Pahlawan Di Dunia Kultivator 2

Pahlawan Di Dunia Kultivator 2
49. Melarikan Diri


__ADS_3

Shin terengah-engah, keringatnya mulai menetes.


Shin memang tidak terlalu terbiasa menggunakan elemen es, karena jenis elemen ini sama sekali berbeda dengan 5 elemen yang biasa dia gunakan.


Karena hal ini dia bisa di buat kerepotan oleh Tetua Du Gu.


Pengendaliannya terhadap elemen es masih dibawah elemen lainnya.


Sepertinya dia harus melatih elemen es nya lebih sering nanti.


"Hahaha! Bocah, sebaiknya kau menyerah saja dan berikan pedang itu pada ku, maka aku akan memberikan kematian yang tidak menyakitkan untuk mu!" Tetua Jing Hu menyeringai lebar, merasa sudah diatas angin "Kau bisa bertahan sampai sejauh ini hanya karena pedang mu! Pedang itu terlalu kuat untuk kau gunakan, sama sekali tidak pantas untuk mu! Jadi lebih baik berikan pada ku!"


Shin menaikkan alisnya "Baiklah!"


Tetua Jing Hu terkejut mendengar jawaban Shin, dia tidak menduga Shin akan dengan mudahnya menuruti keinginannya.


Seringai lebar Tetua Jing Hu kini semakin menjadi.


Shin kemudian melemparkan Pedang Bintang Emas kearah Tetua Jing Hu. Pedang Bintang Emas berputar-putar diudara, mengarah pada Tetua Jing Hu.


Wajah Tetua Jing Hu berbinar dengan penuh harapan keinginan dan keserakahan, dia berniat menangkap Pedang Bintang Emas.


Namun belum sempat dia meraih gagang Pedang Bintang Emas, pedang itu tiba-tiba menghilang, menyisakan aura emas yang juga menghilang dengan cepat.


Tetua Jing Hu terdiam melongo dengan posisi seperti patung liberty namun tidak ada yang dia pegang ditangannya.


Sampai kemudian suara tawa keras Shin terdengar.


"HAHAHA....!!" Shin tertawa keras sambil memegang perutnya, dia terus tertawa bahkan air matanya sampai keluar.


Sekarang ditangannya ada sebuah pedang, itu adalah Pedang Bintang Emas.


Sebelumnya saat hampir Tetua Jing Hu meraih gagang Pedang Bintang Emas, Shin memanggil kembali pedang itu, sehingga langsung kembali ke tangannya.


Akhirnya Tetua Jing Hu mendapatkan Zonk yang membuat Shin tertawa melihat ekspresi wajah Tetua Jing Hu.


"Hahaha...!" Shin masih terus tertawa "Lihatlah wajah dari orang tua yang penuh dengan harapan itu! Sungguh penuh karya seni!" Shin kembali tertawa keras.


Dia benar-benar merasa sangat puas melihat ekspresi Tetua Jing Hu, dia akhirnya paham kenapa Qing Zhizun sering mengerjainya, ternyata itu sangat seru.

__ADS_1


Benar-benar sangat menyenangkan.


Tetua Jing Hu mengepalkan tangannya, kali ini dia benar-benar sudah marah sampai wajahnya memerah.


Penghinaan ini benar-benar tidak bisa di terima, dia sudah tidak peduli lagi dengan pedang itu, yang ada di pikirannya hanyalah membunuh Shin.


Shin masih tertawa, dia mengusap air matanya yang keluar, perutnya sudah sakit karena tertawa.


"Aduh... hentikan... kau bisa membunuh ku hanya dengan ekspresi mu itu" Shin mengatur nafasnya, berusaha untuk berhenti tertawa, namun setelah melihat wajah marah Tetua Jing Hu, bukannya takut atau semacamnya, justru Shin kembali tertawa keras.


Setelah beberapa menit, Shin akhirnya bisa mengendalikan dirinya, dia sudah tidak lagi tertawa, tepi dia masih memegang perutnya yang kesakitan karena terlalu lama tertawa.


"Apa kau sudah puas tertawa bocah?" ucap Tetua Jing Hu, menatap tajam Shin, masih dengan ekspresi marahnya.


"Tentu saja belum" Shin kembali tertawa keras.


Kali ini Tetua Jing Hu tidak lagi bisa mengendalikan emosinya, dia merapatkan giginya dengan tangan yang terkepal semakin erat.


"Kau benar-benar membuat ku marah bocah! Aku bersumpah tidak akan pernah melepaskan mu!" Tetua Jing Hu berteriak dengan kemarahan, bersamaan dengan meledaknya aura kegelapan dari tubuhnya.


Seketika terjadi perubahan pada tubuh Tetua Jing Hu, tubuhnya semakin membesar dengan kulit yang berubah menjadi ungu, dua tanduk banteng di kepala dan satu tanduk melengkung tepat ditengah dahinya.


Penampilan Tetua Jing Hu benar-benar menyeramkan saat ini.


Shin sendiri langsung berhenti tertawa setelah melihat perubahan Tetua Jing Hu, dia mengerutkan keningnya dengan ekspresi serius.


"Dia berubah menjadi siluman, kekuatannya juga meningkat drastis! Selain itu dia memancarkan aura dari Dewa Siluman, meskipun tidak sekuat Liao Nie waktu itu!" gumam Shin dalam hati.


Kemungkinan Kekuatan Tetua Jing Hu saat ini setara dengan Liao Nie sebelumnya, namun tentu saja melawan Tetua Jing Hu akan jauh lebih merepotkan dari pada melawan Liao Nie.


Sebelumnya Liao Nie masih tidak terbiasa dalam menggunakan kekuatan besarnya, selain itu pengalamannya juga masih kurang, namun berbeda dengan Tetua Jing Hu yang sudah berpengalaman dalam pertarungan dan mengendalikan kekuatannya.


Dengan hanya menggunakan Tanda Elemen Es, kemungkinan Shin untuk menang adalah 0%.


Mungkin saja Shin menambah Mata Pedang, namun dia tidak ingin melakukan hal itu, dia memiliki rencana lain.


Sekarang saja menggunakan Tanda Elemen Es akan memberikan beban yang sangat berat bagi tubuhnya, kemungkinan dia akan berbaring di ranjang selama 1 bulan setelah ini.


"Aku sudah cukup kagum dengan mu bocah, bisa melawan ku sampai sejauh ini! Tapi ini adalah akhir untuk mu, kau tidak akan mungkin selamat setelah ini!" suara Tetua Jing Hu terdengar berat, dia sudah mengakui kekuatan Shin "Aku akan memberikan mu penawaran terakhir! Bakat mu sangat tinggi, aku tidak ingin bakat seperti mu sirna dengan cepat, jadi jika kau masih ingin hidup lebih lama bergabunglah dengan Sekte Lembah Siluman!".

__ADS_1


Shin tersenyum tipis "Maaf, aku sama sekali tidak tertarik untuk menjadi bawahan seorang Dewa Siluman!"


Mata Tetua Jing Hu melebar mendengar hal itu, sepengetahuannya, hanya beberapa orang saja yang mengetahui keberadaan Dewa Siluman di Sekte Lembah Siluman.


Hal ini karena keberadaan Dewa Siluman sangat dirahasiakan.


Lalu bagaimana Shin mengetahui tentang Dewa Siluman.


"Dari mana kau mengetahui hal itu?" tanya Tetua Jing Hu.


"Jika kau ingin mengetahuinya maka tanyakan saja pada rumput yang bergoyang!" Shin tersenyum mengejek.


"Kau..." kemarahan Tetua Jing Hu kembali memuncak "Kau benar-benar mencari kematian mu! Jika kau tidak ingin bergabung maka kau hanya akan menjadi penghalang bagi rencana besar kami nantinya!"


Dengan bakat Shin yang sangat besar, kemungkinan Shin akan menjadi duri untuk rencana mereka.


Saat ini Shin mungkin lemah, namun pemuda itu akan terus berkembang.


"Hohoho! Maaf saja ya, aku sama sekali tidak berniat mati di tempat seperti ini!" Shin masih tersenyum, bahkan dihadapan Tetua Jing Hu yang sudah berubah menjadi siluman, wajahnya masih tidak terlihat tertekan sedikit pun.


Entah apa yang dipikirkan pemuda itu, atau mungkin dia memiliki sesuatu di lengan bajunya.


Tetua Jing Hu curiga akan hal itu.


"Aku tidak tau apa yang kau rencanakan bocah, tapi apa pun itu percuma saja! Kau akan tetap mati!"


"Begitukah?" Shin menaikkan alisnya "Aku berpikir tidak mungkin untuk menang mengalahkan mu! Jadi tentu saja aku harus melarikan diri!"


Setelah mengatakan hal itu, Shin melesat pergi dengan kecepatan tinggi.


"Jangan harap kau bisa lari!" Tetua Jing Hu langsung mengejar Shin tanpa pikir panjang.


Shin terus terbang dengan kecepatan tinggi, sampai beberapa menit, namun dia sudah terbang sangat jauh.


Sampai akhirnya Shin berhasil terkejar, dia langsung dihadang oleh Tetua Jing Hu.


"Kau tidak bisa lari lagi!" ucap Tetua Jing Hu.


Shin justru tersenyum lebar, membuat Tetua Jing mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Selamat tinggal" Shin menangkupkan tangannya, memberikan hormat kemudian dia langsung menghilang ditempatnya.


__ADS_2