
Seratus hari setelah kepergian Papa Wira..
Boy dan Rya sudah kembali dengan aktivitas seperti biasa, Boy kembali berkutik dengan tugasnya di cafe, sementara Rya kembali menjadi ibu rumah tangga lagi. Bedanya kali ini mama Rena ikut tinggal bersama mereka dengan alasan mama Rena kesepian dan tidak bisa hidup sendiri setelah kepergian suaminya.
Pasangan muda itu menyambut hangat keinginan Rena, merangkul wanita paruh baya yang baru saja kehilangan cinta sejatinya.
Luka ditinggal kematian memang tidak pernah ada obat yang bisa menyembuhkan.
"Ayah berangkat dulu ya.." seperti biasa Boy berpamitan kepada istrinya sambil mengecup kening sebagai tanda pamit.
"Hati-hati ya sayang.." Rya melepas suaminya untuk pergi bekerja sambil mengecup punggung tangan.
"Boy berangkat dulu ya mah.." tidak lupa lelaki itu juga berpamitan kepada sang ibunda.
Dan setelah kepergian Boy di rumah itu kini tinggal ada Rya, mama Rena dan juga bu Nani yang akan membantu mengerjakan sebagian pekerjaan rumah seperti biasanya.
Hubungan antara mertua dan menantu itu sebenarnya belum benar-benar membaik, Rena masih saja menunjukkan bahwa dirinya tidak suka terhadap Rya. Entah apa lagi sebabnya. Jika dulu karena perusahaan collaps, tapi Boy sudah membuktikan bahwa itu bukan kesalahannya.
Wanita paruh baya itu akan terang-terangan menunjukkan bahwa dia tidak menyukai Rya apa lagi saat Boy sedang tidak ada disana. Entah bagaimana lagi caranya untuk mengambil hati mama Rena, Rya tidak tahu.
"Bundaaaaa..." Barel berteriak sambil berlari menuju Rya yang sedang berada di meja makan. "Bun hari ini Barel sekolah kan?" tanya bocah kecil itu.
"Hari ini libur sayang.. besok baru sekolah." Rya tersenyum menatap putra semata wayangnya.
__ADS_1
"Barel pengen sekarang.. Barel pengen sekolah hari ini, Barel udah kangen banget sama temen-temen disekolah.." bocah itu merajuk sambil memanyunkan bibirnya.
"Taun depan Barel udah masuk tk, baru deh tiap hari sekolahnya.. kalau sekarang kan cuma kelompok bermain.." Rya menghampiri bocah kecil yang merajuk itu, menghambur kemudian membawa Barel keatas pangkuannya.
"Cucu omah kenapa?" Rena ikut menghampiri bocah kecil dengan raut kecewa itu.
"Aku pengen sekolah, pengen ketemu teman-teman." Barel mencebik dipangkuan Rya.
"Main sama omah aja yuks.." ajak Rena sambil menyimpulkan senyuman untuk Barel.
"Barel maunya main sama Olin sama Miko, bukan sama Omah.." bocah itu masih saja merajuk sambil manyun.
"Kita main di kidz zone aja yuk,, seru lho di sana.." Rena menbujuk Barel lagi.
"Yaudah sekarang kamu mandi dulu ya.." ujar Rena sambil membelai cucu yang sedang digendong menantunya.
Detik selanjutnya bocah kecil itu meminta turun dari pangkuan Rya, terlihat antusias menanggapi ajakan Mama Rena. Wajah cemberut itu kini berubah jadi berbinar.
Rya juga ikutan tersenyum melihat bocah yang kegirangan itu, bocah itu nampak berlari menuju kamar seperti bisa mandi sendiri saja.
"Bujuk anak kecil aja nggak bisa!!" Mama Rena kemudian mencetuskan sindirannya.
Eh. Rya langsung menoleh..
__ADS_1
"Aneh banget!! ada ya bocah lebih betah di sekolah dibanding di rumah.." ujar Mama Rena lagi, tapi pandangannya masih lurus menatap Barel yang berlari menuju kamar.
"Maksud Mama apa sih?" Rya menatap mertuanya dari arah samping.
"Biasanya kan anak kecil tuh paling males sekolah, Eh ini malah pengen terus-terusan di sekolah.. Gak betah tuh dia di rumah!!"
"Ya bagus dong mah, artinya Barel bakalan rajin sekolah dan sudah mencintai lingkungan sosialisasi nya." Rya mulai kesal dengan sikap Mama Rena, untuk itu kali ini dia tidak akan diam lagi.
"Home Sweet Home, Rya.. Anak sekecil itu pasti lebih senang di rumah main sama ibunya, kamu nggak pernah ajak dia main kali makanya dia gak betah sama kamu." Mama Rena menyindir lagi sambil geleng-geleng kepala.
Tangan Rya mulai mengepal, kesal dengan mulut congkak itu.
"Wajar aja sih Barrel seneng punya banyak temen, soalnya kan selama hampir 4 tahun ini cuma main sama Rya dan Boy aja. Gak pernah dikenalin sama dunia luar, enggak pernah nginep di rumah neneknya kaya kebanyakan anak, nggak pernah ini nggak pernah itu jadi semuanya wajar aja sih menurutku!!"
"Bukan salah Mama dong kalau anaknya nggak mau nginep, kalau emang mau nginep ya kenapa kamu nggak minta Barrel buat nginep?" Mama Rena kini menatap Rya.
"Ya artinya karena dia gak mau, dia lebih nyaman di dekat aku.. Toh mereka ketemu oma opa nya juga juga nggak pernah Intens, cuma sesekali aja kan?" jawab Rya sambil menatap Rena.
"Itu kan kalian yang menghindar, Kalian yang buat jarak antara para orang tua." berujar seolah dia tidak pernah bersalah. Padahal kejadian itu kan ada sebabnya.
"Gara-gara apa tuh sampe ada jarak antara anak sama orang tua?" Rya membeo sambil menarik ujung bibir kirinya.
Hingga akhirnya Barel dan mama Rena pergi ke kids Zone, masih dengan suasana yang belum juga mencair. Rya yang tadinya mau ikut jadi tidak jadi. Rya membiarkan Barel pergi berdua dengan mama Rena. Rasa kesal terhadap mertuanya itu sudah mencapai ubun-ubun 🔥
__ADS_1