
Setelah berbaikan, kini Rya berpamitan kepada Boy. Ia berencana untuk menemui Chandra yang sudah menunggunya disuatu tempat yang katanya apartemen baru untuk Rya.
"Tar malem bantuin beresin apart baru gue yak, bye😘.." ucap Rya sambil memberikan kecupan dipipi untuk Boy.
"Okay.. tapi dapet imbalan ya?" ucap Boy.
"Jih, kalo gak mau gakpapa kali, gue gak maksa." ucap Rya sambil beranjak darisana.
"Haha.. iya iya, nanti gue kesana."
"Yaudah, see you.." Rya melambaikan tangan sambil kiss bye genit, membuat Boy terkekeh gemas.
Awas aja lu!! Gumam Boy.
***
Rya melesatkan mobilnya menuju tempat, dimana Chandra sedang menunggunya. Sebenarnya Rya masih bingung dengan perasaannya sendiri, entah harus senang atau bagaimana, satu sisi ia merindukan keluarga roxic itu, dan sisi lain masih ada yang mengganjal di hati nya.
Rya sudah sampai, kemudian ia menaiki lift menuju lt9. Rya menarik nafas panjang sebelum mengetuk pintu.
Tok..Tok..Tok..
Tanpa menunggu lama, pintu itu langsung terbuka, Rya melihat Chandra yang menyambutnya dengan rentangan tangan, memberi isyarat untuk sebuah pelukan. Dan Rya menuruti, ia langsung menghambur memeluk lelaki itu.
"Papaaaa.." ucapnya sambil memeluk Chandra.
"sayaaaaang.." ucap Chandra sambil mengeratkan pelukan. "Apa kabar nak?"
Rya hanya terus memeluk dan memejamkan matanya tanpa memberikan jawaban, ia mencoba sedikit menghancur kan rasa sakit di hatinya dengan pelukan itu.
Setelah beberapa saat mereka berhenti berpelukan, kemudian mereka saling menatap. Mata Rya terlihat sedikit berkaca-kaca, begitupun Chandra.
"Ayo kita Duduk.." ajak Chandra.
Mereka berjalan menuju sofa lalu duduk bersama sambil menikmati teh yg sudah di sediakan Chandra.
"Rya.. apa kamu membenci papa?" tanya Chandra sambil menatap putrinya.
Rya hanya diam menatap.
"Papa tau kamu belum bisa menerima ini semua, papa selalu menutupinya dan berkata nanti akan papa ceritakan jika waktunya sudah tiba...
Tapi semakin kamu beranjak dewasa, papa malah semakin tidak siap untuk hal itu.." ujar Chandra yang memang terlihat murung dan menyesal.
Ryahanya mendengar kan, pipinya mulai terasa panas. Ia menahan air mata dan amarah yang membuncah itu. Sungguh, sebuah kenyataan hidup yang sangat pahit baginya.
"Papa tidak memaksa kamu untuk memaafkan, karna sangat wajar jika kamu membenci papa.." ucap Chnadra lagi.
"Aku mau tau siapa ibu ku." ucap Rya lirih.
__ADS_1
"Baiklah, papa akan bawa kamu untuk bertemu ibumu tapi beri papa waktu beberapa saat untuk menyelesaikan masalah-masalah papa dulu.. yaaa" Chandra mengusap punggung putrinya yang tiba-tiba jadi pendiam itu. "Ini kunci apartemennya, kamu tinggal set password aja. Barang-barang di kamar mu sudah papa pack dan bawa kemari." ucap Chandra.
Dan Rya masih saja diam, ia tidak tahu harus berbicara apa. Hati dan pikirannya kosong.
"Kalo begitu, papa pergi dulu yaa.." ucap Chandra lagi.
"Tunggu paa.." ucap Rya sambil menahan tangan Chandra. "Maafin aku.." Rya memeluk lelaki itu lagi.
Chandra hanya terdiam dan balik memeluk erat. Chandra jadi tidak kuasa menahan gejolak emosi ini, air matanya langsung berjatuhan begitu saja.
"Maafin aku paa, maafin aku.. aku gak berniat musuhin papa aku cumaaa..." Rya menatap sendu pada mata tua yang berair itu.
"Sudaaaah, papa gapapa kok.. Kamu gak salah Rya, papa yang salah.." ucap Chandra sambil mengusap air matanya.
Ketegangan mulai mencair, Rya mulai mau berbicara. Ia menanyakan kabar mama, kakak, adik dan Oni juga.
Setelah bercerai Mama monic pindah keluar kota bersama Mega, sementara Anggi, dia pergi ke luar negri meneruskan pendidikannya. Dirumah hanya tersisa Oni dan kenangan mereka.
"Jadi sekarang papa sendiri dirumah?" tanya Rya.
Keluarga toxic yg dingin itu sekarang hancur, entah aku harus bersikap bagaimana.. Gumam Rya.
Rya menutup pintu dan menguncinya setelah Chandra pamit pulang, ia berjalan mengelilingi tempat tinggal barunya. Rya mulai membuka dus dus yg berisi barang-barang dari kamar lama, mengeluarkan semuanya dan perlahan menatanya.
Drrrrdd..
Drrrrdd..
"Pasti boy.." ucap Rya sambil tersenyum dan mengambil ponsel itu. Dan ternyata dugaannya memang benar, Boy yang menelpon. Lalu Rya langsung saja menerima panggilan itu.
"Hallo.." ucap Rya saat panggilan itu terhubung.
"Gue otewe kesitu, kirim nama gedung sama nomor kamar lu." ucap Boy dari seberang telepon.
"Okay wait.. gue send text aja ya.." Rya kemudian mematikan telponnya, dan mengirim pesan pada Boy.
Boy sudah sampai, dan kini lelaki itu sudah berada didepan kamar Rya.
Tok..
Tok..
Tok.. Boy mengetuk-ngetuk pintu.
Tak lama kemdian pintu itu terbuka, Rya menyambut Boy dengan senyuman manisnya. "Masuk.." ucap Rya mempersilahkan.
Boy hanya tersenyum dan masuk. Rya kembali menutup pintu dan menguncinya.
"Bokap lu udah balik?" tanya Boy sambil menyusuri ruangan itu.
__ADS_1
"Iya lah.. yakali gue bolehin lu masuk kalo ada dia.." ucap Rya sambil membereskan teddy bear kesayangannya.
"Abis kangen-kangenan yaaaaaaa.." Ujar Boy sambil tersenyum menggoda.
Rya hanya tersenyum dan lanjut merapihkan barang-barangnya.
"Kangen-kangenan sama gue kapan doooong.. hehe.." ujar Boy lagi.
"Lu kan gue suruh kesini buat bantuin beres-beres pea." ujar Rya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kan sekalian beresin elu hehe." Boy beranjak mendekati Rya, memeluknya dari belakang, menyampingkan rambut Rya lalu mengecup tengkuknya.
"Boooooy.." Rya menggeliat geli.
"Diem ajasih, pura pura gak tau." ujar Boy lagi. Boy kemudian mengecup lembut tengkuk leher Rya, membuat wanita itu merinding disco. Tanganya menyusup kedalam kaus Rya, mencari dua gundukan sintal favoritnya. Ia me-re-masnya lembut.
Awh... Rya melenguh.
Detik selanjutnya pergumulan itu kembali terjadi. Pasangan muda itu kembali melakukan dosa terindah. Dosa yang membuat setiap orang lupa daratan, mereka lebih mengedepankan nikmad yang hanya sementara. Melakukannya untuk kesekian kali.
Bukan hal baru rasanya jika membicarakan tentang pasangan muda yang sudah melewati batasan. Namun selalu ada cerita dibalik itu semua, entah baik atau buruk, yang jelas hal ini tidak dibenarkan.
Tapi beginilah adanya.. Dua insan yang sedang menyatukan tubuh mereka diatas ranjang itu, sama sekali tidak memikirkan hal lain, selain rasa nikmad dan berlomba memasok oksigen, mendesah sebegitu merdunya, menahan nikmad yang teramat.
***
Tubuh mereka sudah terlepas dari penyatuan itu, Boy tampak masih mengatur nafas begitupun Rya. Keringat-keringat itu terlihat mengkilap ditubuh mereka masing-masing, hasil dari acara spektakuler yang baru saja usai mereka lakoni.
"Capek sayang?" tanya Boy yang masih terengah.
"Mayan.." jawab Rya yang juga terengah.
"Lu nyesel gak sih, ngelakuin ini sama gue?" tanya Boy lagi. Kali ini lelaki itu meringkuk, menghadapkan tubuhnya pada Rya yang sedang terlentang.
"Kenapa nanya gitu?" Rya malah balik bertanya.
"Nggak kenapa-napa.. Cuma.. satu hal yang harus lu tau, gue bisa ngelakuin ini bukan cuma karena gue nafsu doang. Gue ngelakuin ini dengan hati, dengan penuh kasih sayang.." ujar Boy, dan wanita sisampingnya itu hanya mengulas senyuman.
"Gue juga gitu, hasrat gue yang ngebiarin ini semua terjadi.." ujar Rya.
"Gue sayang banget sama elu." ucap Boy sambil melingkarkan tangan diperut Rya.
"Gue juga sayang banget sama elu." ucap Rua sambil menoleh menatap Boy.
Pasangan itu benar-benar dimabuk cinta, mereka menganggap apa yang sudah mereka lakukan itu adalah wajar. Mereka bisa menyalurkan energi cinta itu dalam sebuah penyatuan. Saat tubuh mereka menyatu, saat kulit mereka saling bersentuhan. Mereka berlindung dibalik cinta yang mereka sebut.
"Jangan pernah tinggalin gue.." ucap Rya.
"Gue gak akan pergi, kecuali elu yang ninggalin gue." ucap Boy. "Dan sekalipun elu pergi, gue akan selalu ngejar elu.. karena elu cuma buat gue, elu cuma milik gue.."
__ADS_1
Mereka saling menatap dan tersenyum, kemudian menyatukan bibir mereka. Saling mengecup dan menghisap, sebagai penutup acara menakjubkan yang baru saja usai.