
Keesokan harinya.
Bangunan yang sebelumnya hancur karena ditabrak Shin kini sudah diperbaiki sehingga kembali seperti semula.
Shin saat ini berbaring diatas kasur dikamar sebelumnya, tentu saja masih ditemani oleh para wanitanya.
Sebelumnya sempat terjadi perdebatan antara mereka karena tidak terima dengan apa yang Qin Zhiyun lakukan, namun pada akhirnya mereka kembali baikan.
Wajah Shin yang sebelumnya bonyok akibat pukulan Qin Zhiyun, kini sudah kembali normal, sembuh sepenuhnya.
Beberapa jam kemudian, Shin pun mulai membuka matanya.
Seperti sebelumnya, Shin menggunakan tangan sebagai tumpuan untuk bangkit dalam posisi duduk.
Shin memegang kepalanya yang terasa sakit, dia sama sekali tidak mengingat jika pernah terkena pukulan Qin Zhiyun sebelumnya.
"Apa yang terjadi? Kepala ku terasa sakit!"
Kali ini tidak ada kekasaran yang menyambut Shin, namun sebuah kehangatan dari pelukan para wanitanya dengan penuh haru.
Mereka semua memeluk Shin, termasuk juga Qin Zhiyun.
Shin yang masih ling lung, terlihat bingung melihat mereka semua yang memeluknya.
"Yun'er, Xue'er, Xiao Ling, Yu'er, Lian'er! Apa yang terjadi?" Shin bertanya pada mereka semua, namun sama sekali tidak dijawab.
Jadi Shin hanya diam saja menikmati sensasi lembut dari apa yang menempel di tubuhnya.
Setelah beberapa menit, mereka pun melepaskan pelukan mereka.
"Apakah guru tidak mengingat apa yang terjadi?" tanya Qin Zhiyun.
Shin pun berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya, dan akhirnya dia mengingat semuanya.
"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?"
"Sudah 4 minggu" jawab mereka secara bersamaan.
Sahin mengangguk, ternyata dia pulih dalam waktu yang sedikit lebih cepat dari perkiraan.
Sesaat kemudian, pandangan Shin tertuju pada pakaian yang dia kenakan, membuatnya mengerutkan kening.
Seingatnya dia tidak menggunakan pakaian seperti ini sebelumnya.
Pakaian yang Shin kenakan sekarang berwarna biru campur kuning.
Shin sama sekali tidak pernah memakai pakaian seperti ini, biasanya dia selalu menggunakan pakaian warna hitam.
__ADS_1
"Seingat ku, aku tidak pernah memakai pakaian seperti ini sebelumnya" ucap Shin sambil memeriksa pakaian yang dia kenakan.
Bersamaan dengan kata-kata Shin tadi, wajah para gadis itu jadi memerah sambil memalingkan muka kearah lain.
Shin melihat tingkah aneh keempat gadis itu, dia menjadi curiga akan suatu hal.
"Katakan! apa saja yang kalian lakukan pada ku saat aku masih tidak sadar?" Shin bertanya dengan mata menyipit.
"Itu..." mereka semua masih terlihat ragu untuk mengatakannya, wajah mereka semakin merah.
Namun pada akhirnya mereka pun menceritakan apa yang telah mereka lakukan pada Shin, dimana memberikan badan dan mengganti pakaiannya.
"Jadi itu artinya kalian telah melihat seluruh tubuh ku?" tanya Shin.
Meskipun Shin merasa malu dengan hal itu, namun karena yang melakukannya adalah para kekasihnya, jadi tidak masalah bagi Shin.
Mereka semua mengangguk sebagai jawaban, wajah mereka tambah merah ketika mengingat seberapa besar... Entah apa yang besar.
"Baiklah, kalau begitu agar adil kalian juga harus memperlihatkan seluruh tubuh kalian!" Shin tersenyum lebar penuh makna.
"Eh?!" mereka semua terkejut mendengar perkataan Shin.
Apakah mereka benar-benar harus memperlihatkannya pada Shin.
Disini hanya Ling saja yang merasa tidak masalah dengan hal itu, karena sebelumnya Shin juga pernah melihatnya.
"Jika Shin Gege memang ingin melihatnya maka tidak masalah!" ucap Bing Qiaoyu.
Dan semuanya pun menyetujui perkataan Shin, agar adil mereka juga harus memberikan Shin melihat.
Senyum Shin berubah jadi aneh, dia merasa akan mendapatkan keuntungan besar kali ini.
Mereka semua telah siap membuka pakaian masing-masing, namun belum sempat mereka melakukannya, pintu kamar itu tiba-tiba terbuka, memperlihatkan Chu Yan dan teman-teman Shin lainnya.
"Saudara Shin...!!" Teman-teman pria Shin langsung melompat dan memeluk pemuda itu.
"Akhirnya kau sadar juga!"
"Apa kau tau seberapa khawatirnya kami pada mu?"
"Aku mengira kau akan mati"
"Sungguh keajaiban kau bisa hidup!"
"Hei! Lepaskan aku! Aku tidak bisa bernafas!" Shin berusaha melepaskan pelukan mereka semua.
Mereka pun melepaskan pelukan mereka dari Shin, membuat pemuda itu bisa kembali bernafas normal.
__ADS_1
"Bagaimana perasaan mu sekarang saudara Shin? Apakah ada yang terasa kurang baik pada tubuh mu?" Chu Yan bertanya.
Shin turun dari ranjangnya, berdiri kemudian meregangkan tubuhnya "Semua luka di tubuh ku sudah sembuh, namun kondisi ku masih lemah! Jadi tidak bisa mendapatkan pelukan dari kalian semua!"
Mereka semua pun tertawa mendengar perkataan Shin.
Tiba-tiba Shin mendongak keatas, entah kenapa dia merasakan ada sesuatu yang berbeda di Sekte Pedang Ilahi.
Dia merasakan ada suatu susunan formasi raksasa yang menutupi Sekte Pedang Ilahi, dan formasi itu sangatlah kuat.
"Apa saja yang terjadi saat aku masih tidak sadarkan diri?" Shin bertanya.
Senyuman teman-teman Shin pun langsung menghilang, mereka saling pandang satu sama lain, tidak tau harus menjelaskan seperti apa pada Shin.
Sebelumnya Ling menceritakan pada mereka semua jika sosok jiwa yang mengorbankan dirinya untuk menciptakan susunan formasi raksasa ini adalah Dewa Formasi, dan Dewa Formasi adalah guru dari Shin.
Tentu saja mereka terkejut mendengar cerita dari Ling, mereka tidak menyangka jika sang Dewa Formasi adalah guru Shin, dan rela mengorbankan dirinya demi keselamatan Sekte Pedang Ilahi.
Sekarang mereka tidak tau harus menjelaskan apa pada Shin.
"Ada apa dengan kalian?" Shin merasa bingung melihat perubahan ekspresi mereka semua.
"Sebenarnya, 3 minggu yang lalu Lui Meiyu bersama dua Tetua Sekte Lembah Siluman datang ke Sekte Pedang Ilahi" ucap Ling.
"Apa?! Lalu apa yang terjadi setelahnya?" Shin terkejut.
Jika Lui Meiyu datang bersama Tetua Jing Hu dan Tetua Lei Huo, menurutnya Sekte Pedang Ilahi tidak akan selamat.
Ling menghela nafas, lalu menceritakan semuanya pada Shin.
Setelah mendengar cerita dari Ling, suasana ruangan itu jadi sunyi.
Mata Shin sendiri melebar, diam tidak bersuara.
Jadi inikah arti dari mimpinya sebelumnya, dia bahkan belum sempat mengucapkan salam perpisahan pada Qing Zhizun.
Yah, meskipun Qing Zhizun adalah guru yang jahil, namun Shin sudah mendapatkan banyak ilmu darinya.
Meskipun Shin sering dibuat kesal sampai marah oleh Qing Zhizun, namun sebenarnya Shin sangat menghormatinya.
Sekarang Qing Zhizun sudah menghilang, mengorbankan dirinya demi keselamatan banyak orang.
Untuk yang kesekian kalinya, Shin kembali merasakan yang namanya kehilangan.
"Maaf, tapi bisakah kalian memberikan ku waktu sendiri" ucap Shin dengan nada datar.
Teman-teman Shin saling pandang untuk beberapa saat, sebelum akhirnya keluar dari kamar itu, meninggalkan Shin sendiri disana.
__ADS_1
Mereka paham akan perasaan Shin saat ini, jadi mereka memberikannya waktu sendiri untuk menenangkan hatinya.