu, Guei mengatakan jika Shin adalah manusia, dia yakin jika Shin adalah pemuda yang dimaksud oleh Qing Juan pada jaman dahulu.
Mata Yian dan Han melebar setelah mendengar penjelasan Guei, mereka tidak memperhatikan jika Shin berbeda dari Elf karena terlalu terbawa emosi.
Mereka berdua hampir saja melukai pemuda yang dimaksud oleh Qing Juan.
"Maafkan kami tuan Shin karena telah salah sangka terhadap dirimu"
Yian membungkuk, begitu juga dengan Han.
"Tidak masalah Bibi! Paman! Aku paham kenapa kalian bisa marah seperti itu, jika aku diposisi kalian, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama!" Shin berkata dengan halus sambil tersenyum ramah.
Yian dan Han pun mengangkat kepala mereka lalu tersenyum.
"Dan juga, terima kasih Tuan Shin karena telah membantu putri dan suami ku! Mungkin aku tidak akan lagi bisa bertemu dengan mereka jika kau tidak menyelamatkan mereka!"
"Sama-sama, aku juga senang bisa membantu! Dan juga jangan panggil aku dengan sebutan tuan, panggil Shin saja tidak apa-apa!"
"Baiklah Shin, terima kasih!"
Shin menganggukkan kepalanya.
Sesaat kemudian Guei batuk pelan "Maaf sebelumnya Shin, karena lupa memperlakukan! Dia adalah istri ku, Yian! Dan dia adalah adik ku, Han!"
Yian dan Han tersenyum canggung karena lupa memperkenalkan diri, malah Guei yang memperkenalkan mereka pada Shin.
"Haha, Shin maaf sebelumnya!" Han mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tidak masalah!" Shin pun menjabat tangan Han.
"Kalau begitu kita sebaiknya tidak membuang waktu, kita lebih baik segera menyembuhkan ayah!" ucap Guei laku segera berjalan kesamping Raja Yong.
Guei melambaikan tangannya, mengeluarkan sebuah bunga warna ungu yaitu Bunga Seribu Racun.
Menggunakan elemen cahaya, Guei membuat Bunga Seribu Racun ditangannya melebur hingga membentuk sebuah cairan.
Dengan hati-hati, Guei membuka mulut Raja Yong lalu memasukkan cairan Bunga Seribu Racun kedalam mulut Raja Yong.
Guei kemudian membantu Raja Yong untuk mencerna manfaat Bunga Seribu Racun agar proses penyembuhannya semakin cepat.
Tidak membutuhkan waktu lama sampai tubuh Raja Yong terlihat membaik, kulitnya yang tadinya ungu sepenuhnya, kini warna ungunya mulai pudar, bersamaan dengan urat-urat hitam yang juga mulai menyusut.
Semua orang memperhatikan proses penyembuhan Raja Yong dengan saksama dan hati yang tegang, berharap jika Raja Yong bisa sembuh dan bangun secepatnya.
Beberapa menit kemudian berlalu, akhirnya terlihat jika Raja Yong sudah sembuh, seluruh kulitnya kini berwarna normal, tidak ada lagi urat hitam.
Guei menghembuskan nafas, keringat membawahi wajahnya.
Yian segera mengelap wajah suaminya dengan sapu tangan.
"Ayah, bagaimana?" Xun langsung bertanya.
Guei tersenyum puas "Semuanya sudah selesai, kakek mu sudah sembuh sepenuhnya, tidak lama lagi dia akan bangun!"
Mereka semua bernafas lega mendengar itu, Xun dan Yian bahkan sudah meneteskan air mata.
Benar saja, beberapa saat kemudian, Raja Yong membuka matanya perlahan.
"Kakek!"
Melihat itu, Xun langsung memeluk kakeknya sambil menangis karena bahagia bercampur lega tidak kehilangan kakeknya.
Hubungan Xun dan kakeknya bisa dibilang sangat dekat, jadi sudah pasti ikatan keduanya juga sangat erat.
Mereka semua tersenyum melihat Xun, Yian juga telah meneteskan air mata, Lui sendiri juga ingin menangis namun asih tetap menahannya karena dia adalah seorang pria.
Guei telah mengajarkan pada Luo untuk sebisa mungkin jangan meneteskan air mata dalam situasi apa pun.
__ADS_1